Sejarah

International Networking for Humanitarian (INH) adalah lembaga kemanusiaan yang tidak hanya fokus menyalurkan bantuan dari masyarakat untuk masyarakat secara amanah namun juga menjaring potensi kemanusiaan melalui berbagai program yang dibangun atas pesan damai untuk seluruh alam.
Dengan semangat kebersamaan, INH berkomitmen mengajak semua elemen masyarakat, lembaga, perusahaan, maupun pemerintah untuk meningkatkan peran sosial dalam menanggulangi krisis kemanusiaan yang selalu ada.

Sebagai sebuah badan yang baru berdiri, International Networking for Humanitarian (INH) disebut terbilang nekad. Pasalnya, di tengah maraknya lembaga bantuan kemanusiaan saat ini, INH memiliki mimpi besar untuk jauh melesat dan lebih cepat dalam memberikan bantuan kemanusiaan serta pendampingan sumber daya manusia.

Berawal dari obrolan dua aktivis internasional yang banyak menghabiskan hidupnya demi kemaslahatan banyak orang, lembaga kemanusiaan INH akhirnya secara sah berdiri pada 6 Juni 2018 melalui SK Kemenkumham no AHU-0007924.AH.01.07. tahun 2018 sebagai yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan.

Lahir nya INH juga tidak lepas dari pengalaman salah satu pendiri nya yang telah hidup selama lebih dari 8 tahun di wilayah konflik, Jalur Gaza, Palestina. Dari observasi yang dilakukan selama jangka waktu tersebut ditemukan banyak catatan atas kinerja berbagai organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut yang dirasa perlu untuk dibenahi.

Maka dari itu INH muncul untuk melakukan sejumlah inovasi dalam menjalankan berbagai misi kemanusiaan dengan mempertimbangkan faktor efektivitas dan efisiensi kinerja di lapangan.

Sebagaimana diawali dengan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina yang menjadi perhatian warga Indonesia, INH juga mendatangkan dua tokoh Palestina yang bisa menginspirasi perjuangan rakyat Gaza melawan penjajahan.

Salah satunya adalah imam Masjid di Gaza Tengah dan aktivis muslimah yang datang ke Indonesia selama beberapa waktu untuk memberikan informasi yang tepat tentang situasi dan kondisi Gaza.

Tidak hanya aktivis, para praktisi kemanusiaan lainnya pun berdatangan dan bergabung dengan lembaga kemanusiaan ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda namun memiliki misi yang sama, mulai dari pengusaha, pejabat, jurnalis, bahkan mahasiswa. Tidak hanya itu, aktivis luar negeri pun tertarik dan bergabung di lembaga ini.