Ditahan dalam Sel Isolasi, Pemuda Palestina Alami Gangguan Kejiwaan

Ditahan dalam Sel Isolasi, Pemuda Palestina Alami Gangguan Kejiwaan

NewsINH, Tepi Barat – Otoritas pendudukan Israel masih melakukan penahanan terhadap Ahmed Manasra (20) salah seorang pemuda Palestina yang menderita sakit mental akibat tekanan dan luka tembak di sel isolasi di Penjara Eshel, Klub Tahanan Palestina (PPC).

Dilansir dari Middleeastmonitor, Jumat (14/10/2022) Ahmed Manasra sudah dipenjarakan ketika dia baru berusia 13 tahun. Pada 16 Agustus silam, pengadilan Israel di Beer Sheba memperpanjang isolasinya, kata pengacaranya Khaled Zabarqa, meskipun kondisi psikologisnya kritis.

“Atas permintaan Layanan Penjara Israel, pengadilan memutuskan untuk menahan Manasra hingga 21 November. Dia pertama kali dipindahkan ke sel isolasi pada 21 Mei,” kata Khaled

Menurutnya, tiga puluh enam psikolog dan ahli lainnya telah melakukan negosiasi dengan presiden negara pendudukan dan meminta untuk membebaskan Manasra segera karena kondisi kesehatannya yang terus memburuk. Namun, langkah ini belum kunjung membuahkan hasil.

Sementara itu, Maysoun Manasra orang tua dari Ahmed mengatakan bahwa anaknya telah menderita gangguan psikologis selama dua tahun. Dia menjelaskan bahwa anaknya berusia 13 tahun ketika dia dituduh menikam pemukim Israel tetapi, dia bersikeras, dia tidak memiliki kemampuan untuk menikam siapa pun dan bahwa dia sedang bermain di jalan dan tidak menyadari bahwa sebuah insiden sedang berlangsung di dekatnya.

Maysoun Manasra mencatat bahwa pihak Israel juga melakukan pembunuhan terhadap saudara sepupunya di depan mata dan kepalanya sendiri.

“Sebagai orang tua saya mendorong dia untuk melarikan diri dalam ketakutan sampai dia menerima pukulan di kepalanya dari pasukan pendudukan,” kisahnya.

Dia meminta pihak berwenang Israel untuk membebaskannya melalui sebuah klip video yang telah beredar luas di media sosial. “Anak saya menginginkan saya, dia menempel di kaca [selama kunjungannya], dan saya katakan padanya saya berharap saya bisa membawanya keluar. Saya memberinya pelukan udara saat dia menangis, dan tentara memprovokasi kami secara maksimal, berteriak pada ayahnya bawah aku untuk pergi.” harapnya.

 

Sumber: Middleeastmonitor

Customer Support kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!