Tak Ada Suplai Bahan Bakar, Ini Daftar RS di Gaza Yang Berhenti Beroperasi

Tak Ada Suplai Bahan Bakar, Ini Daftar RS di Gaza Yang Berhenti Beroperasi

NewsINH, Gaza Hampir satu bulan serangan militer Israel di Jalur Gaza berlangsung, selain memakan banyak korban jiwa maupun luka-luka. Serangan udara militer zionis Israel juga mengakibatkan sejumlah sarana dan prasaran publik mengalami kerusakan yang sangat parah bahkan diantaranya tak lagi berfungsi seperti sedia kala.

Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS). Sejak serangan Israel berlangsung pada minggu pertama bulan Oktokber silam. Banyak fasilitas kesehatan seperti RS dan klinik kesehatan diwilayah yang telah di blokade sejak 2005 silam itu mengalami kerusakan dan saat ini dinyatakan tak lagi berfungsi untuk melayani keperluan masyarakat Gaza.

Umumnya RS di jalur Gaza berhenti beroperasi dan tak lagi melayani kesehatan warga Gaza, Palestina lantaran tak ada lagi suplay bahan bakar untuk penunjang generator yang merupakan kebutuhan mendasar disejumlah rumah sakit tersebut.

Berikut daftar rumah sakit yang berhenti beroperasi sejak terjadinya pertempuran dahsyat di Jalur Gaza, Palestina, seperti di kutip dari Gazamedia, Kamis (2/11/2023):

Rumah Sakit Turki
Rumah Sakit Beit Hanoun
Rumah Sakit Al-Wafa
Rumah Sakit Pelayanan Umum
Rumah Sakit Teman Pasien
Rumah Sakit Al Karama
Rumah Sakit Haifa
Rumah Sakit Mata Internasional
Rumah Sakit Khusus Muslim
Rumah Sakit Al Durra
Rumah Sakit Hamad
Rumah Sakit Dar es Salaam
Rumah Sakit Al-Yaman Al-Saeed
Rumah Sakit Kristen St. John
Rumah Sakit Al Hayat
Rumah Sakit Jaffa

Sementara itu, dari 52 puskesmas yang ada di jalur Gaza, saat ini akibat agresi Israel  32 puskesmas dinyatakan berhenti beroperasi. Dunia internasional termasuk Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi gencatan senjata terkait konflik perang di Gaza.

Resolusi PBB menyerukan gencatan senjata kemanusiaan antara pasukan Israel dan militan Hamas di Gaza, Palestina. Resolusi gencatan senjata kemanusiaan di Gaza tersebut diajukan oleh Yordania atas nama negara Arab dalam sidang, Jumat (27/10/2023) silam. Terdapat sebanyak 120 suara mendukung, 14 menolak, dan 45 abstain terhadap resolusi Majelis Umum PBB tersebut.

Meski PBB telah mengesahkan kesepakatan resolusi tersebut, fakta dilapangan saat ini masih bergejolak. Bahkan baru-baru ini setelah keputusan PBB diputuskan. Militer Israel menjatuhkan bom di kamp pengungsi Jabalia yang banyak menelan banyak korban jiwa.

Tak tanggung-tanggung sebanyak 195 jiwa dikabarkan meninggal dunia dalam persitiwa mematikan tersebut. Ada sekitar 120 orang yang dinyatakan hilang dan sedikitnya 777 orang  mengalami luka-luka.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut serangan Israel di Jabalia ini mengerikan, sedangkan Komisaris Tinggi HAM PBB dapat menganggapnya sebagai kejahatan perang.

Kementerian Kesehatan Gaza pun mengecam serangan Israel ke kamp pengungsi Jabalia.

“Ini pembantaian yang dilakukan Israel,” ungkap kementerian itu, dikutip dari kantor berita AFP.

AFP melaporkan, suara tangis memenuhi udara berdebu ketika para relawan memindahkan balok beton dan besi-besi di kamp pengungsi Jabalia untuk mencari jasad dan korban selamat.

Penduduk kamp Jabalia bernama Ragheb Aqal (41) menyamakan ledakan yang terjadi akibat serangan Israel kali ini dengan gempa bumi.

Dia lalu berbicara tentang kengeriannya melihat rumah-rumah hancur, banyak orang tertindih reruntuhan, serta banyak korban lainnya yang terluka. Kamp pengungsi Jabalia dihuni 116.000 orang di wilayah seluas 1,4 kilometer persegi. (***)