Palestina Sebut Israel Hancurkan Lebih dari 300 Rumah di Jabalia

Palestina Sebut Israel Hancurkan Lebih dari 300 Rumah di Jabalia

NewsINH, Gaza – Badan Pertahanan Sipil Palestina di Gaza mengatakan bahwa tentara Israel telah menghancurkan lebih dari 300 rumah di Jabalia, Jalur Gaza utara sejak dimulainya serangan militer pada 7 Oktober 2023 lalu.

“Tentara Israel benar-benar menghancurkan lebih dari 300 rumah di Jabalis, Jalur Gaza utara sejak dimulainya serangan.” Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Basal mengatakan kepada Anadolu baru-baru ini.

“Kami menerima panggilan darurat mengenai sejumlah jasad yang bergelimpangan di jalan dan di bawah reruntuhan rumah yang hancur,” kata dia, menambahkan bahwa “tim penyelamat tidak dapat mencapai lokasi karena tingginya intensitas pengeboman oleh Israel.”

Basal menjelaskan bahwa operasi militer Israel menyebabkan kehancuran besar-besaran bangunan rumah tinggal dan infrastruktur di kota dan kamp Jabalia.

Menurut Basal sulit bagi tim medis dan tim pertahanan sipil untuk mencapai lokasi tertentu di Jabalia akibat pengeboman dan penembakan yang diarahkan langsung terhadap mereka oleh tentara Israel.

Pada 11 Mei, Israel melancarkan serangan baru ke Jabalia dan wilayah sekitarnya dengan penembakan membabi buta, menargetkan puluhan rumah dan infrastruktur di dalam kamp.

Kamp tersebut menjadi tempat tinggal bagi ratusan ribu penduduk, termasuk mereka yang mengungsi dari wilayah utara Jalur Gaza.

Israel terus melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza meski resolusi Dewan Keamanan PBB menuntut gencatan senjata segera di wilayah kantung tersebut.

Tujuh bulan setelah perang Israel berlangsung yang dimulai sejak serangan Hamas pada Oktober, hampir 35.400 warga Palestina tewas, yang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita, sementara 79.300 lainnya menderita luka.

Israel juga melakukan blokade yang membuat makanan, air bersih dan obat-obatan menjadi langka.

Setelah mendapat gugatan genosida, Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan serangannya dan mengambil langkah yang menjamin bantuan kemanusiaan tersedia bagi warga sipil Gaza.

 

Sumber: Antara / Anadolu

INH Sepakati Kerjasama dengan Kedubes Palestina di Mesir untuk Kirim Tiga Jenis Bantuan

INH Sepakati Kerjasama dengan Kedubes Palestina di Mesir untuk Kirim Tiga Jenis Bantuan

NewsINH, Cairo – Berdasarkan informasi dari Kedutaan Besar Palestina di Mesir, saat ini ada lebih dari 100ribu warga Palestina yang mengungsi ke Mesir dengan berbagai jenis kebutuhan berbeda. Sebagian besar adalah korban luka agresi yang butuh perawatan medis lebih lanjut, sebagian lainnya adalah mahasiswa serta keluarga yang mengungsi.

Hal itu disampaikan Pendiri International Networking for Humanitarian (INH) Muhammad Husein dalam pertemuan dengan Duta Besar Palestina untuk Mesir, Diyab Louh di Kairo. Senin (20/5/2024).

Pertemuan ini menjajaki upaya INH untuk menguatkan bantuan kepada rakyat Palestina baik di dalam maupun di luar Gaza yang menjadi korban agresi Israel ke Jalur Gaza memasuki hari ke 226 ini. Serangan terus terjadi dan bahkan meningkat membuat warga mencari cara untuk menyelematkan diri termasuk mengungsi ke negara tetangga seperti Mesir.

“Banyak yang tidak memperhatikan ini, padahal kondisi mereka yang mengungsi ke Mesir ini juga luar biasa sulit. Bahkan mereka ada yang mengatakan setelah mengungsi di Mesir ternyata lebih sulit daripada tinggal di Gaza. Ini sangat dimaklumi karena Mesir bukan negara mereka dan banyak kebutuhan yang tidak bisa mengandalkan siapapun, dan mereka yang mengungsi telah kehilangan rumah dan harta mereka,” ujar Muhammad Husein paska pertemuan tersebut.

Karenanya, INH bersama Dubes Diyab menyepakati untuk tahap awal akan mengadakan bantuan untuk tiga jenis kebutuhan tersebut dengan jumlah bantuan menyasar 500 paket per keluarga. Bantuan akan diberikan untuk tiga penerima manfaat; bantuan kesehatan untuk korban luka, bantuan untuk mahasiswa Gaza dan bantuan untuk para pengungsi keluarga.

 

Untuk penyaluran awal INH akan memberikan bantuan tunai untuk akses kesehatan ke 40 korban luka Gaza di satu rumah sakit di Mesir. Serta untuk kebutuhan pengungsi, saat ini datanya sedang disiapkan pihak Kedubes dan penyaluran akan dilakukan di halaman kedutaan besar Palestina di Mesir.

“Ini adalah upaya yang sangat penting tidak hanya sebagai misi kemanusiaan tapi juga memberikan pesan bahwa kami warga Indonesia yang menyalurkan amanah melalui INH akan terus membantu warga Palestina baik di dalam maupun di luar Gaza,” tegas Muhammad Husein.

Hal ini juga menjadi jawaban bagi Kedubes Palestina di Mesir yang mengeluhkan dengan banyaknya kebutuhan warga yang mengungsi ke Mesir dan mereka tidak bisa membantu seluruh permintaan warga. Diyab mengatakan pihak kedutaan tidak bisa memberi bantuan banyak kapada para pengungsi mengingat sumber daya yang terbatas.

Diyab juga menyatakan apresiasinya kepada rakyat Indonesia yang aktif menyuarakan dukungan dan memberikan bantuan untuk warga Palestina hingga saat ini.

INH mengajak siapa pun untuk tidak berhenti memberikan dukungan dan bantuan untuk Palestina dimanapun mereka berada, karena kondisi agresi yang setiap hari semakin parah dan membuat semakin banyak warga terlantar dan mayoritas warga saat ini hanya mengandalkan bantuan kemanusiaan.

Sementara itu, Presiden Direktur INH Lukmanul Hakim menyebutkan, sebelumnya INH juga sudah beberapa kali menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang mengungsi di negeri seribu Piramid. Umumnya bantuan yang diberikan berupa bantuan uang tunai yang akan digunakan pengungsi Gaza di Mesir untuk biaya hidup, kemudian biaya pengobatan termasuk persalinan untuk ibu-ibu hamil.

“Ini bukan yang pertama kali, tetapi kami sudah beberapa kali menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang mengungsi di Mesir,” jelasnya.

Bahkan kata Lukman, pihaknya juga sudah memberikan bantuan untuk biaya evakuasi beberapa warga Gaza yang akan keluar melalui perbatasan Rafah. Ini biayanya sangat besar per orang mencapai 4ribu hingga 5ribu dolar Amerika.

“Untuk evakuasi warga gaza yang ingin keluar dari dalam wilayah Gaza ini membutuhkan biaya sangat besar, oleh karena itu kami sangat berterimakasih kepada para donatur yang selalu suport dalam setiap kegiatan kemanusiaan kami,” pungkasnya. (*)

Penyerangan Israel Semakin Brutal, 800 Ribu Warga Gaza Terpaksa Tinggalkan Rafah

Penyerangan Israel Semakin Brutal, 800 Ribu Warga Gaza Terpaksa Tinggalkan Rafah

NewsINH, Gaza – Kepala Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina mengatakan sebanyak 800 ribu orang telah dipaksa melarikan diri dari kota Rafah di selatan Gaza sejak Israel memulai operasi militer di sana bulan ini.

“Hampir setengah dari populasi Rafah atau 800 ribu orang telah dipaksa untuk melarikan diri sejak pasukan Israel memulai operasi militer di daerah tersebut pada 6 Mei,” kata kepala UNRWA, Philippe Lazzarini dalam sebuah posting di situs media sosial X, dilansir dari Gulf Today, Ahad (19/5/2024) kemarin.

“Mengikuti perintah evakuasi, warga Gaza telah melarikan diri ke daerah tengah dan Khan Younis termasuk ke bangunan yang hancur,” katanya.

Mereka dipaksa untuk meninggalkan beberapa barang yang mereka miliki. Sehingga setiap saat, mereka harus memulai dari awal, dan dari awal lagi.

Hal ini membuat mereka melarikan diri ke daerah tanpa pasokan air atau sanitasi yang memadai. “Al Mawasi, sebuah kota seluas 14 kilometer persegi di pantai, serta kota pusat Deir El-Balah, dipenuhi oleh pengungsi baru-baru ini,” ujar Lazzarini.

Sementara itu, bentrokan hebat dan pemboman mengguncang Rafah pada Sabtu, ketika Israel melakukan serangan terhadap Hamas. Seorang reporter mengatakan, serangan udara dan peluru artileri menghantam bagian timur kota saat pesawat-pesawat tempur melintas di atasnya.

Lebih dari 10 hari setelah apa yang disebut tentara sebagai operasi “terbatas” di Rafah, yang memicu eksodus warga Palestina, pertempuran antara pasukan Israel dan orang Palestina juga kembali berkobar di Gaza utara.

Hamas mengecam apa yang disebut “serangan brutal yang diintensifkan” Israel di Jabalia. Mereka mengatakan bahwa Israel telah membunuh puluhan warga sipil dan melukai ratusan lainnya saat menargetkan sekolah dan tempat penampungan.

“Kejahatan pendudukan yang meningkat tidak akan berhasil mematahkan kehendak perlawanan berani kami atau menghalangi orang-orang kami yang bangga dari keputusan mereka untuk berdiri teguh di tanah mereka,” katanya.

Serangan balasan Israel terhadap Hamas telah menewaskan sedikitnya 35.386 orang di Gaza, kebanyakan warga sipil, menurut data yang disediakan oleh kementerian kesehatan wilayah Hamas. Korban termasuk 83 kematian selama 24 jam terakhir, kata pernyataan kementerian pada hari Sabtu.

Ketika penyeberangan darat utama ditutup atau beroperasi dengan kapasitas terbatas akibat pertempuran tersebut, sejumlah pasokan bantuan mulai mengalir ke Gaza melalui dermaga terapung sementara yang dibangun oleh Amerika Serikat.

Tentara Israel mengatakan 310 palet mulai dipindahkan ke darat sebagai masuknya bantuan kemanusiaan pertama melalui dermaga terapung. Gambar satelit yang diambil pada hari Sabtu menunjukkan lebih dari selusin truk berbaris di jalan pendekatan ke dermaga. Dalam beberapa hari mendatang, sekitar 500 ton bantuan diperkirakan akan dikirim ke Gaza melalui dermaga, menurut Komando Pusat AS.

Pejabat militer AS mengantisipasi operasi dermaga bisa mencapai 150 truk per hari. Risiko termasuk serangan, rintangan logistik, dan kekurangan bahan bakar yang terus meningkat. Tetapi badan-badan PBB dan kelompok bantuan kemanusiaan telah memperingatkan pengiriman laut atau udara tidak dapat menggantikan konvoi truk yang jauh lebih efisien ke Gaza, di mana Perserikatan Bangsa-Bangsa telah berulang kali memperingatkan kelaparan yang membayangi.

 

Sumber: Republika

Sanitasi Buruk, Ratusan Ribu Ibu Hamil di Gaza Terancam Kesehatanya

Sanitasi Buruk, Ratusan Ribu Ibu Hamil di Gaza Terancam Kesehatanya

NewsINH, Gaza – Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) melalui unggahan di platform X mengungkapkan lebih dari 150 ribu ibu hamil menghadapi kondisi sanitasi yang buruk dan bahaya kesehatan di tengah agresi Israel di Jalur Gaza dan pengungsian paksa.

“Tidak ada anak di dunia yang menderita seperti ini. Kami butuh gencatan senjata sekarang,” tulis UNRWA dilansir laman kantor berita Palestina WAFA.

Badan Bantuan PBB itu memperingatkan tingkat keputusasaan kembali terjadi di Gaza. Menurut UNICEF, sebanyak 95 persen ibu hamil dan menyusui menghadapi krisis pangan yang parah di Jalur Gaza, di mana perang masih berlangsung.

Sementara itu, Dana Penduduk PBB (UNFPA) baru saja melaporkan bahwa 62 paket bantuan berisi bahan-bahan untuk persalinan masih menunggu izin masuk melalui penyeberangan Rafah. Jumlah korban meninggal akibat agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober telah bertambah menjadi 35.091 orang, dengan lebih dari 78.827 orang lainnya terluka.

Sementara itu, lembaga PBB yang menangani anak-anak (Unicef) mengatakan pembunuhan anak-anak Palestina oleh Israel Harus Dihentikan

“Sebagai orang yang pernah berada di lapangan dan menghabiskan banyak waktu di rumah sakit di Gaza, termasuk Rafah, saya melihat dampak pertempuran ini pada jenazah anak-anak dan itu sangat mengerikan,” kata juru bicara Dana Anak-anak PBB (Unicef) Tess Ingram di stasiun televisi ABC, seperti dikutip Aljazirah, Senin (13/5/2024) kemarin.

“Saya melihat anak perempuan berusia sembilan tahun mempertahankan nyawanya di ranjang rumah sakit di Rafah dengan luka ledakan di sisi tubuhnya, dan ketika saya bertemu dengannya, ia sudah seperti itu selama 16 hari karena karena tidak ada kemampuan medis di Gaza untuk mengobati luka-lukanya.”

“Kami harus melihat diakhirinya pertempuran dan pembunuhan tanpa pandang bulu pada warga sipil terutama anak-anak,” tambahnya.

Unicef terus mendesak para pemimpin dunia dalam setiap kesempatan untuk membuka akses kemanusiaan ke seluruh Gaza. Untuk menanggapi situasi yang dihadapi anak-anak di Israel dan Negara Palestina, Unicef menyerukan

Sejak awal perang Unicef meminta akses kemanusiaan yang aman dan tidak terbatas ke dan di dalam Jalur Gaza untuk menjangkau populasi yang terkena dampak perang di mana pun mereka berada, termasuk di bagian utara.

Unicef juga meminta semua akses penyeberangan harus dibuka, termasuk untuk mendapatkan bahan bakar dan material yang cukup untuk menjalankan dan merehabilitasi infrastruktur penting dan pasokan komersial.

Unicef juga meminta pergerakan yang aman bagi pekerja kemanusiaan dan pasokan di seluruh Jalur Gaza harus dijamin dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan harus tersedia untuk mengkoordinasikan upaya-upaya respons.

Unicef juga mendesak sandera-sandera Israel yang ditawan Hamas segera dibebaskan tanpa syarat dan diakhirinya pelanggaran berat terhadap semua anak, termasuk pembunuhan dan pelecehan terhadap anak-anak.

Unicef mendesak pihak yang berperang menghormati dan melindungi infrastruktur sipil seperti tempat penampungan dan sekolah, serta fasilitas kesehatan, listrik, air, sanitasi, dan telekomunikasi, untuk mencegah hilangnya nyawa warga sipil dan anak-anak, merebaknya wabah penyakit, dan untuk memberikan perawatan kepada yang sakit dan terluka. Uncief meminta semua pihak yang terlibat dalam konflik harus menghormati hukum kemanusiaan internasional.

Unicef mendesak kasus-kasus medis di Gaza mendapatkan mengakses layanan kesehatan atau diizinkan untuk pergi, dan untuk anak-anak yang terluka atau sakit yang dievakuasi untuk didampingi anggota keluarga.

Unicef meminta perlindungan yang berkelanjutan bagi anak-anak dan keluarga mereka jika mereka tidak dapat atau tidak mau pindah mengikuti perintah evakuasi.

“Warga harus diizinkan untuk bergerak secara bebas ke daerah yang lebih aman, tetapi mereka tidak boleh dipaksa untuk melakukannya,” kata Unicef dalam pernyataan yang dirilis di situs resminya.

Lebih dari 15 ribu anak terbunuh di Jalur Gaza sejak awal operasi militer Israel pada 7 Oktober 2023, demikian menurut pernyataan otoritas di daerah kantong Palestina itu.

“15.002 anak meninggal (di Jalur Gaza)… 17 ribu anak hidup tanpa orang tua,” tulis pernyataan yang dipublikasikan kantor pers otoritas Gaza pada Rabu (8/5/2024).

Pada 7 Oktober 2023, kelompok perlawanan Palestina Hamas meluncurkan serangan roket besar-besaran terhadap Israel dan menerobos perbatasan serta menyerang permukiman sipil dan basis militer.

Akibatnya, hampir 1.200 warga Israel tewas dan sekitar 240 orang lainnya disandera selama serangan berlangsung.

Israel lantas melakukan serangan balasan, memerintahkan pengepungan total terhadap Gaza dan mulai melakukan invasi darat dengan tujuan melenyapkan petempur Hamas dan menyelamatkan para sandera.

Sejauh ini, lebih dari 35 ribu warga Palestina terbunuh dalam serangan yang dilakukan militer Israel di Gaza, menurut otoritas setempat. Sementara itu, lebih dari 100 sandera diyakini masih ditahan Hamas di Gaza.

Pada Senin pasukan Israel memulai operasi militer di wilayah timur Kota Rafah dan mengambilalih wilayah Gaza di perbatasan Rafah dengan Mesir.

Keputusan untuk menyerang Kota Rafah diambil meski Hamas menyetujui syarat perjanjian gencatan senjata yang diusulkan Mesir dan Qatar. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut perjanjian tersebut tidak dapat diterima. Saat ini lebih dari 1 juta orang diyakini mengungsi di Kota Rafah.

 

Sumber: Wafa/Aljazair/Republika

Kemenkes Palestina Sebut 80 Persen Fasilitas Kesehatan Gaza Stop Beroperasi

Kemenkes Palestina Sebut 80 Persen Fasilitas Kesehatan Gaza Stop Beroperasi

NewsINH, Gaza – Menteri Kesehatan Otoritas Palestina Majed Abu Ramadan mengatakan tanggung jawab hancurnya layanan kesehatan Jalur Gaza dapat dijatuhkan pada Israel yang terus menggelar serangan ke kantong pemukiman tersebut. Abu Ramadan juga meminta masyarakat internasional melakukan intervensi untuk menyelamatkan sistem kesehatan di Jalur Gaza.

Dikutip dari Aljazirah, Selasa (14/5/2024) kemarin, ia mengatakan Otoritas Palestina seang berusaha mengirimkan tim medis ke Gaza untuk mengobat “kasus-kasus sulit.” Sebab Israel menolak mengizinkan sejumlah warga Palestina yang terluka dan sakit meninggalkan Jalur Gaza untuk menjalani pengobatan.

Sementtara itu badan amal Inggris, Save the Children mengeluarkan pernyataan yang berisi laporan dari seorang stafnya di Gaza yang menggambarkan kondisi mengerikan yang dihadapi penduduk Rafah yang terpaksa mengungsi.

“Ini kelima kalinya kami dipaksa pindah, mengikuti perintah relokasi terbaru. Awalnya kami dipindahkan dari Gaza ke Khan Younis, kemudian ke daerah lain di Rafah dan sekarang ke Deir el-Balah. Ini menghancurkan mental kami,” kata staf Save the Children itu.

“Saya bersama putra saya, dan ibu saya yang berusia 70 tahun. Saat kami mulai terbiasa dengan tempat baru, kami dipaksa pindah lagi. Ibu saya memiliki diabetes dan tekanan darah tinggi. Ia kekurangan obat-obatan yang ia butuhkan tapi kami tidak menemukannya di mana-mana.”

“Rasanya kami dibunuh pelan-pelan. Anak-anak kami kehilangan kehidupan mereka, pendidikan mereka, mereka mengalami ketidakstabilan, dipaksa mengungsi, takut. Saya tidak bisa menjelaskan apa rasanya hidup seperti ini untuk kelima kalinya. Kami membayar harga perang yang tidak ada hubungannya dengan kami,” tambah staf Save the Children itu.

 

Sumber: Aljazirah/Republika

Genosida Israel di Gaza Telah Membunuh 31 Petugas Kemanusiaan

Genosida Israel di Gaza Telah Membunuh 31 Petugas Kemanusiaan

NewsINH, Gaza – Israel telah membunuh atau melukai sedikitnya 31 pekerja kemanusiaan di Gaza sejak Oktober dalam setidaknya delapan serangan yang mengabaikan koordinat posisi mereka, kata Human Rights Watch (HRW), Selasa, (14/5/2024).

“Pasukan Israel telah melakukan setidaknya delapan serangan terhadap konvoi dan lokasi pekerja bantuan di Gaza sejak Oktober 2023,” kata lembaga swadaya masyarakat asal AS yang mengawasi penegakan hak asasi manusia itu. Israel tetap melakukan serangan, “meskipun kelompok bantuan telah memberikan koordinat mereka kepada otoritas Israel untuk memastikan perlindungan mereka,” kata HRW dikutip Anadolu.

HRW mengungkapkan, pihak berwenang Israel tidak mengeluarkan peringatan terlebih dahulu kepada organisasi kemanusiaan yang berada di lapangan sebelum serangan-serangan tersebut. Sehingga menewaskan atau melukai sedikitnya 31 pekerja kemanusiaan dan orang-orang yang bersama mereka.

Delapan insiden tersebut antara lain penyerangan terhadap konvoi World Central Kitchen pada 1 April, konvoi Doctor Without Borders (MSF) pada November 18, wisma UNRW pada 9 Desember, dan tempat perlindungan MSF pada 8 Januari 2024. Kemudian wisma Komite Penyelamatan Internasional dan Bantuan Medis juga diserang pada 18 Januari, disusul penyerangan terhadap konvoi UNRWA pada 5 Februari, wisma MSF pada 20 Februari, dan rumah yang menampung karyawan Organisasi Bantuan Pengungsi Timur Dekat Amerika pada 8 Maret.

“Bahkan jika ada sasaran militer di sekitar lokasi serangan, insiden ini menyoroti kegagalan Israel dalam melindungi pekerja bantuan dan operasi kemanusiaan,” kata HRW. HRW merinci sedikitnya 15 orang terbunuh dan 16 terluka dalam delapan serangan Israel tersebut.

“Para pekerja kemanusiaan juga tidak dapat meninggalkan Gaza sejak penutupan perbatasan Rafah pada 7 Mei,” kata mereka. Badan pengawas itu juga mendapati Israel menggunakan kelaparan sebagai metode peperangan di Gaza.

“Otoritas Israel dengan sengaja memblokir pengiriman air, makanan, dan bahan bakar, dengan sengaja menghalangi bantuan kemanusiaan. “Dengan terang-terangan menghancurkan kawasan pertanian, dan merampas barang-barang milik penduduk sipil yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup mereka,” kata HRW.

“Anak-anak di Gaza sekarat akibat komplikasi yang berkaitan dengan kelaparan,” kata HRW. HRW menyampaikan mereka telah meminta informasi spesifik dari Israel mengenai delapan serangan tersebut melalui surat yang dikirim pada 1 Mei 2024, namun belum menerima tanggapan.

HRW mendesak Israel untuk mempublikasikan temuan-temuan penyelidikan atas serangan-serangan yang telah membunuh dan melukai para pekerja kemanusiaan tersebut, dan tak terkecuali serangan-serangan lain yang menyebabkan korban sipil. Selain itu, kelompok ahli internasional yang diakui harus melakukan tinjauan independen terhadap proses dekonfliksi kemanusiaan.

“Israel harus memberi para ahli ini akses penuh terhadap prosesnya, termasuk koordinasi dan komunikasi yang terjadi sebelum, selama, dan setelah serangan tersebut serta informasi mengenai dugaan sasaran militer di sekitarnya dan tindakan pencegahan apapun yang diambil untuk mengurangi dampak buruknya,” kata HRW.

Israel telah melancarkan serangan militer di Gaza sejak serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Lebih dari 35.000 warga Palestina terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan 78.700 lainnya terluka akibat kehancuran massal di Gaza.

Lebih dari tujuh bulan sejak perang Israel meletus, sebagian besar wilayah Gaza hancur, memaksa 85 persen penduduk wilayah kantong tersebut mengungsi di tengah blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan, demikian catatan PBB.

Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang telah memerintahkan Tel Aviv untuk memastikan bahwa pasukannya tidak melakukan pembantaian massal itu dan mengambil tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

Sumber: Antara/Anadolu/Republika

Sontoloyo,…!!! Warga Israel Blokir Bantuan Makanan untuk Warga Gaza

Sontoloyo,…!!! Warga Israel Blokir Bantuan Makanan untuk Warga Gaza

NewsINH, Gaza – Pengunjuk rasa Israel memblokir truk bantuan menuju Jalur Gaza pada Senin (13/5/2024). Tak hanya itu mereka juga merusak isi paket makanan di jalanan. Ini adalah insiden terbaru dari serangkaian insiden yang terjadi ketika Israel berjanji mengizinkan pasokan kemanusiaan tanpa gangguan masuk ke wilayah kantong yang terkepung.

Empat pengunjuk rasa, termasuk seorang anak di bawah umur, ditangkap dalam protes tersebut. Mereka ditangkap di pos pemeriksaan Tarqumiya, sebelah barat Hebron di Tepi Barat yang diduduki Israel, menurut pernyataan dari pengacara yang mewakili para pengunjuk rasa.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan pengunjuk rasa melemparkan perbekalan dari truk ke tanah. Isi karton bantuan makanan itu terbuka dan berserakan di jalan.

“Bantuan yang ditransfer oleh Negara Israel langsung jatuh ke tangan Hamas,” demikian pernyataan kelompok Orde 9 yang mengorganisir protes tersebut.

Para pengunjuk rasa menyatakan selama Israel memberikan hadiah kepada Hamas dan kemungkinan kendali total atas Jalur Gaza melalui kepemilikan distribusi bantuan, Hamas tidak akan tertarik pada kesepakatan yang akan memulangkan lebih dari 100 tawanan.

Pekan lalu, empat orang ditangkap di Israel selatan setelah protes serupa dilakukan oleh warga Israel yang menolak pengiriman pasokan kemanusiaan ke wilayah yang dikuasai gerakan Islam Hamas, menurut pengacara mereka.

“Mengingat insiden perilaku tidak tertib yang terjadi hari ini, penegak hukum telah memulai penyelidikan yang berpuncak pada penangkapan beberapa tersangka,” kata polisi Israel dalam sebuah pernyataan. “Investigasi sedang berlangsung secara aktif.”

Israel menghadapi tekanan internasional yang besar untuk meningkatkan bantuan ke Gaza. Organisasi-organisasi internasional telah memperingatkan akan adanya krisis kemanusiaan yang parah yang mengancam populasi lebih dari dua juta orang.

Pada hari Minggu, pemerintah Israel mengumumkan penyeberangan baru ke Gaza utara dan pelabuhan sementara, yang dibangun oleh Amerika Serikat akan segera dibuka.

 

Sumber: Reuters/Tempo

Subahnallah, Populasi Palestina Takan Pernah Habis Meski Dibantai Israel Berkali-kali

Subahnallah, Populasi Palestina Takan Pernah Habis Meski Dibantai Israel Berkali-kali

NewsINH, Gaza – Biro Statistik Palestina melaporkan, bahwa jumlah orang Palestina di wilayah pendudukan dan di luar negeri telah meningkat hampir sepuluh kali lipat sejak Nakba 1948. Hal ini disampaikan oleh Biro Statistis Palestina pada Minggu (12/5/2024) kemarin.

“meskipun ada sekitar satu juta orang Palestina yang mengungsi pada 1948 dan lebih dari 200.000 orang Palestina setelah perang Juni 1967, jumlah total warga Palestina di seluruh dunia mencapai 14,63 juta pada akhir 2023.” kata pernyataan tersebut.

Bagaimana rincian jumlah warga Palestina itu?

Selain itu, pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa “5,55 juta dari mereka [warga Palestina] tinggal di Negara Palestina (Jalur Gaza, Yerusalem Timur dan Tepi Barat) dan sekitar 1,75 juta warga Palestina di wilayah 1948, sementara jumlah warga Palestina di negara-negara Arab mencapai sekitar 6,56 juta dan mereka yang berada di luar negeri mencapai sekitar 772.000.”

“Dengan demikian, jumlah warga Palestina di Palestina bersejarah mencapai sekitar 7,3 juta warga Palestina, sementara jumlah warga Yahudi diperkirakan mencapai 7,2 juta pada akhir tahun 2023, yang berarti jumlah warga Palestina melebihi jumlah warga Yahudi di Palestina bersejarah,” imbuh pernyataan tersebut.

Biro Statistik Palestina menyebut juga bahwa “pendudukan Israel mengeksploitasi lebih dari 85% dari total wilayah Palestina yang bersejarah.”

Apa yang terjadi saat Nakba?

Selain itu, Biro tersebut juga mengulas beberapa peristiwa Nakba, yang membuat ratusan ribu warga Palestina mengungsi atau diusir dari kota dan desa mereka. “Lebih dari satu juta orang Palestina mengungsi dari total 1,4 juta orang Palestina yang tinggal di Palestina bersejarah pada tahun 1948,” kata mereka.

Biro tersebut menjelaskan bahwa pada tahun 1948, “pendudukan Israel menguasai 774 desa dan kota Palestina, 531 di antaranya dihancurkan, sementara sisanya tunduk pada entitas pendudukan dan hukum-hukumnya.”

Mereka menambahkan bahwa “proses pembersihan ini disertai dengan lebih dari 70 pembantaian yang dilakukan oleh gerombolan Zionis terhadap warga Palestina, yang mengakibatkan lebih dari 15.000 orang menjadi martir.”

Mengenai jumlah warga Palestina yang terbunuh dalam perjuangan yang sedang berlangsung dengan Israel selama 76 tahun terakhir, Biro mengatakan bahwa “lebih dari 134.000 telah mati syahid membela hak-hak Palestina sejak Nakba 1948.”

Berapa jumlah korban meninggal dalam konflik Palestina Israel pasca-2000?

Biro tersebut melanjutkan, “Jumlah syuhada sejak awal Intifada Al Aqsha pada tahun 2000 hingga 30 April 2024, mencapai sekitar 46.500 syuhada, di samping sekitar 35.000 syuhada dalam agresi Israel ke Jalur Gaza dari 7 Oktober 2023, hingga 7 Mei 2024.”

Di antara korban di Gaza, dilaporkan terdapat “lebih dari 14.873 anak-anak dan 9.801 perempuan, selain lebih dari 141 wartawan, sementara lebih dari 7.000 warga dianggap hilang, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, menurut catatan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza.”

Mengenai Tepi Barat, 492 martir telah gugur sejak dimulainya agresi pendudukan Israel pada 7 Oktober 2023, menurut pernyataan tersebut.

Nakba Sunyi di Al Naqab, Palestina

Pasukan pendudukan Israel menghancurkan 47 rumah milik keluarga Badui Abu Asa di gurun al-Naqab, Palestina, pada 8 Mei lalu, dan membuat mereka berada dalam pengasingan permanen.

Komite panduan Arab tertinggi di wilayah tersebut menyatakan bahwa pasukan pendudukan Israel telah merencanakan penutupan jalan di daerah tersebut pada pagi hari untuk mencegah protes.

Menurut komite tersebut, pembongkaran ini menandai operasi pembongkaran rumah terbesar dalam satu hari dalam beberapa dekade terakhir. Kelompok-kelompok Badui yang tinggal di al-Naqab adalah suku Arab tradisional yang memiliki sejarah mengolah tanah sejak abad ke-16.

Hal ini terjadi di tengah-tengah genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza dan serangan harian ke Tepi Barat.

 

Sumber: AL MAYADEEN/Tempo.co

Israel Gempur Rafah, Kini Tak Ada Lagi Tempat Berlindung bagi Warga Gaza

Israel Gempur Rafah, Kini Tak Ada Lagi Tempat Berlindung bagi Warga Gaza

NewsINH, Gaza – Warga Palestina yang mengungsi ke Rafah terpaksa harus kembali pindah setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi. PBB memperkirakan lebih dari 100 ribu orang melakukan evakuasi sementara pasukan Israel mengatakan 300 ribu orang.

“Mereka meminta kami pergi tiga kali, dan para tetangga datang dan mengatakan segera keluarga. Mereka mengirimkan perintah evakuasi ke seluruh wilayah. Apa yang harus kami lakukan di sini? Apakah kami menunggu sampai kami semua mati bertumpuk-tumpukan? Sehingga kami memutuskan lebih baik pergi,” kata seorang warga Rafah, Hanan al-Satari seperti dikutip dari Aljazirah, Sabtu (11/5/2024).

Warga lainnya Faten Lafi mengatakan, warga dipaksa pergi setelah tentara Israel mengancam mereka, melalui sambungan telepon dan unggah di media sosial Facebook. “Kami pergi karena takut dan terpaksa. Kami pergi ke tempat yang tidak diketahui dan sama sekali tidak ada tempat aman, semua tempat tidak ada yang aman,” katanya.

Sementara itu militer Israel mengatakan operasi mereka dalam 24 jam terakhir di Rafah merupakan operasi terbatasan. Tapi Aljazirah melaporkan militer Israel terus memperluas operasinya, menggelar serangan udara dan pengeboman intensif yang dimulai dari pusat dan tengah-selatan Kota Rafah dekat Rumah Sakit Kuwait.

Serangan digelar dekat ribuan keluarga pengungsi mendirikan tenda-tenda sementara mereka di jalan atau zona evakuasi. Perintah evakuasi terbaru ini membuat orang-orang berada dalam ketidakpastian baru.

Warga tidak tahu harus pergi ke mana, terutama setelah adanya bukti “zona aman” yang ditetapkan militer Israel sama sekali tidak aman, banyak orang yang akhirnya terbunuh di dalam daerah yang ditetapkan sebagai zona aman.

Sejauh ini sudah banyak orang yang melarikan diri dari Rafah, namun masih ada lebih banyak lagi yang terjebak di daerah-daerah yang tidak dapat dievakuasi karena intensitas pengeboman dan kekuatan militer Israel yang ekstrem.

 

Sumber: Aljazirah/Republika

Innalillahi, Relawan INH di Gaza jadi Korbaban Syahid Agresi Israek di Rafah

Innalillahi, Relawan INH di Gaza jadi Korbaban Syahid Agresi Israek di Rafah

NewsINH, Gaza – Bagi warga Gaza saat ini, mengungsi setiap saat adalah sebuah rutinitas darurat yang harus mereka lakukan di tengah terus meningkatnya serangan Israel ke sepanjang Jalur Gaza mulai dari utara, hingga saat ini menargetkan selatan Gaza tempat jutaan rakyat mengungsi.

Korban-korban syahid akibat serangan udara dan darat terus meningkat, Israel menyerang secara agresif tanpa henti dan tanpa pilah pilih, bahkan relawan kemanusiaan dari beberapa organisasi pun menjadi korban, salah satunya beberapa tim dari Dapur Pusat Dunia (World Central Kitchen) yang di target dengan bom ke kendaraan mereka.

Kini, ujian itu menimpa seorang relawan International Networking for Humanitarian (INH), Harits Al Hassyaas yang menjadi korban serangan udara Israel ke rumahnya di Rafah pada Sabtu, 11 Maret 2024. Harits meninggal dunia bersama dengan lima wanita dan tiga anak-anak di sekitarnya.

“Harits merupakan relawan kami yang tidak berhenti mengurus pengiriman bantuan amanah kemanusiaan dari rakyat Indonesia untuk Palestina di Jalur Gaza, walau di tengah susah, dia selalu tersenyum saat di video,” ujar Presiden Direktur INH Luqmanul Hakim, Minggu (12/5/2024).

Kepergian Harits menjadi duka bersama bagi keluarga besar INH dan komunitas Sahabat Relawan (SHARE INH) yang setiap hari mendedikasikan waktu dan kegiatannya untuk kemanusiaan.

“Ini adalah hari tersedih kami selama mengirimkan bantuan ke Jalur Gaza,” tambah Luqman, menambahkan, Harits sebagai bagian dari keluarga besar INH.

Hingga saat ini, Israel terus memborbardir Rafah dan Khan Younis secara terus menerus dan mengirim pasukan darat untuk menginvasi lokasi dan juga menargetkan warga sipil, berulang menyalahi hukum internasional dan telah disaksikan komunitas internasional.

Sekitar 1,4 juta warga mengungsi ke Rafah sejak agresi Israel pada 7 Oktober 2023. Sudah lebih dari 218 hari, invasi udara dan darat tidak berhenti, membuat mayoritas warga kelelahan bukan hanya karena agresi namun juga upaya membuat warga Gaza kelaparan tanpa akses listrik dan air secara sistematis.

INH mennyerukan kepada semua pihak untuk tidak berhenti berupaya membantu Palestina, karena bukan hanya sebagai satu-satunya negara yang masih dijajah, tapi karena kita menyaksikan pembantaian demi pembantaian warga sipil, wanita dan anak-anak secara jelas di layar-layar teknologi kita.

“Siapapun yang punya hati nurani, pasti tidak akan membenarkan pembunuhan terhadap anak kecil, apapun alasannya. Apapun alasannya,” tegas Luqmanul Hakim. (****)