Tak Berperikemanusiaan, Militer Israel Bom RS di Gaza Ratusan Orang Meninggal Dunia

Tak Berperikemanusiaan, Militer Israel Bom RS di Gaza Ratusan Orang Meninggal Dunia

NewsINH, Gaza – Tindakan brutal dan tak berperikemanusiaan kembali dilakukan oleh militer Israel. Ratusan warga sipil Palestina di Gaza meninggal dunia setelah bom meledak di Rumah Sakit (RS) al-Ahli al-Arabi atau yang dikenal sebagai RS Babtis, Selasa (17/10/2023) malam waktu setempat.

Dilansir dari CNBC, Rabu (18/10/2023). Insiden itu merupakan kematian terbesar di wilayah jalur Gaza yang diblokade tersebut dalam lima perang antara pasukan pejuang kemerdekaan Palestina yakni Hamas dan Israel sejak militan mengambil alih wilayah tersebut pada 2007 silam.

Kementerian Kesehatan Gaza, yang dijalankan oleh Hamas, mengatakan setidaknya 500 orang tewas pada Selasa (17/10/2023) malam dalam serangan udara Israel terhadap al-Ahli al-Arabi, yang juga dikenal sebagai rumah sakit Baptis. Juru bicara pertahanan sipil Gaza menyebutkan jumlah korban tewas sekitar 300 orang.

Pertumpahan darah di rumah sakit tersebut terjadi 11 hari setelah perang baru antara Israel dan kelompok militan Palestina yang terus meningkat menjelang kunjungan Joe Biden ke wilayah tersebut, sehingga mempersulit upaya AS untuk menghentikan konflik yang meluas di Timur Tengah.

Militer Israel dilaporkan mengatakan penyelidikan awal menunjukkan bahwa ledakan itu disebabkan oleh kegagalan peluncuran roket Hamas, sebelum mengatakan bahwa itu adalah akibat dari serangan roket Jihad Islam Palestina. Jihad Islam membantah tuduhan Israel, dan skala ledakan tampaknya berada di luar kemampuan kelompok militan tersebut.

Rekaman yang disiarkan dari lapangan oleh Al Jazeera menunjukkan api besar melanda gedung bertingkat itu, dengan banyak mayat, bercak darah, dan puing-puing berserakan di mana-mana.

Rumah sakit milik gereja Anglikan itu dilaporkan diserang tanpa peringatan sebelumnya. Sebelumnya, rumah sakit tersebut terkena serangan roket pada Sabtu dalam serangan yang melukai empat staf medis.

Rumah sakit tersebut diserang sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Tempat itu penuh dengan orang-orang yang terluka dalam serangan Israel, serta warga sipil yang mencari perlindungan, mereka percaya bahwa rumah sakit lebih aman daripada rumah mereka setelah serangan Israel tanpa henti yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.

“Kami sedang melakukan operasi di rumah sakit, terjadi ledakan kuat, dan langit-langit ruang operasi runtuh. Ini adalah pembantaian,” kata dokter Ghassan Abu Sittah, dikutip The Guardian.

“Tidak ada yang bisa membenarkan serangan mengejutkan terhadap rumah sakit dan banyak pasien serta petugas kesehatan, serta orang-orang yang mencari perlindungan di sana. Rumah sakit bukanlah sasarannya. Pertumpahan darah ini harus dihentikan. Cukup sudah.”

Lebih dari 300 korban dibawa dengan ambulans dan mobil pribadi ke rumah sakit utama Kota Gaza, al-Shifa, yang sudah kewalahan menangani korban luka akibat serangan lainnya. Orang-orang yang terluka tergeletak di lantai berlumuran darah, menjerit kesakitan

“Kami memasukkan lima tempat tidur ke dalam satu ruangan kecil. Kami memerlukan peralatan, kami memerlukan obat-obatan, kami memerlukan tempat tidur, kami memerlukan anestesi, kami memerlukan segalanya,” direktur al-Shifa, Mohammed Abu Selmia, mengatakan kepada Associated Press. “Saya pikir sektor medis di Gaza akan runtuh dalam beberapa jam.”

Dokter Ziad Shehadah mengatakan kepada Al Jazeera yang terjadi sangat buruk karena orang-orang tersebut, semuanya adalah warga sipi.

“Orang-orang meninggalkan rumah mereka karena berpikir bahwa mereka lebih berbahaya dan mereka pindah ke sekolah dan rumah sakit kami agar aman. Dan dalam satu menit, mereka semua terbunuh di rumah sakit,” tuturnya.

Badan-badan bantuan dan pemerintah di seluruh dunia dengan cepat mengutuk pemboman tersebut sebagai kejahatan perang.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menuntut perlindungan segera terhadap warga sipil dan layanan kesehatan di wilayah Palestina.

“WHO mengutuk keras serangan terhadap Rumah Sakit Al Ahli Arab,” cuitnya. “Laporan awal menunjukkan ratusan kematian dan cedera. Kami menyerukan perlindungan segera terhadap warga sipil dan layanan kesehatan.”

Canon Richard Sewell, dekan St George’s College yang dikelola Anglikan di Yerusalem, mengatakan: “Bencana: rumah sakit kami, rumah sakit Ahli Arab, terkena serangan langsung dari rudal Israel. Laporan awal menyebutkan ratusan perempuan dan anak-anak tewas.

“Ini adalah pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil yang rentan. Bom-bom itu harus dihentikan sekarang. Tidak ada pembenaran untuk hal ini.”

Kementerian luar negeri Turki mengutuk apa yang mereka sebut sebagai “serangan biadab”, sementara Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menggambarkannya sebagai “mengerikan dan sama sekali tidak dapat diterima”.

Hamas, yang memicu perang terbaru dengan serangan pekan lalu yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Israel, menyebut serangan di rumah sakit pada Selasa sebagai “pembantaian yang mengerikan”. Dikatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sebagian besar korban adalah keluarga pengungsi, pasien, anak-anak, dan wanita.

Sebelum ledakan di al-Alhi, serangan Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 2.778 orang dan melukai 9.700 orang, menurut kementerian kesehatan Gaza. Hampir dua pertiga dari korban tewas adalah anak-anak.

Presiden AS, Joe Biden, akan tiba di Tel Aviv pada hari Rabu untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Israel, Palestina, Yordania, dan Mesir di tengah upaya pemerintahannya untuk mengurangi meningkatnya ancaman perang regional.

Namun, Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, yang menguasai sebagian Tepi Barat yang diduduki, membatalkan rencana pertemuan dengan Biden sebagai protes atas serangan rumah sakit tersebut, dan menyatakan tiga hari berkabung.

Dalam sebuah pernyataan, Abbas mengatakan: “Apa yang terjadi adalah genosida. Kami menyerukan komunitas internasional untuk segera turun tangan menghentikan pembantaian ini. Keheningan tidak lagi dapat diterima.”

Namun, Abbas sangat tidak populer di kalangan masyarakat Palestina, banyak di antara mereka yang melihatnya hanya sebagai subkontraktor untuk keamanan Israel setelah 16 tahun menjabat tanpa pemilu.

Setelah berita tentang serangan rumah sakit menyebar, ratusan orang membanjiri jalan-jalan di kota-kota besar Tepi Barat termasuk Ramallah, pusat Otoritas Palestina, di mana para pengunjuk rasa melemparkan batu ke arah pasukan keamanan Palestina yang membalas dengan granat kejut. “Rakyat menginginkan jatuhnya presiden,” teriak para pengunjuk rasa.

 

Berbagai Sumber