Tolak Kedatangan Panglima Militer Israel, Warga Maroko Turun ke Jalan

Tolak Kedatangan Panglima Militer Israel, Warga Maroko Turun ke Jalan

NewsINH, Rabat – Kunjungan Kepala Staf Tentara pendudukan Israel, Aviv Kochavi ke Maroko mendapat penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat dan puluhan aktivis hak asasi manusia (HAM) setempat.

Dikutip dari sindonews.com, puluhan aktivis HAM berdemonstrasi di depan gedung parlemen Maroko di ibu kota Rabat untuk memprotes kunjungan Kepala Staf tentara pendudukan Israel.

Ini adalah kunjungan publik pertama dan akan berlangsung selama tiga hari. Protes itu diserukan oleh Kelompok Aksi Nasional untuk Palestina yang sebelumnya populer menentang normalisasi antara Maroko dan negara pendudukan itu.

Demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk kunjungan dan normalisasi. Menurut kepala Observatorium Maroko melawan Normalisasi, Ahmed Wehman, protes tersebut mewakili “kutukan atas kunjungan penjahat perang,” yang dia katakan, menumpahkan darah ribuan orang Lebanon dan Arab Palestina.”

“Tempatnya (Kochavi) adalah di pengadilan sehingga keadilan dapat berbicara dengannya, dan dia akan dihukum atas apa yang telah dia lakukan dengan tangannya, yang berlumuran darah orang tak bersalah,” ujarnya seperti dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (19/7/2022).

Kochavi tiba di Maroko sebagai bagian dari kerangka untuk memperkuat kerja sama militer dan keamanan antara Tel Aviv dan Rabat, yang mulai terbentuk pada April 2020. Dia diperkirakan akan bertemu dengan pejabat senior di lembaga militer di Maroko.

Seperti dilaporkan Reuters, perjalanan Kochavi telah dipamerkan oleh Israel sebagai bagian dari kerja sama pertahanan yang muncul dengan negara Afrika Utara itu. Belakangan, Rabat juga telah berusaha untuk menengahi kondisi yang lebih baik bagi Palestina.

“Salah satu topik yang akan dibahas (di Maroko) minggu ini adalah berbagi pengetahuan, pelatihan – kemampuan untuk berlatih bersama dalam manuver bersama – pengembangan senjata, transfer pengetahuan dan mungkin juga persenjataan,” kata juru bicara militer Israel, Brigjen Ran Kochav mengatakan kepada Ynet TV.

Israel dan Maroko menandatangani nota kesepahaman keamanan pada akhir November tahun lalu selama kunjungan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz ke Rabat. Hubungan diplomatik kedua negara dilanjutkan kembali pada Desember 2020 setelah putus selama dua puluh tahun. Maroko membekukan hubungan setelah pecahnya intifada Palestina kedua pada tahun 2000.

Pemerintah di Maroko adalah rezim Arab keempat yang menormalkan hubungan dengan Israel sejak 2020, setelah Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Sudan. Mesir dan Yordania masing-masing menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1979 dan 1994.

 

Sumber: Sindonews/Middleeastmonitor