Tanpa Perawatan Medis, Anak-anak yang Diamputasi di Gaza Berisiko Alami Pembusukan

Tanpa Perawatan Medis, Anak-anak yang Diamputasi di Gaza Berisiko Alami Pembusukan

NewsINH, Gaza – Sudah tiga bulan militer Israel melakukan serangan besar-besaran di Jalur Gaza, Palestina. Tak hanya menelan banyak korban jiwa, dan merusak bangunan rumah dan fasilitas publik lainnya. Krisis medis di wilayah tersebut juga sangat memprihatinkan lantaran banyak rumah sakit yang rusak dan lumpuh total tak bisa melayani kesehatan.

Korban yang mendirita luka di jalur Gaza terpaksa hanya mendapatkan perawatan medis seadaanya dan jauh dari kata layak, seperti halnya yang dialami bocah berusia sebelas tahun yang bernama Noor.

Kaki kiri Noor hampir seluruhnya robek ketika rumahnya di kamp pengungsi Jabalia, Gaza, terkena bom Israel pada bulan Oktober lalu. Sekarang kaki kanannya, yang dipasangi batang logam berat dan empat sekrup yang dibor ke tulang, mungkin harus diamputasi.

“Ini sangat menyakitkan bagi saya. Saya khawatir mereka harus memotong kaki saya yang lain,” katanya dari ranjang rumah sakit, sambil menatap alat fiksasinya yang kikuk.

“Saya dulu berlari dan bermain, saya sangat bahagia dengan hidup saya, tapi sekarang ketika saya kehilangan kaki, hidup saya menjadi jelek dan saya sedih. Saya harap saya bisa mendapatkan anggota tubuh palsu.” kata Noor dikutip dari Middleeastmonitor, Senin (8/1/2024).

Di Gaza yang terkena dampak bom, generasi anak-anak yang diamputasi bermunculan ketika serangan balasan Israel sejak 7 Oktober telah menyebabkan korban luka ledakan dan remuk ketika senjata peledak menghancurkan blok perumahan bertingkat tinggi yang padat.

Pihak berwenang Israel sebelumnya mengatakan bahwa mereka berupaya meminimalkan kerugian terhadap warga sipil, namun mereka menggunakan ‘bom bodoh’ untuk menyerang Gaza, yang tidak terarah dan tidak pandang bulu.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan, para dokter dan pekerja bantuan mengatakan sistem medis yang runtuh di Gaza tidak tepat untuk memberikan anak-anak perawatan lanjutan yang rumit yang mereka butuhkan untuk menyelamatkan tulang mereka yang terpotong dan masih tumbuh. Hanya 30 persen petugas medis pra-konflik yang bekerja karena pembunuhan, penahanan dan pemindahan.

Lebih dari 1.000 anak telah menjalani amputasi kaki, terkadang lebih dari satu kali atau pada kedua kaki, pada akhir November, menurut badan anak-anak PBB UNICEF, dalam konflik yang menurut otoritas kesehatan Gaza hampir seperempat dari korban cedera terjadi pada anak-anak.

Kebersihan yang buruk dan kurangnya obat-obatan menyebabkan lebih banyak komplikasi dan amputasi pada cedera yang ada, beberapa di antaranya mungkin tidak dapat diselamatkan, kata para dokter.

“Banyak anggota tubuh yang tampaknya telah diselamatkan, memerlukan amputasi. Dan banyak oraang diamputasi dan anggota tubuh yang kami pikir telah diselamatkan mungkin masih akan meninggal akibat konsekuensi jangka panjangnya,” kata Dr. Chris Hook, seorang dokter pengobatan darurat Inggris di badan amal medis MSF yang kembali dari Gaza pada akhir Desember .

Membusuknya bagian tubuh

Staf di Rumah Sakit Eropa di Gaza tempat Noor dirawat, yang berkapasitas tiga kali lipat, tidak dapat memberikan anggota tubuh baru yang ia impikan. Bahkan obat pereda nyeri untuk membantu orang yang diamputasi karena nyeri kronis semakin menipis, kata staf.

“Saya berusaha semaksimal mungkin untuk membuat segalanya lebih mudah bagi mereka sebagai perawat, tapi apa pun yang Anda lakukan, mereka memiliki masalah psikologis yang parah, mereka merasa tidak lengkap dengan banyak rasa sakit,” kata perawat Wafa Hamdan.

Pusat prostetik utama di wilayah tersebut, Rumah Sakit Hamad yang didanai Qatar di Kota Gaza, ditutup beberapa minggu lalu setelah diserang oleh Israel, kata otoritas kesehatan Gaza. Unit juru bicara militer Israel tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai Rumah Sakit Hamad.

Anak-anak yang diamputasi akibat perang akan memerlukan puluhan operasi pada anggota tubuh mereka saat mereka mencapai usia dewasa karena tulangnya terus tumbuh, kata para ahli.

Namun bahkan sebelum konflik terjadi, terdapat kekurangan ahli bedah vaskular dan plastik, kata petugas medis, dan otoritas kesehatan Palestina mengatakan lebih dari 300 petugas kesehatan telah terbunuh sejak saat itu.

Namun, Noor, yang kaki kanannya mungkin masih utuh, lebih beruntung dibandingkan beberapa anak yang anggota tubuhnya diamputasi dengan cepat karena kurangnya waktu atau keahlian medis, terkadang tanpa obat bius.

Juru bicara UNICEF James Elder mengatakan dia melihat seorang anak yang kaki kirinya terluka mulai membusuk karena terjebak di dalam bus selama lebih dari tiga hari akibat penundaan pos pemeriksaan militer.

Unit juru bicara militer Israel mengatakan diskusi operasional diadakan untuk mengambil pelajaran langsung dari insiden tersebut dan akan diperiksa lebih lanjut.

Meskipun otoritas kesehatan Gaza tidak memiliki penghitungan resmi, para dokter dan pekerja bantuan mengatakan angka UNICEF yang berjumlah 1.000 akurat untuk dua bulan pertama konflik, namun kemungkinan telah jauh terlampaui sejak saat itu, sehingga membuat tingkat amputasi di Gaza sangat tinggi dibandingkan dengan konflik dan bencana lainnya.

 

Sumber: Memo