Sejak Genosida Israel di Gaza, 6.050 Pelajar di Gaza dan Tepi Barat Dibunuh IDF

Sejak Genosida Israel di Gaza, 6.050 Pelajar di Gaza dan Tepi Barat Dibunuh IDF

NewsINH, Gaza – Kementerian Pendidikan Palestina mengungkapkan sebanyak 6.050 pelajar Palestina telah dibunuh oleh pasukan penjajah Israel (IDF) di Gaza dan Tepi Barat, jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak terjadinya perang genosida Israel sejak 7 Oktober 2023 silam.

Tak hanya itu, ratusan tenaga pengajar dan staff sekolah juga syahid dalam serangan brutal Israel ke sejumlah wilayah Palestina terutama di Jalur Gaza.

“Selain yang syahid, 10.219 siswa juga terluka. 5.994 syuhada terbunuh di Gaza, dan 9.890 orang terluka. Selain korban jiwa di Tepi Barat–56 pelajar gugur dan 329 luka-luka–105 lainnya ditahan oleh pasukan penjajah,” tulis laporan Pusat Informasi Palestina.

Kementerian menambahkan bahwa 266 guru dan administrator sekolah telah syahid dan 973 lainnya terluka di Gaza. Sementara enam orang terluka dan setidaknya 73 orang ditangkap di Tepi Barat yang diduduki.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa 351 sekolah negeri dan 65 sekolah yang dikelola UNRWA telah dibom dan dirusak di Jalur Gaza; 111 di antaranya rusak berat, dan 40 hancur total. Kurang dari 60 sekolah diserang dan dirusak di Tepi Barat.

Para pejabat telah mengkonfirmasi bahwa 620 ribu siswa di Jalur Gaza kehilangan hak pendidikan karena genosida yang sedang berlangsung di wilayah kantong tersebut. Banyak dari mereka kini menderita trauma psikologis dan menghadapi kondisi kehidupan dan kesehatan yang sangat sulit.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa sejak dimulainya serangan Israel di wilayah tersebut telah meningkat menjadi 32.916 warga Palestina, dengan 75.494 orang terluka. Lebih dari 72 persen korbannya adalah perempuan dan anak-anak.

 

Sumber: Republika

Biadab, 3 Warga Palestina Dibunuh Pasukan Israel di Tepi Barat

Biadab, 3 Warga Palestina Dibunuh Pasukan Israel di Tepi Barat

NewsINH, Tepi Barat – Pasukan Israel semakin bengis dan keji. Tak hanya wilayah Jalur Gaza yang diserang mereka juga membunuh tiga warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Dua orang meninggal di Dura dekat Hebron, dan satu orang lagi meninggal di dekat Tulkarem.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, setidaknya tiga warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki. Dua warga Palestina ditembak pada hari Senin saat terjadi konfrontasi dengan militer Israel di kota Dura dekat Hebron di Tepi Barat bagian selatan,

“Mohammed Hasan Abu Sabaa, 22, meninggal setelah dia ditembak tepat di jantungnya oleh pasukan Israel,” kata Kementrian Kesehatan seperti di kutip dari Wafa, Selasa (16/1/2024).

Sementara itu, Ahed Mahmoud Mohammed, 23, meninggal setelah dia ditembak di kepala, kata direktur Rumah Sakit Pemerintah Dura. Sepuluh orang lainnya diangkut ke rumah sakit dengan luka tembak.

“Dalam insiden terpisah, Fares Khalifa, 37, ditembak mati oleh pasukan Israel di dekat Tulkarem di bagian utara Tepi Barat,” jelasnya.

Militer Israel mengatakan pasukannya melepaskan tembakan ke arah sekitar 100 warga Palestina yang ikut serta dalam protes di mana batu bata dan bom api dilemparkan ke arah tentara. Pihak militer mengatakan pria yang tertembak itu melemparkan bom api, namun tidak memberikan bukti atas tuduhan tersebut.

Sejak perang di Jalur Gaza yang terkepung dimulai pada tanggal 7 Oktober, Tepi Barat telah mengalami peningkatan kekerasan dan serangan oleh pasukan Israel yang belum pernah terjadi sejak Intifada kedua pada tahun 2000 hingga 2005.

Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), pasukan Israel telah membunuh 30 warga Palestina, termasuk tujuh anak-anak, di Tepi Barat dalam 15 hari pertama tahun ini.

Tahun lalu, 507 warga Palestina terbunuh, angka kematian tahunan tertinggi sejak OCHA mulai mencatat korban jiwa pada tahun 2005.

 

Sumber: Wafa

Kemrosotan HAM di Tepi Barat, PBB Desak Israel Akhiri Kekerasan Terhadap Palestina

Kemrosotan HAM di Tepi Barat, PBB Desak Israel Akhiri Kekerasan Terhadap Palestina

NewsINH, Jenewa – Organisasi dunia Perserikatan Bangsa atau PBB merilis laporan terbaru terkait “kemerosotan pesat” hak asasi manusia di daerah pendudukan Tepi Barat. PBB mendesak pihak berwenang Israel segera mengakhiri kekerasan terhadap warga Palestina yang ada di kota-kota Tepi Barat.

Dikutip dari republika, Rabu (03/01/2024). Laporan Komisioner Tinggi untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebutkan sejak perang Israel-Hamas pecah 7 Oktober lalu, sudah 300 warga Palestina di Tepi Barat terbunuh. Sebagian besar kematian terjadi selama operasi pasukan keamanan Israel atau konfrontasi dengan mereka.

Setidaknya 105 kematian dapat dikaitkan dengan operasi Israel yang melibatkan serangan udara dan taktik militer lainnya di kamp pengungsi atau daerah padat penduduk lainnya. OHCHR mengatakan setidaknya delapan orang dibunuh pemukim Yahudi.

Juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Tal Heinrich, menyebut laporan “cukup konyol”. “Ini benar-benar meremehkan ancaman keamanan besar terhadap warga Israel yang muncul dari Yudea dan Samaria,” kata Heinrich yang merujuk Tepi Barat dengan nama-nama Ibrani dalam Alkitab.

“Ya, kami menangkap ratusan tersangka teroris di wilayah itu dan kami akan terus melakukan apa pun untuk menjaga keamanan kami,” tambahnya.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk mengatakan penggunaan kekuatan yang tidak perlu atau tidak proporsional terhadap warga Palestina di Tepi Barat “sangat meresahkan”.

“Saya meminta Israel segera mengambil langkah yang jelas dan efektif untuk mengakhiri kekerasan pemukim terhadap populasi Palestina, untuk menyelidiki semua insiden kekerasan yang dilakukan pemukim dan pasukan keamanan Israel, untuk memastikan keefetivitas perlindungan pada komunitas Palestina,” katanya.

OHCHR mengatakan mereka juga mencatat penangkapan sewenang-wenang, tanpa pengadilan dan kasus-kasus penyiksaan dan segala bentuk perlakuan buruk terhadap tahanan Palestina. Komisioner itu mengatakan sejak 7 Oktober lalu sudah 4.785 warga Palestina ditangkap.

“Beberapa ditelanjangi, ditutup matanya dan diikat selama berjam-jam dengan borgol dan kaki mereka diikat, sementara tentara Israel menginjak kepala dan punggung mereka, meludahi mereka, membenturkan mereka ke dinding, mengancam, melecehkan, mempermalukan dan beberapa kasus dijadikan kekerasan berbasis gender dan seksual,” kata OHCHR dalam pernyataan di laporan tersebut, dikutip dari laman Reuters.

Israel mengatakan mereka beroperasi terhadap tersangka milisi di Tepi Barat. Israel juga mengklaim sudah meluncurkan penyelidikan terhadap kasus-kasus perlakuan buruk pada tahanan.

Angka kekerasan di Tepi Barat sudah berada di tingkat tertingginya dalam beberapa puluh tahun terakhir selama 18 bulan sebelum peristiwa 7 Oktober. Tapi konfrontasi semakin tajam setelah Israel menginvasi jalur Gaza.

 

Sumber: Republika

Keji, Pasukan Israel Tembak Kaki Bocah Palestina di Hebron

Keji, Pasukan Israel Tembak Kaki Bocah Palestina di Hebron

NewsINH, Hebron – Seperti tak pernah habis kisah kekejaman pasukan Israel terhadap warga Palestina. Pada Selasa (3/9/2023) pagi waktu setempat, pasukan pendudukan Israel menembak dan menahan seorang anak Palestina di pintu masuk kamp Al-Fawwar, di selatan kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki.

Koresponden kantor berita Palestina, Wafa mengatakan bahwa pasukan pendudukan menembakkan peluru ke arah Waseem Muhammad Nassar seorang bocah Palestina yang baru berusia 15 tahun, di pintu masuk Al-Fawwar. Waseem pun mengalami luka tembak di bagian kakinya.

Tak hanya menembak bocah tak berdosa itu, pasukan Zionis Israel juga membawa Waseem dan  menahannya.

Sementara itu di lembah Jordan, pasukan Israel menyita kendaraan milik seorang warga Palestina. Pasukan Israel menyerbu Khirbet al-Humma, di Lembah Yordan utara, dan menyita kendaraan milik Palestina, kata seorang aktivis setempat.

Mutaz Bsharat, seorang pejabat yang bertugas memantau aktivitas kolonial Israel di Lembah Yordan, mengatakan pasukan tentara Israel, didampingi anggota dewan pemukiman, menerobos masuk ke kawasan al-Humma dan menyita kendaraan milik warga setempat.

Ditempat terspisah, Pasukan pendudukan Israel juga menahan putra gubernur Yerusalem Otoritas Palestina (PA), Adnan Ghaith, dari kota Silwan, selatan kota Yerusalem yang diduduki.

Sumber lokal mengatakan bahwa pasukan pendudukan menahan Qusay Adnan Ghaith setelah memukulinya dan memindahkannya ke pusat penahanan.

 

Sumber : Wafa

Dijadikan Tempat Perayaan Sukkot, Israel Tutup Masjid Ibrahimi untuk Warga Muslim

Dijadikan Tempat Perayaan Sukkot, Israel Tutup Masjid Ibrahimi untuk Warga Muslim

NewsINH, Ramallah – Umat yahudi di Israel tengah merayakan haru raya Sukkot selama dua hari kedepan. Otoritas Israel menutup kembali Masjid Ibrahimi yang berada di Hebron, Tepi Barat, bagi umat Muslim, pada Senin (2/10/2023). Masjid bersejarah ini hanya dibuka bagi umat Yahudi Israel semata.

“Otoritas pendudukan Israel menutup Masjid Ibrahimi pada hari Senin dan Selasa karena Sukkot,” ujar Direktur Masjid Ibrahimi Ghassan Al-Rajabi saat diwawancara Anadolu Agency.

Al-Rajabi menambahkan, selama perayaan Sukkot, seluruh area Masjid Ibrahimi akan dibuka bagi warga Yahudi Israel. Menurut Al-Rajabi, dalam setahun, Israel menutup Masjid Ibrahimi bagi umat Muslim selama 10 hari. Hal itu dalam rangka peringatan hari raya Yahudi yang berbeda.

Al-Rajabi mengungkapkan, penutupan tersebut berada dalam kerangka pembagian ruang dan waktu yang berkelanjutan dari Masjid Ibrahimi. Selain Islam, Yahudi pun memuliakan dan mensucikan Masjid Ibrahimi. Hal itu karena masjid tersebut diyakini sebagai tempat pemakaman nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub.

Pada 1994, Israel membagi kompleks Masjid Ibrahimi untuk Muslim dan Yahudi. Langkah itu dilakukan setelah Yahudi esktremis Baruch Goldstein membantai 29 jamaah Palestina yang tengah salat di masjid tersebut. Pada Juli 2017, Komite Warisan Dunia UNESCO menetapkan Masjid Ibrahimi sebagai situs warisan dunia Palestina.

Terkait Hebron, wilayah tersebut dihuni oleh sekitar 200 ribu warga Palestina dan 700 pemukim Israel.

 

Sumber: Anadolu/Republika

Bahaya,…!!! Perlahan Israel Akan Kuasai Tepi Barat dari Palestina

Bahaya,…!!! Perlahan Israel Akan Kuasai Tepi Barat dari Palestina

NewsINH, Palestina – Lemahnya dukungan dunia international dalam memandang sengketa kawasan di Palestina dinilai menjadi pemicu Israel terus mengepakan sayapnya di negeri para nabi tersebut. Semakin hari wilayah Palestina di Tepi Barat semakin tergerus dan diambil alih oleh Israel.

Dilangsir dari republika, Jumat (15/9/2023), Wilayah Tepi Barat milik bangsa Palestina terus menerus digerogoti pemerintahan sayap kanan. Tidak tertutup kemungkinan Israel bakal mengambil langkah ekstrem dengan mencaplok Tepi Barat secara permanen. Jika hal itu terjadi, mimpi dua negara sebagai solusi perdamaian di Palestian hampir dipastikan tak akan terwujud.

Tepi Barat adalah satu dari dua wilayah utama Palestina yang diduduki selain Yerusalem Timur. Sementara wilayah Jalur Gaza masih dalam blokade permanen oleh Israel.

Komunitas internasional mengakui bahwa Tepi Barat semestinya adalah hak bangsa Palestina. Belakangan, Israel kian gencar melakukan tindakan-tindakan yang mengabaikan konsensus internasional tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu diam-diam telah mengambil sejumlah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memperkuat kendali Israel atas wilayah pendudukan Tepi Barat. Sedangkan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengambil alih kekuasaan baru atas wilayah pendudukan dalam perjanjian koalisinya dengan Netanyahu.

Smotrich bergerak cepat menyetujui ribuan pemukiman baru Yahudi, melegalkan pemukiman liar yang sebelumnya tidak sah, dan mempersulit warga Palestina untuk membangun rumah. Sebagai menteri pemerintah pertama yang mengawasi kehidupan sipil di Tepi Barat, peran Smotrich merupakan pengakuan bahwa pendudukan militer Israel selama 56 tahun tidak bersifat sementara tetapi permanen.

“Jika Smotrich mempertahankan posisi ini selama empat tahun, kita tidak akan bisa kembali lagi,” kata Ilan Paz, mantan kepala Administrasi Sipil Israel, sebuah badan militer yang mengawasi urusan sipil di Tepi Barat.

Netanyahu menawarkan konsesi besar kepada anggota parlemen yang propemukim seperti Smotrich untuk membentuk koalisi pemerintahannya tahun lalu. Perjanjian koalisi tersebut membentuk sebuah badan pemukim Israel baru, yang dipimpin oleh Smotrich, di dalam Kementerian Pertahanan untuk mengelola pembangunan Yahudi dan Palestina di 60 persen wilayah Tepi Barat yang dikuasai Israel.

“Ini semacam revolusi, pengalihan kekuasaan dari militer, dengan kewajiban hukumnya untuk mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat yang diduduki, kepada mereka yang hanya berkomitmen untuk kepentingan Israel,” kata pengacara hak asasi manusia, Michael Sfard.

Smotrich mengatakan, dia berupaya melipatgandakan populasi pemukim, membangun jalan dan lingkungan, serta menghapus perbedaan antara kehidupan warga Israel di Tepi Barat dan di wilayah Israel. Smotrich berharap bisa menghancurkan harapan kemerdekaan Palestina.

Sebagai menteri keuangan, Smotrich dapat menyalurkan dana pembayar pajak untuk proyek infrastruktur Tepi Barat. Anggaran Israel pada 2024 merupakan anggaran tertinggi sepanjang masa sebesar yaitu mencapai 960 juta dolar AS atau seperempat dari seluruh dana Kementerian Perhubungan. Dana ini digunakan untuk pembangunan jaringan jalan raya yang menghubungkan Israel dengan Tepi Barat.

Smotrich dan para pendukungnya melihat Tepi Barat sebagai tanah air orang-orang Yahudi sesuai dalam kisah yang tertulis di Taurat. Dia membayangkan sebuah negara tunggal yang membentang dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania.

“Kami merasa negara tidak pernah memprioritaskan kami karena tempat tinggal kami. Smotrich mengubah hal itu,” kata juru bicara Smotrich, Eitan Fuld.

Sekitar setengah juta pemukim tinggal di Tepi Barat, yang direbut Israel bersama dengan Yerusalem timur dan Gaza dalam perang Timur Tengah pada 1967. Komunitas internasional menganggap pemukiman tersebut ilegal.

Para ahli dan pejabat mengatakan, kebijakan Smotrich telah memperburuk penderitaan warga Palestina dan menambah keberanian para pemukim yang melakukan kekerasan. Kebijakan Smotrich juga menimbulkan kekacauan di dalam institusi militer Israel. Perluasan pemukiman baru-baru ini juga telah memperburuk hubungan pemerintahan Netanyahu dengan Gedung Putih.

“Smotrich mengambil alih Administrasi Sipil, satu-satunya alat yang dimiliki Israel untuk menenangkan keadaan. Tepi Barat akan meledak,” kata mantan komandan militer Tepi Barat Gadi Shamni.

Menurut data PBB, serangan pemukim telah melonjak lebih dari 30 persen tahun ini, dibandingkan 2022. Pemerintah Israel telah menyetujui pembangunan 13.000 unit pemukiman Yahudi dan melegalkan 20 pemukiman liar yang dibangun tanpa izin.

Di bawah Smotrich, pihak berwenang Israel terus melakukan pembongkaran bangunan milik Palestina yang dibangun tanpa izin. Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT), badan Israel yang mengurusi wilayah pendudukan mengakui, pada Juli mereka menolak lebih dari 95 persen permintaan izin Palestina.

Menurut kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem, penghancuran bangunan Palestina tahun ini sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu, yang merupakan jumlah pengrusakan terbesar setidaknya sejak 2006. Sementara itu, pihak berwenang Israel telah mengurangi upaya untuk mengevakuasi pemukiman liar.

“Ini adalah pemerintahan terbaik yang pernah kami miliki,” kata seorang pemukim, Shulamit Ben Yashar (32 tahun) dari pemukiman liar Asa’el di perbukitan gersang di selatan Hebron.

Demam renovasi memuncak di taman bermain Asa’el ketika para ibu menceritakan rencana mereka untuk menukar karavan bobrok dan generator yang rusak dengan beton dan jaringan listrik nasional Israel. Sementara tetangga mereka di Palestina menghadapi pengusiran oleh otoritas Israel dan peningkatan serangan dari pemukim ilegal Yahudi. Penduduk di daerah pedesaan mengatakan, Smotrich dan sekutunya telah memeras kehidupan komunitas mereka.

“Kami hampir tidak bisa bernapas,” kata seorang warga Palestina, Sameer Hammdeh (38 tahun).

Bulan lalu, dua ekor unta milik Hammdeh mati setelah tersandung kabel yang dipasang oleh pemukim Yahudi. Warga Palestina mengatakan, provokasi pemukim mencerminkan rasa impunitas yang ditanamkan oleh pemerintah.

Smotrich dan sekutunya berjanji untuk mempercepat laju pembangunan pemukiman. Pada Juli, pemerintah memangkas enam tahap persetujuan yang diperlukan untuk kemajuan pemukiman menjadi dua tahap yaitu melalui persetujuan Smotrich dan komite perencanaan.

“Hal ini memungkinkan untuk membangun lebih banyak lagi,” kata Zvi Yedidia Sukkot, anggota parlemen dari partai Zionis Religius Smotrich.

Partai tersebut telah mengusulkan alokasi 180 juta dolar AS untuk merenovasi perumahan pemukiman, termasuk membangun rumah sakit dan sekolah baru. Pihak berwenang sedang membangun dua jalan pintas baru yang bernilai jutaan dolar untuk mengalirkan pemukim Israel ke kota-kota Palestina.

Salah satu jalan mengitari Hawara, sebuah kota yang menjadi titik konflik di mana para pemukim membakar puluhan rumah dan mobil secara awal tahun ini menyusul penembakan mematikan terhadap dua pemukim. Saat itu, Smotrich mengatakan kota tersebut harus dihapus.

“Pemerintah kami akhirnya menyadari bahwa penarikan diri dari tanah adalah sebuah bentuk teror,” kata Rabbi Menachem Ben Shachar, seorang guru di seminari yeshiva yang baru dibangun di Homesh, salah satu dari empat pemukiman liar yang dievakuasi Israel pada 2005.

Anggota parlemen tahun ini mencabut undang-undang yang melarang pemukim mengunjungi situs tersebut. Lebih dari 50 siswa berdoa di yeshiva pada kunjungan baru-baru ini. Keputusan seperti itu telah meresahkan lembaga pertahanan Israel. Para pemukim mengatakan, pada Mei pasukan Israel mencoba menghentikan mereka mengangkut peralatan konstruksi berat untuk membangun yeshiva baru. Namun ketika Smotrich mendesak, pemerintah tiba-tiba memerintahkan pasukannya mengizinkan pemukim untuk membangun.

“Eselon politik memerintahkan eselon militer untuk tidak mematuhi hukum,” kata Nitzan Alon, pensiunan jenderal yang pernah memimpin wilayah Tepi Barat.

Militer dan COGAT menolak mengomentari insiden itu. Namun seorang pejabat keamanan, yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, intervensi Smotrich telah menghentikan beberapa rencana pembongkaran pemukiman liar.

Bulan lalu, tarik-menarik antara pendukung Smotrich dan orang-orang militer yang mengutamakan keamanan terungkap, ketika pihak berwenang Israel terekam sedang memompa semen ke sumur-sumur di selatan Hebron. Langkah ini secara permanen menutup sumber-sumber air Palestina di musim panas.

Rekaman itu menyebar di media sosial, dan COGAT tertangkap basah. COGAT berjanji bahwa setiap pembongkaran tangki air di masa depan akan diperiksa berdasarkan manfaatnya.”Pasukan Smotrich melewati semua batas. Mereka tidak peduli,” ujar Paz.

 

Sumber: Republika

Dukung Pejuang Kemerdekaan Palestina, Warga Gaza Demo di Perbatasan

Dukung Pejuang Kemerdekaan Palestina, Warga Gaza Demo di Perbatasan

NewsINH, Gaza – Sejumlah warga Palestina di jalur Gaza menggelar aksi berdemonstrasi di perbatasan Gaza dengan Israel untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dari kungkungan dan penindasan yang dilakukan oleh otoritas Israel.

Dilansir dari kantor berita Wafa, Kamis (14/9/2023),  tentara pendudukan melepaskan tembakan dan melukai beberapa warga Palestina saat menggelar aksi demonstrasi di perbatasan.  Pasukan pendudukan Israel melepaskan tembakan dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina yang berdemonstrasi di perbatasan utara Gaza dengan Israel.

Sedikitnya, lima orang terluka akibat peluru yang ditembakan dari senjata pasukan Israel, sementara itu beberapa orang lainnya mengalami pingsan karena menghirup gas air mata.

Sumber-sumber lokal mengatakan lima orang dirawat di Rumah Sakit Shifa, sebelah barat Kota Gaza, untuk perawatan akibat luka tembak.

Lusinan orang berdemonstrasi di dekat pagar perbatasan untuk mendukung pejuang kemerdekaan Palestina yang dipenjara di Israel dan sebagai protes terhadap perlakuan Israel terhadap para pejuang kemerdekaan, serta menentang pengepungan Israel selama 17 tahun yang diberlakukan di Jalur Gaza.

Sementara itu, gejolak memanas juga terjadi di kawasan Tepi Barat, pasukan pendudukan Israel menyerang pemuda Palestina di Yerusalem dan menahannya.

“Tiga pasukan pendudukan Israel bersenjata hari ini menyerang seorang pemuda Palestina di Gerbang Damaskus Yerusalem dan menahannya,” menurut para saksi.

Mereka mengatakan pasukan tersebut memukuli pemuda tersebut dengan kejam setelah memojokkannya ke dinding sambil menendang dan memukulinya, melukainya, dan kemudian membawanya pergi.

 

Sumber: Wafa

Israel Tutup Jalur Komersil dari Gaza ke Tepi Barat, Warga Palestina Makin Terjepit

Israel Tutup Jalur Komersil dari Gaza ke Tepi Barat, Warga Palestina Makin Terjepit

NewsINH, Gaza – Otoritas Israel menutup jalur komersil yang menghubungkan kawasan Jalur Gaza ke wilayah Palestina lainya di Tepi Barat. Penutupan ini makin membuat jutaan warga di Jalur Gaza terpojok dan diambang kemiskinan yang berkepanjangan.

Menanggapi hal tersebut, Federasi Umum Industri Palestina di Jalur Gaza dan Persatuan Kamar Dagang Jalur Gaza hari ini mengecam keras keputusan otoritas pendudukan Israel yang menutup Karm Abu Salem/Kerem Shalom yang merupakan jalur komersil untuk ekspor dari Jalur Gaza ke Tepi Barat, mengingat hukuman kolektiflah yang memperburuk penderitaan rakyat Jalur Gaza yang terkepung.

Waddah Bseiso, juru bicara Federasi Industri, mengatakan dalam konferensi pers yang diadakan tak lama setelah keputusan pendudukan Israel untuk menutup penyeberangan ekspor Gaza bahwa Federasi menyesalkan keputusan Israel, menekankan bahwa hal itu akan berdampak negatif dan sangat mempengaruhi perekonomian Gaza khususnya sektor industri, serta mengancam akan menutup dan menghentikan pekerjaan di ratusan fasilitas industri yang sangat bergantung pada ekspor dan berujung pada PHK ribuan pekerja.

Dia meminta Israel untuk mencabut keputusan ini, menekankan bahwa Federasi Umum Industri Palestina dan sektor industri, secara umum, berkomitmen terhadap standar dan prosedur ekspor, menjelaskan bahwa tindakan apa pun yang mengarah pada penutupan penyeberangan ditolak dan dikecam oleh Israel.

Israel mengklaim mereka menemukan bahan peledak yang disembunyikan di antara paket pakaian yang diekspor dari Gaza ke Tepi Barat, yang mendorong Israel untuk menutup satu-satunya penyeberangan komersial Gaza dengan dunia luar sebagai hukuman.

Ayed Abu Ramadan, Ketua Persatuan Kamar Dagang di Jalur Gaza dan Sekretaris Dewan Koordinasi Lembaga Sektor Swasta, mengutuk keputusan Israel, dan menekankan bahwa penutupan tersebut merupakan eskalasi baru dalam blokade Israel yang telah berlangsung selama 18 tahun. di Jalur Gaza yang akan semakin memperparah penderitaan masyarakat Jalur Gaza.

Dia mengatakan bahwa keputusan ini merupakan eskalasi yang tidak dapat dibenarkan yang akan berdampak buruk pada perekonomian Jalur Gaza dan penghidupan masyarakatnya, akan memperburuk situasi ekonomi yang sudah sulit di Jalur Gaza dan berdampak negatif pada sektor industri, pertanian dan tenaga kerja, serta mengancam akan merusak perekonomian Jalur Gaza. menghentikan pengoperasian banyak fasilitas industri dan pertanian, yang akan mengakibatkan hilangnya pekerjaan bagi banyak pekerja, dan meningkatkan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang sudah tinggi di Jalur Gaza.

Dia mengatakan bahwa menutup penyeberangan adalah tindakan yang tidak adil dan hukuman kolektif bagi lebih dari dua juta orang di Jalur Gaza, yang sudah menderita kondisi yang sangat sulit, dan akan menyebabkan bencana kemanusiaan yang nyata di Jalur Gaza, dan menyerukan tindakan segera. dan segera pembukaan kembali persimpangan Karm Abu Salem/Kerem Shalom dan pencabutan sanksi yang memperburuk penderitaan penduduk dan melemahkan peluang pertumbuhan ekonomi, perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut.

 

Sumber: Wafa

Diberondong Peluru Pasukan Israel, 3 Warga Palestina Gugur

Diberondong Peluru Pasukan Israel, 3 Warga Palestina Gugur

NewsINH, Jenin – Bak film layar lebar, tentara Israel dengan garangnya memberondong mobil milik warga Palistina dengan senjata api, akibatnya tiga warga sipil Palestina yang ada di dalam mobil tersebut gugur seketika.

“Beberapa waktu lalu, sebuah kendaraan yang membawa satu regu teroris dari kamp pengungsi Jenin teridentifikasi saat dalam perjalanan untuk melakukan serangan,” demikian pernyataan militer Israel, dilaporkan Aljazeera, Minggu (6/8/2023)

Warga Palestina yang gugur termasuk Naif Abu Tsuik (26 tahun) dari kamp pengungsi Jenin. Tentara Israel mengatakan, Abu Tsuik terlibat dalam aksi militer terhadap pasukan keamanan Israel dan memajukan aktivitas militer di Jalur Gaza. Menurut Jaringan Berita Quds, kendaraan warga Palestina terkena lebih dari 100 peluru.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji tindakan pasukan keamanan. Dia mengatakan, Israel akan terus menindak mereka yang mencari nyawa kami di mana dan kapan saja. Juru bicara Hamas, Hazem Qasem mengatakan, mereka akan membalas kematian itu.

“Musuh, yang membunuh tiga orang Palestina tidak akan luput dan kami akan membayar harga kejahatannya,” kata Qasem dalam sebuah pernyataan.

Aljazirah mengatakan, Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi kematian dalam serangan di selatan Jenin. Tentara Israel juga menemukan senjata serbu M-16 di kendaraan itu.

“Ini semua menambah banyak ketegangan di sini. Itu terjadi 24 jam setelah serangan yang terjadi di Tel Aviv, di mana seorang pemuda Palestina dari Jenin menembaki orang. Ini menambah banyak kekhawatiran pada hari-hari mendatang,” ujar laporan Aljazirah.

Ketua Partai Prakarsa Nasional Palestina Mustafa Barghouti mengatakan, pembunuhan tiga warga Palestina merupakan pembunuhan di luar hukum. “Apa yang Israel lakukan hari ini adalah tindakan pembunuhan di luar hukum terhadap pemuda Palestina. Ini adalah eksekusi orang yang melanggar hukum tanpa proses peradilan apa pun,” ujarnya.

 

Sumber: Aljazeera/Republika

10 Warga Palestina Ditangkap Pasukan Israel dalam Serangan di Tepi Barat

10 Warga Palestina Ditangkap Pasukan Israel dalam Serangan di Tepi Barat

NewsINH, Tepi Barat – Lagi-lagi pasukan Israel melakukan penyerangan terhadap warga sipil Palestina. Nampaknya, kekerasan demi kekerasan itu tidak ada ujungnya. Dalam penyerangan baru-baru ini setidaknya 10 warga Palestina, satu berusia 62 tahun, ditahan dalam serangan tentara Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Dikutip dari kantor berita Palestina, Wafa, Selasa (23/5/2023) Pasukan pendudukan Israel menahan setidaknya 10 warga Palestina dalam penggerebekan di Tepi Barat yang diduduki, salah satunya dikatakan berusia 62 tahun.

Sumber-sumber lokal Palestina mengatakan seorang warga Palestina ditahan di kota Nablus di Tepi Barat utara, dan satu lagi dari desa Salem di daerah Nablus.

Tiga lainnya ditahan dari Kegubernuran Betlehem, satu dari kamp pengungsi Arroub, utara Hebron, dan tiga dari kota Bir Zeit dan al-Mughayyer di daerah Ramallah, salah satunya berusia 62 tahun dan yang lainnya 48 tahun.

“Satu orang juga ditahan dari desa al-Ouja, dekat Jericho,” tulis laporan tersebut.

Sementara itu, di kota Jenin dua warga Palestina terluka oleh tembakan Israel  selama serangan militer di kota Qabatiya, selatan kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki.

Menurut saksi mata, dua pemuda Palestina terluka setelah pasukan Israel menembak mereka saat berada di kendaraan mereka. Sikap arogan Israel tersebut memicu konfrontasi, di mana tentara menembakkan peluru, bom suara, dan bom gas beracun ke arah pemuda Palestina.

Mereka menambahkan bahwa salah satu pemuda terluka dengan peluru di dada, sementara yang lainnya terkena pecahan peluru.

“Keduanya dibawa ke rumah sakit Ibnu Sina di Jenin untuk dirawat,” kara sumber tersebut.

Pasukan Israel menahan dua warga Palestina setelah menggerebek rumah keluarga mereka. Peristiwa kekerasan di sejumlah wilayah Tepi Barat hampir setiap hari terjadi, kedidupan warga Palestina terus dibayang-bayangi penindasan dan kesewenangan baik oleh polisi maupun militer negeri Zionis.

 

Sumber: Wafa

#DonasiPalestina