Tembakan Gas Air Mata, Israel Hancurkan Dua Rumah di Tepi Barat

Tembakan Gas Air Mata, Israel Hancurkan Dua Rumah di Tepi Barat

NewsINH, Tepi Barat – Pasukan Pendudukan Israel membuldoser dua rumah milik warga Palestina di kota Jalbun, yang berbasis di sebelah timur Jenin di Tepi Barat yang Diduduki.

Dilansir dari Middleeastmonitor, Kamis (3/11/2022) sejumlah tentara Israel bersenjata lengkap menembakkan peluru tajam dan peluru karet, bom gas serta bom suara untuk membubarkan warga Palestina yang memprotes pembongkaran rumah.

Ketua Dewan Desa Jalbun, Ibrahim Abul-Rub, mengatakan dentuman suara tabung gas air mata sempat merobekan telinganya, sejumlah korban pun terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Dia berkata, pasukan Israel mengendarai dua buldoser militer ke desa, di mana mesin-mesin alat berat itu menghancurkan sebuah rumah seluas 200 meter persegi yang sedang dibangun, milik Khaled Abul-Rub dan sebuah rumah seluas 120 meter persegi milik Amir Abu Seif.

Dia menambahkan bahwa pembongkaran rumah Abu Seif mengakibatkan perpindahan lima anggota keluarganya dan mencatat bahwa rumah-rumah tersebut berdekatan dengan tembok apartheid Israel yang membentang dari pos pemeriksaan Salem ke desa.

Kebijakan pembongkaran rumah dan penghancuran properti lainnya yang dipraktikkan secara luas oleh Israel menargetkan seluruh keluarga Palestina. Pembongkaran tersebut dianggap sebagai hukuman kolektif ilegal dan merupakan pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional.

Pembongkaran rumah-rumah Palestina diperintahkan dengan dalih bahwa mereka tidak memiliki izin bangunan yang diperlukan. Warga Palestina di Area C  sebuah wilayah yang di bawah kesepakatan Oslo berada di bawah kendali penuh Israel mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan izin bangunan.

Sementara itu, Rezim Zionis menyetujui pembangunan ribuan unit perumahan di dalam pemukiman ilegal yang dibangun di atas tanah Palestina yang diduduki di daerah tersebut.

Izin bangunan dikenakan dengan harga yang terlalu tinggi dan tidak terjangkau bagi sebagian besar warga Palestina, langka tersebut disinyalir untuk menciptakan celah hukum bagi Israel untuk mencaplok lebih banyak tanah dan membuat warga Palestina dalam keadaan tertekan dan tak berdaya.

 

Sumber: Middleeastmonitor