Bungkam Kebebasan, 40 Jurnalis Palestina Masih Ditahan Israel di Tepi Barat

Bungkam Kebebasan, 40 Jurnalis Palestina Masih Ditahan Israel di Tepi Barat

NewsINH, Jerusalem – Kelompok pemerhati urusan tahanan Palestina menyatakan, hingga saat ini sedikitnya 40 jurnalis Palestina masih ditahan Israel di sejumlah wilayah pendudukan Tepi Barat sejak Oktober lalu.

“Pasukan Israel menahan 61 jurnalis sejak 7 Oktober 2023, 21 di antaranya telah dibebaskan,” kata Komisi Urusan Tahanan, dan Masyarakat Tahanan Palestina dalam sebuah pernyataan gabungan seperti dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (20/3/2024).

Tak hanya menahan jurnalis pria, tiga orang jurnalis perempuan juga termasuk di antara para tahanan tersebut, sementara 23 jurnalis ditahan tanpa diadili atau didakwa berdasarkan kebijakan penahanan administratif Israel yang terkenal buruk, menurut pernyataan tersebut.

Ketegangan meningkat di seluruh wilayah pendudukan sejak Israel meluncurkan serangan militer mematikan ke Jalur Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

Sedikitnya 435 warga Palestina di Tepi Barat telah tewas sejak saat itu, dengan lebih dari 4.700 orang luka-luka dan 7.630 lainnya ditahan di wilayah pendudukan tersebut.

Israel dituding melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Dalam putusan sela pada Januari, mahkamah tersebut memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil langkah guna memastikan bantuan kemanusiaan disalurkan kepada warga sipil di Gaza, yang telah didera serangan Israel dengan korban tewas lebih dari 31.800 orang sejak Oktober lalu.

 

Sumber: Anadolu Agency

Organisasi HAM: Israel Batasi Pergerakan 2 Juta Warga Palestina di Tepi Barat

Organisasi HAM: Israel Batasi Pergerakan 2 Juta Warga Palestina di Tepi Barat

NewsINH, Tepi Barat – Organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem mengatakan sejak perang di Gaza pecah Israel semakin membatasi pergerakan di daerah pendudukan Tepi Barat. Tindakan pihak berwenang Israel telah mengganggu kehidupan dua juta warga Palestina yang sudah dikekang pergerakannya.

“Ini dilakukan dengan menggunakan jaringan pos pemeriksaan untuk memperketat pengawasan, mendirikan lusinan pos pemeriksaan baru, memblokir akses puluhan desa ke jalan utama dan memaksa semua warga Palestina untuk meminta izin agar dapat masuk Israel untuk bekerja dan alasan lain,” kata B’Tselem seperti dikutip Aljazeera, Rabu (6/3/2024).

“Pembatasan ini tidak mengizinkan warga Palestina di Tepi Barat untuk mempertahankan rutinitas beralasan dan mengganggu setiap area kehidupan mereka, menyebabkan kerugian keuangan besar-besaran, membatasi akses ke layanan medis dan pendidikan, dan merugikan kehidupan berkeluarga dan aktivitas sosial,” tambah lembaga itu.

Sementara direktur Komite Rekonstruksi Hebron, Emad Hamdan mengatakan 80 persen toko di Hebron, Kota Tua di daerah pendudukan Tepi Barat tutup karena pemberlakuan jam malam dan penutupan militer.

“Warga Palestina tidak dapat masuk atau keluar dari Hebron dengan mudah atau sama sekali, begitu juga dengan turis dan jemaah, karena penutupan pintu masuk ke kota dan desa-desa Palestina yang berdekatan,” kata Hamdan kepada Aljazirah.

Ia mengatakan sejak 7 Oktober 2023, Kota Tua Hebron sangat terpukul oleh tindakan hukuman dari Israel, terutama setelah pihak berwenang memberlakukan jam malam militer di sebagian besar wilayah tersebut. Hal ini juga mencegah penduduk meninggalkan rumah mereka, memberlakukan penutupan toko-toko dan menyegel semua pintu masuk ke Kota Tua.

 

Sumber: Aljazeera

Gawat..!!!, Menteri Israel Kampanyekan Bulan Suci Ramadan Dihapus

Gawat..!!!, Menteri Israel Kampanyekan Bulan Suci Ramadan Dihapus

NewsINH, Al Quds – Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu menyerukan untuk “menghapus” bulan Ramadan dan mengabaikan ketegangan di Tepi Barat serta Yerusalem Timur selama bulan suci tersebut.
Menteri Israel yang ekstremis itu menyampaikan pernyataan ini kepada Radio Angkatan Darat.

Politisi sayap kanan tersebut adalah menteri dari partai Otzma Yehudit yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir.

“Apa yang disebut sebagai bulan Ramadhan harus dihilangkan, dan ketakutan kita terhadap bulan ini juga harus dihilangkan,” kata Eliyahu, seperti dikutip Anadolu Agency.

Pernyataan Eliyahu menyusul kabar kebocoran keamanan Israel yang mengindikasikan kekhawatiran akan terjadinya peningkatan situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki selama bulan Ramadhan.

Ini terjadi sebagai akibat dari perang Israel di Gaza dan pembatasan yang ingin diberlakukan oleh pemerintah Tel Aviv di Masjid Al-Aqsa selama berlangsungnya bulan suci Ramadan.

Media Israel mengatakan bahwa pemerintah Amerika menekan Tel Aviv untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas mengenai pertukaran sandera dan gencatan senjata di Gaza sebelum Ramadan, yang dimulai sekitar tujuh hari lagi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Kamis bahwa terlalu dini untuk mengatakan Tel Aviv telah mencapai kesepakatan mengenai pertukaran tahanan dengan Hamas.

Ketika pembicaraan mengenai kesepakatan pembebasan sandera berlanjut dengan mediasi dari AS, Qatar dan Mesir, Presiden AS Joe Biden mengatakan pada Senin bahwa Israel akan menghentikan perangnya melawan Gaza selama Ramadan jika kesepakatan tercapai.

Kelompok pejuang Hamas Palestina, yang diyakini menyandera lebih dari 130 warga Israel, menuntut diakhirinya serangan Israel di Gaza sebagai imbalan atas kesepakatan penyanderaan.

Kesepakatan sebelumnya pada November 2023 menghasilkan pembebasan 81 warga Israel dan 24 warga asing dengan imbalan 240 warga Palestina, termasuk 71 wanita dan 169 anak-anak.

Israel telah melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menurut Tel Aviv menewaskan kurang dari 1.200 orang.

Setidaknya lebih dari 30.000 warga Palestina telah terbunuh dan 70.457 lainnya terluka di tengah kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok.

Israel juga memberlakukan blokade yang melumpuhkan Jalur Gaza, menyebabkan penduduknya, khususnya penduduk Gaza utara, berada di ambang kelaparan.

 

Sumber: CNBC/Anadolu Agency

Menlu Palestina Kecam Pembukaan Keduataan Papua Nugini di Yerusalem

Menlu Palestina Kecam Pembukaan Keduataan Papua Nugini di Yerusalem

NewsINH, Ramallah – Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengecam keras langkah pemerintah Papua Nugini yang membuka kantor kedutaan Papua Nugini di Yerusalem. Menurutnya, trindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional.

“Ini tindakan konyol dan ceroboh pembukaan kedutaan Papua Nugini di Yerusalem merupakan pelanggaran hukum internasional,” kata Menlu Palestina seperti dikutip dari kantor berita Wafa, Kamis (7/9/2023).

Pembukaan kedutaan besar di Yerusalem yang diduduki dan menganggapnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan resolusi PBB terkait dengan Israel. Kota Suci, status hukum dan politiknya, serta hak-hak adil dan sah bagi rakyat Palestina.

Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan menganggap langkah ini sebagai sebuah agresi terhadap rakyat Palestina dan hak-hak mereka, memperingatkan Papua Nugini agar tidak mengambil sisi sejarah yang salah dan menekankan bahwa keputusan ini menyebabkan kerugian besar terhadap peluang mencapai perdamaian atas dasar solusi dua negara.

Dikatakan bahwa keputusan tersebut merupakan normalisasi yang tidak dapat diterima terhadap pendudukan dan kejahatannya serta merupakan penolakan terang-terangan terhadap resolusi PBB yang relevan pada saat negara pendudukan meningkatkan pelanggaran dan agresi terhadap rakyat Palestina, tanah air, properti, dan tempat-tempat suci mereka.

Kementerian Luar Negeri menekankan bahwa mereka akan terus mengejar negara-negara yang membuka kedutaan besar di Yerusalem atau memindahkan kedutaan mereka di sana melalui jalur politik, diplomatik dan hukum atas agresi mereka yang tidak dapat dibenarkan terhadap rakyat Palestina dan hak-hak mereka, serta menyerukan kepada pemerintah Papua Nugini untuk segera mencabut keputusan tersebut.

 

Sumber: Wafa

OCHA : 167 Warga Palestina Tewas di Tangan Israel Ini Rekor Tertinggi

OCHA : 167 Warga Palestina Tewas di Tangan Israel Ini Rekor Tertinggi

NewsINH, Ramallah – Kabar duku atau kematian warga Palestina di tangan tentara maupun warga Israel merupakan peristiwa yang kerap kali terjadi di kawasan Tepi Barat, Palestina. Angka-angka kematian warga tak berdosa di negeri para nabi ini pun terus bertambah.

Dikutip dari berbagai seumber, Senin (14/8/2023) Kantor Perserikatan Bangsa-Bansa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, sepanjang tahun ini pasukan Israel telah membunuh 167 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Jumlah itu telah melampaui total warga Palestina yang dibunuh sepanjang 2022 di wilayah yang sama, yakni berjumlah 155 orang.

Dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA, OCHA mengungkapkan, total kematian warga Palestina di Tepi Barat oleh pasukan Israel pada 2022 merupakan yang tertinggi sejak 2005. Dengan demikian, jumlah warga Palestina yang terbunuh di Tepi Barat tahun ini kembali memecahkan rekor baru.

Selain tentara zionis Israel, pemukim Israel turut menyumbang kematian terhadap warga Palestina, OCHA mengungkapkan, pada 4 Agustus 2023 lalu, seorang pemukim Israel menembak seorang warga Palestina di desa Burqa, dekat Ramallah, hingga tewas. Dua warga Palestina lainnya terluka dalam kejadian tersebut.

Menurut OCHA sejak awal tahun ini hingga 7 Agustus 2023 lalu, total warga Palestina di Tepi Barat yang telah dibunuh pemukim Israel berjumlah tujuh orang.

Dalam laporannya OCHA mengungkapkan, antara 25 Juli dan 7 Agustus 2023 sebanyak 276 warga Palestina, termasuk setidaknya 60 anak-anak, terluka oleh pasukan Israel di Tepi Barat. Sembilan di antaranya terluka akibat peluru tajam.

Sejak awal tahun ini terdapat 683 warga Palestina yang terluka akibat peluru tajam pasukan Israel di Tepi Barat. Angka itu meningkat lebih dari kali lipat dari periode yang sama pada 2022.

Sebelumnya OCHA telah mengatakan, kasus yang melibatkan pemukim Israel di wilayah pendudukan Palestina tahun ini meningkat cukup tajam, yakni sebesar 39 persen. Dalam enam bulan terakhir, PBB mendokumentasikan 591 kasus.

“Itu rata-rata 99 insiden setiap bulan dan meningkat 39 persen dibandingkan dengan rata-rata bulanan sepanjang tahun 2022, yaitu 71 (kasus),” kata Juru Bicara OCHA Jens Laerke dalam pengarahan di kantor PBB di Jenewa, Swiss, 4 Agustus 2023 lalu, dikutip Anadolu Agency.

Dia mengungkapkan, jumlah kasus kekerasan yang dilakukan pemukim Israel pada 2022 sebenarnya menjadi paling tertinggi sejak OCHA mulai melakukan pencatatan pada 2006 silam.

Laerke mengatakan, dalam dua tahun terakhir, setidaknya 399 warga Palestina terpaksa mengungsi akibat kekerasan pemukim. Para pemukim menargetkan tujuh komunitas yang terlibat dalam penggembalaan melintasi wilayah Palestina yang diduduki.

Laerke menyebut, tiga dari tujuh komunitas tersebut, yakni Al Baqa’a, Khirbet Bir al’Idd, dan Wedadiye, telah benar-benar dikosongkan karena kekerasan. Sementara komunitas lainnya hanya memiliki beberapa keluarga tersisa.

Banyak komunitas di seluruh Tepi Barat berada di bawah ancaman pemindahan paksa sebagai akibat dari lingkungan pemaksaan yang diciptakan oleh penghancuran, aktivitas permukiman, dan praktik berbahaya lainnya.

“Permukiman Israel ilegal menurut hukum internasional. Mereka memperdalam kebutuhan kemanusiaan karena dampaknya terhadap mata pencaharian, ketahanan pangan, dan akses ke layanan penting,” kata Laerke.

 

Sumber: Berbagai Sumber

Ribuan Polisi Israel Kawal Warga Yahudi Pawai Kibarkan Bendera di Al Aqsa

Ribuan Polisi Israel Kawal Warga Yahudi Pawai Kibarkan Bendera di Al Aqsa

NewsINH, Yerusalem – Ritusan orang yang merupakan pemukim yahudi melakukan pawai dengan mengibarkan bendera Israel dan memasuki  halaman Masjid al-Aqsha di Yerusalem yang diduduki hari ini. Kehadiran mereka dilindungi oleh pasukan pendudukan Israel dengan menggunbakan senjata lengkap.

Sumber media Palestina melaporkan, sebanyak 400 pemukim Israel dipimpin oleh rabi ekstremis Yehuda Glick menyerbu halaman al-Aqsha dan melakukan ritual provokatif, kemarin. Hal itu bagian dari Pawai Bendera yang dilakukan untuk memprovokasi umat Islam di tempat suci tersebut.

Israel mengerahkan lebih dari 2.000 polisi untuk pengamanan pawai melalui jalan raya utama Palestina di Kota Tua Yerusalem pada Kamis (18/5/2023). Pihak berwenang mengatakan, keamanan yang ditingkatkan adalah upaya kuat untuk memastikan pawai berlalu tanpa kekerasan.

Polisi telah memutuskan untuk mengizinkan ribuan demonstran untuk mengambil rute tradisional melalui Gerbang Damaskus Kota Tua. Padahal, kekerasan antara Israel-Palestina meningkat selama setahun terakhir dan pertempuran sengit antara Israel dan Jihad Islam di Gaza terjadi pada pekan lalu.

Ratusan orang Yahudi naik ke situs sensitif Yerusalem yang suci bagi orang Yahudi dan Muslim sebagai bagian dari pawai pada pagi hari. Salah satu menteri kabinet Israel dari pemerintah sayap kanan negara itu kemungkinan akan hadir. Sementara itu, para pejabat Israel menggambarkan pawai tersebut sebagai parade.

Pejabat polisi senior di Yerusalem, Yoram Segal, mengatakan, polisi akan mengerahkan sekitar 2.500 petugas untuk memastikan hari berlalu tanpa kekerasan. “Kami akan menindak keras siapa pun yang mencoba mengganggu perdamaian,” katanya.

Dalam pidato yang menandai Hari Yerusalem, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan, Israel telah memecahkan cakrawala baru sejak merebut Yerusalem timur. “Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan Yerusalem, memastikan kemakmurannya dan melanjutkan momentumnya,” katanya. “Kami juga melakukan ini terhadap semua ancaman di sekitar kami,” ujar Netanyahu.

Menteri Keamanan Nasional Israel dan politikus sayap kanan Itamar Ben-Gvir telah bergabung dalam pawai tersebut selama beberapa tahun terakhir. Tidak diketahui pasti kemungkinan dia akan bergabung lagi pada tahun ini sebagai menteri Kabinet.

Pejabat polisi senior Yerusalem, Yoram Segal, sehari sebelum pawai menyatakan, pihak berwenang bertekad untuk mencegah kekerasan kali ini. Petugas dikerahkan ke seluruh wilayah, baik untuk memastikan keamanan maupun untuk bereaksi cepat terhadap potensi kekerasan.

“Kami akan menindak keras siapa pun yang mencoba mengganggu perdamaian,” kata Segal.

Segal mengatakan, masalah masa lalu disebabkan oleh segelintir orang. Namun, dia menegaskan, tidak akan ada toleransi untuk hasutan atau kekerasan yang dapat membahayakan orang-orang yang berada di sepanjang rute atau tinggal di sepanjang rute.

Menurut Segal, polisi telah bekerja bersama dengan para pemimpin komunitas Yahudi dan Palestina untuk menjaga perdamaian. Dia juga membenarkan bahwa telah terjadi sejumlah penangkapan terlebih dahulu terhadap orang-orang yang diyakini merencanakan gangguan kekerasan.

Pawai menandai “Hari Yerusalem” yang merayakan penaklukan Israel atas Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah 1967. Israel menganggap seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya, tetapi aneksasinya atas sektor timur tidak diakui secara internasional. Palestina mengklaim Yerusalem timur sebagai ibu kota negara masa depan.

Setiap tahun, ribuan nasionalis Israel berpartisipasi dalam pawai, mengibarkan bendera biru dan putih Israel dan menyanyikan lagu. Namun, dalam beberapa kasus, pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan anti-Arab saat mereka melewati warga dan bisnis milik Palestina. Dua tahun lalu, pawai itu turut memicu perang 11 hari antara Israel dan kelompok Palestina di Gaza.

Kelompok Hamas meminta warga Palestina untuk mengadang parade pengibaran bendera yang direncanakan oleh kaum nasionalis Yahudi. Parade itu akan melalui jalan raya utama Palestina di Kota Tua Yerusalem pada Kamis (18//5/2023).

“Kami meminta orang-orang Yerusalem untuk memobilisasi massa guna menghadapi pawai bendera di Yerusalem besok,” kata pejabat Hamas di Gaza Mushir al-Masri pada Rabu (17/5/2023).

Hamas juga mendesak warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dan di dalam Israel untuk melawan pendudukan. Kelompok yang memimpin wilayah Gaza ini mengatakan akan mengadakan demonstrasi dengan bendera Palestina di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel yang dijaga ketat.

Parade itu dimaksudkan untuk menandai “Hari Yerusalem”. Perayaan tahunan Israel itu menandai penaklukan Yerusalem timur, termasuk Kota Tua dan tempat-tempat sucinya, dalam perang Timur Tengah 1967.

Israel menganggap seluruh kota sebagai ibu kotanya. Namun, komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengakui aneksasi Israel atas Yerusalem Timur. Palestina pun mengeklaim daerah itu sebagai ibu kota negara masa depan.

Setiap tahun, ribuan nasionalis Israel berpartisipasi dalam pawai, melambai-lambaikan bendera biru dan putih Israel, dan menyanyikan lagu-lagu. Mereka berjalan melewati Muslim Quarter dan menuju Jewish Quarter dan Western Wall, tempat tersuci orang Yahudi dapat berdoa.

Warga Israel menggambarkan pawai itu sebagai acara yang meriah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pawai itu telah dirusak oleh nyanyian rasis anti-Arab dan kekerasan terhadap warga lokal Palestina oleh beberapa demonstran.

Menambah suasana yang tegang, sejumlah besar orang Yahudi diperkirakan akan mengunjungi tempat suci paling sensitif di Yerusalem sebelum pawai. Kompleks puncak bukit dikenal oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount, sedangkan Muslim Palestina menganggap area itu adalah wilayah Masjid al-Aqsha.

Di bawah perjanjian lama, orang Yahudi diizinkan mengunjungi kompleks tersebut, tetapi tidak berdoa di sana. Namun, peningkatan kunjungan semacam itu dalam beberapa tahun terakhir, bersamaan dengan adegan beberapa orang Yahudi berdoa di sana, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Palestina. Mereka menduga Israel berusaha mengubah status quo, tapi tuduhan itu dibantah Israel.

Sumber: Wafa/Republika

#DonasiPalestina

Pasukan Israel dan Warga Sipil Palestina Bentrok di Kota Ramallah

Pasukan Israel dan Warga Sipil Palestina Bentrok di Kota Ramallah

NewsINH, Ramallah – Kericuhan atau konfrontasi pecah antara pasukan Israel dan penduduk Palestina di kota Deir Ibzee, sebelah barat Ramallah, Palestina.

Dilansir dari kantor berita Palestina, Wafa, Rabu (17/5/2023). Pasukan Israel menyerbu kota tersebut di tengah tembakan tabung gas air mata ke arah penduduk dan rumah mereka. Tindakan arogan pasukan Israel itu memicu bentrokan dengan penduduk yang terprovokasi.

“Tidak ada cedera yang dilaporkan dalam insiden tersebut,” tulis laporan tersebut.

Tak hanya menembakan gas air mata. Pasukan Israel juga menutup akses jalan yang terletak berdekatan dengan kota tersebut. Alhasil kemacetan lalulinta didaerah itu tak dapat dihindari, banyak kendaraan warga yang akhirnya memutar balik untuk mencari jalan lain.

“Jalan tersebut mengarah ke beberapa desa di sebelah barat Ramallah,” kata salah seorang warga.

Sementara itu, dilokasi terpisah.  Pasukan pendudukan Israel malam ini menyampaikan pemberitahuan yang memerintahkan pembongkaran toko komersial milik seorang penduduk lokal Palestina di kota Deir Ballout, sebelah barat Salfit.

Mereka mengatakan, tentara Israel menyerbu kota Deir Ballout dan menyerahkan surat pemberitahuan pembongkaran terhadap toko milik pribadinya kepada penduduk setempat.

Dan di Yerusalem, pasukan Israel menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal di lingkungan Wadi Qaddum di kota Silwan, di selatan Masjid Al-Aqsa Yerusalem yang diduduki.

Sumber lokal mengatakan, bangunan yang dibongkar oleh pasukan pendudukan dengan dalih dibangun tanpa izin itu menampung 50 orang dari keluarga al-Husseini.

Pada tahun 2018, otoritas Israel telah memerintahkan keluarga al-Husseini untuk mengosongkan rumah untuk persiapan pembongkarannya.

Umm Adam, istri Yerusalem dari Imad al-Husseini, salah satu penghuni gedung tersebut, mengatakan bahwa gedung ini dibangun 40 tahun yang lalu, dan suami serta saudara laki-lakinya membelinya 17 tahun yang lalu.

Dia menambahkan bahwa rumah itu berukuran 90 meter persegi, dan keluarga menambahkan apartemen lain ke gedung lama, mencatat bahwa keluarga menerima perintah pembongkaran bertahun-tahun yang lalu, dan menunda pembongkaran beberapa kali, beralih ke undang-undang untuk mencegahnya tetapi tidak pernah berhasil.

Ummu Adam tinggal di apartemennya yang terdiri dari kamar tidur, ruang tamu, dengan delapan anak serta suaminya yang sudah pensiun dari pekerjaannya.

 

Sumber: Wafa

#DonasiPalestina

Islam di Yerusalem Kian Terancam, Israel Gelorakan Perang Sistematis

Islam di Yerusalem Kian Terancam, Israel Gelorakan Perang Sistematis

NewsINH, Yerusalem – Wakil Direktur Jenderal Wakaf Islam, Najeh Bakirat, mengatakan, negara pendudukan Israel melancarkan perang sistematis untuk mengakhiri kehadiran Islam di Yerusalem. Dia menambahkan bahwa penggerebekan terbaru oleh polisi Israel di Masjid Bab Al-Rahma telah menguji denyut nadi umat Islam sebelum menutupnya secara permanen.

Dilansir dari republika.id, Jum’at (28/4/2023). Sebuah kelompok hak asasi memperingatkan, Israel berencana mengubah Masjid Bab Al-Rahma di Yerusalem menjadi sinagog. Masjid Bab Al-Rahma terletak di dalam kompleks Masjid Al Aqsa.

“Pendudukan Israel bekerja untuk memulihkan pengaruhnya dan keamanan mutlak serta kondali administratifnya atas Masjid Al Aqsa,” kata Bakirat, kepada surat kabar Gaza Al-Resalah, Rabu (26/4/2023) kemarin.

“Ada aktivitas militer Israel yang intensif di kompleks Masjid Al-Aqsa selama dua hari terakhir,” tambah Bakirat.

Bakirat mengatakan, ini adalah perang komprehensif yang menargetkan demografi, geografi, dan kehadiran Islam di kota suci. Dia menegaskan bahwa pendudukan Israel berencana untuk memperkuat kehadiran Yahudi di bagian timur wilayah pendudukan Yerusalem.

“Ini adalah perang yang menargetkan semua aspek kehidupan di Yerusalem,” ujar Bakirat.

 

Sumber: Republika

#DonasiPalestina

Kerajaan Arab Saudi Kutuk Israel atas Penyerbuan Komplek Masjid Al Aqsa

Kerajaan Arab Saudi Kutuk Israel atas Penyerbuan Komplek Masjid Al Aqsa

NewsINH, Riyadh – Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk penyerbuan Masjid al-Aqsa di Yerusalem oleh pemukim Israel. Hal itu dilaporkan kantor berita resmi Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA).

Dalam sebuah pernyataan, kementerian menyatakan kecaman dan penolakan Kerajaan Arab Saudi atas penyerbuan terang-terangan ke kompleks Masjid al-Aqsa, yang dilakukan oleh pemukim Israel di tengah perlindungan pasukan pendudukan Israel.

Penyerbuan itu terjadi selama Ramadan, bulan yang dianggap suci oleh umat Islam. Baca Juga Pasukan Israel Tangkap 13 Warga Palestina di Tepi Barat “Tindakan seperti itu merusak upaya perdamaian dan melanggar prinsip dan norma internasional mengenai penghormatan terhadap tempat suci agama,” lapor SPA mengutip pernyataan kementerian.

“Arab Saudi mendukung semua upaya yang ditujukan untuk mengakhiri pendudukan dan mencapai solusi yang adil serta komprehensif untuk perjuangan Palestina yang memungkinkan rakyat Palestina mendirikan negara Palestina merdeka di perbatasan tahun 1967, dengan Al-Quds Timur (Yerusalem Timur) sebagai ibu kotanya,” tambah Kementerian Luar Negeri Arab Saudi seperti dikutip dari Al Arabiya, Kamis (30/3/2023).

Kantor berita Palestina, WAFA melaporkan, lusinan pemukim ekstrimis Israel menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa. WAFA melaporkan, Departemen Wakaf Umum Islam di Yerusalem mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa beberapa pemukim melakukan penyerbuan di bawah perlindungan ketat dari pasukan pendudukan Israel.

 

Sumber: Sindonews

#DonasiPalestina

 

Penangkapan oleh Israel Kian Masih, Anak-Anak Palestina Kehilangan Kebahagiaan di Waktu Ramadan

Penangkapan oleh Israel Kian Masih, Anak-Anak Palestina Kehilangan Kebahagiaan di Waktu Ramadan

NewsINH, Al Quds –  Sejatinya ramadan merupakan bulan suka cita bagi umat muslim diseluruh penjuru dunia untuk meningkatkan ibadah. Pasalnya, dibulan suci ini Allah Subhanahu wata’ala akan melipat gandakan amal kebaikan. Namun, bagaima jika daerah tersebut masih dirundung kesedihan lantaran penjajahan dan penindasan masih terus berlanjut hingga saat ini.

Di wilayah penjajahan Israel yakni bumi Palestina misalnya, provokasi oleh pasukan Israel pada bulan Ramadan justru makin meningkat. Bukannya menghormati bulan suci itu, tentara Israel justru menggencarkan penangkapan warga Palestina termasuk mereka yang masih berusia di bawah umur.

Sebanyak 115 warga Palestina di 10 hari pertama Ramadan dilaporkan ditangkap oleh Israel. Informasi ini disampaikan Pusat Studi Tahanan Palestina. Dalam sebuah laporan, organisasi itu mengatakan pasukan pendudukan Israel mengintensifkan kampanye mereka melawan Palestina selama bulan suci Ramadan.

Dari jumlah total warga Palestina yang ditahan, 21 di antaranya adalah anak-anak, yang sebagian besar berasal dari kota suci Yerusalem yang diduduki. Beberapa anak ditahan untuk diinterogasi dan dibebaskan atau ditempatkan di bawah tahanan rumah atau dengan syarat membayar denda.

Dilansir di Middle East Monitor, Jumat (31/3/2023), salah satu anak yang ditahan adalah Mohammad Abu Safiyeh, dari lingkungan Sair, sebelah barat Ramallah. Anak laki-laki berusia 17 tahun itu terluka oleh pasukan pendudukan Israel sekitar sebulan yang lalu. Pusat Studi Tahanan Palestina lantas meminta komunitas internasional untuk melindungi warga Palestina dari agresi harian Israel.

Otoritas penjajah Israel juga terus membatasi akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan. Seorang warga Palestina, Nizam Abu Rumouz ditangkap di Masjid al-Aqsha pada Selasa (28/3/2023) kemarin ketika Israel menyerbu tempat suci umat Islam tersebut.

Dilaporkan Middle East Monitor, Rabu (29/3/2023), Abu Rumouz diinterogasi dan dibebaskan dengan larangan masuk ke al-Aqsha selama enam bulan. Abu Ramouz mengatakan, larangan sebelumnya telah berakhir pada hari penangkapannya. Dia telah dilarang memasuki kompleks Masjid al-Aqsha sebanyak 16 kali, dengan satu kali larangan untuk jangka waktu antara satu sampai enam bulan.

Warga Palestina lainnya, Raeda Saida juga ditangkap pada Selasa dan penahanannya diperpanjang hingga Kamis (30/3/2023). Otoritas pendudukan telah berulang kali melarang Said memasuki masjid.

Abdullah Daana, Salih Fakhouri dan Mohammed Abu Farha juga telah dilarang memasuki al-Aqsha selama satu minggu. Larangan tersebut dapat diperpanjang atau diperbarui. Ada seruan yang lebih besar untuk serangan ke al-Aqsha oleh kelompok sayap kanan Israel menjelang hari raya Paskah Yahudi yang akan diadakan pada akhir April.

Ramadhan adalah bulan paling suci dalam kalender Islam. Warga Palestina tanpa gentar terus berupaya masuk ke Masjid al-Aqsha dari berbagai pintu untuk beribadah. Seorang pemilik toko di jalan al-Wad di Kota Tua, dekat al-Aqsha, Nadia, mengatakan, polisi telah mengepung area sekitar toko dan menghentikan semua orang yang lewat.

“Polisi telah mengepung toko kami dan menghentikan semua orang yang lewat. Biasanya anak-anak muda yang mampir ke sini,” ujar Nadia.

Sekretaris Jenderal Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Jasem Mohamed Albudaiwi menyampaikan kutukan keras atas penyerbuan warga Yahudi ke Masjid al-Aqsha. Tindakan penyerbuan itu berlangsung di bawah perlindungan pasukan Israel.

Jasem Mohamed menyampaikan kecaman atas pelanggaran yang dilakukan Israel selama bulan suci Ramadhan. Aksi tersebut dinilai merupakan eskalasi yang berbahaya, sekaligus pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan resolusi yang relevan.

Apa yang dilakukan pemukim ini juga disebut melanggar status quo sejarah dan hukum di Yerusalem dan tempat-tempat sucinya, serta provokasi sentimen Muslim di seluruh dunia. Ia meminta masyarakat internasional segera turun tangan menghentikan pelanggaran tersebut. Di sisi lain, setiap pihak harus mengintensifkan upaya untuk mendorong proses perdamaian ke depan.

Dilansir di Asharq Al-Awsat, Jumat (31/3/2023), ia meminta masyarakat internasional segera turun tangan menghentikan pelanggaran tersebut. Di sisi lain, setiap pihak harus mengintensifkan upaya untuk mendorong proses perdamaian ke depan.

Dia juga menggarisbawahi posisi tegas GCC, yang memprioritaskan penyelesaian konflik Palestina-Israel melalui pembentukan negara Palestina merdeka sesuai dengan perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

Ketakutan anak Palestina

Sementara, anak-anak Palestina mengalami ketakutan dan kecemasan akibat kekuatan berlebihan yang digunakan oleh pasukan Israel terhadap warga sipil selama serangan ke wilayah Palestina, belakangan. Gerakan Pembela Anak Internasional Palestina (DCIP) telah mendokumentasikan kesaksian anak-anak muda di Jenin yang mengalami trauma akibat aksi militer.

Dalam laporannya, Gerakan Pembela Anak Internasional Palestina mengatakan, kekerasan oleh pasukan Israel melanggar hak hidup 17 anak sejak awal tahun. Kekerasan tersebut juga telah berdampak signifikan pada anak-anak lain.

Kekerasan telah termanifestasi dalam perilaku, pemikiran, dan capaian akademis anak-anak Palestina. Kekerasan juga telah melanggar hak anak-anak yang dijamin oleh hukum internasional, serta mengancam keamanan psikologis dan sosial mereka.

Di antara 17 anak yang gugur sejak awal tahun ini, enam diantaranya berasal dari Jenin. Anak-anak telah digunakan sebagai perisai manusia. Mereka ditahan selama berjam-jam di rumah mereka yang digunakan sebagai barak militer dan penembak jitu. Bahkan rumah-rumah mereka dijadikan titik pengamatan selama penyerbuan.

Direktur DCIP, Khaled Quzmar, mengatakan, penggunaan kekuatan berlebihan tentara Israel telah membuat anak-anak Palestina tidak memiliki rasa aman. Mereka juga mempunyai rasa tidak percaya diri di masa depan.

“Anak-anak hidup dalam situasi tanpa harapan. Misalnya, seorang anak ditemukan di kamp Dheisheh berjalan-jalan dengan surat wasiatnya tertulis di selembar kertas di sakunya, karena dia takut berada di tempat yang salah pada waktu yang salah dan mungkin terbunuh,” ujar Quzmar, dilaporkan Arab News, Kamis (30/3/2023).

Quzmar mengatakan, 17 anak yang dibunuh oleh tentara Israel tidak menimbulkan ancaman keamanan apapun bagi tentara. Mereka gugur saat menjalankan kegiatan sehari-hari.

Quzmar menambahkan, ketika seorang anak kembali ke kelasnya dan menemukan karangan bunga di tempat teman sekelasnya dibunuh oleh tentara Israel, itu meninggalkan bekas psikologis yang dalam pada mereka. Dia mengatakan, anak-anak Palestina di wilayah aksi militer berulang kali, seperti kamp Jenin dan kamp pengungsi Dheisheh dekat Bethlehem, membutuhkan sesi dukungan psikologis karena hidup menjadi tidak berharga bagi mereka.

Seorang anak berusia 17 tahun menyaksikan temannya terbunuh oleh tembakan pasukan Israel. Kematian temannya itu membuat remaja tersebut terpukul. “Ketika rekan saya Mahmoud Al-Saadi, dan saya sedang menuju ke sekolah di pagi hari, tentara Israel menyerbu kamp dan mulai menembak dari segala arah. Dia terbunuh. Kami berencana bersama untuk lulus dari sekolah, kuliah, dan belajar bersama, tetapi semua itu hancur berantakan,” ujar remaja yang tidak disebutkan namanya.

Kesaksian lain dari seorang anak berusia 16 tahun mengatakan, penggerebekan pasukan pendudukan Israel ke kamp telah menjadi rutinitas. “Tentara masuk kapan saja, jadi saya tidak bisa lagi keluar rumah. Saya takut dengan penggerebekan tentara saat saya berada di luar rumah,” ujarnya.

Anak lainnya yang berusia 17 tahun mengatakan, peluru tentara Israel pernah menembus rumahnya. Dia merasa ketakutan, kendati berada di dalam rumah sendiri.

“Selama lebih dari setahun, saya tidak bisa tidur dengan normal. Terkadang saya terbangun karena suara peluru dan ledakan, dan terkadang saya terbangun karena mimpi buruk. Saya tidak lagi membedakan antara mimpi dan kenyataan,” ujar remaja itu.

Angkatan bersenjata Israel mengepung sebuah rumah dalam salah satu serangan ke kamp Jenin. Mereka membawa paksa seorang pria yang tinggal di rumah itu, meninggalkan dari istri dan dua anaknya yang masih balita yaitu Tolin (2 tahun) dan Misk (1 tahun).

Setelah kembali ke keluarganya, pria itu mengatakan perilaku kedua putrinya berubah sejak serangan Israel. Anak pertamanya, Tolin yang biasanya aktif berubah menjadi anak yang pendiam dan penyendiri. Dia selalu ingin dekat dengan ibunya dan tampak ketakutan.

“Perilaku kedua putrinya berubah secara radikal setelah kejadian ini, terutama Tolin, yang berubah dari aktif menjadi anak yang menyendiri, melekat pada ibunya dan takut pada suara atau gerakan apa pun, dan sering menangis,” ujar pria itu.

Seorang anak berusia 15 tahun yang identitasnya tidak disebutkan mengatakan, pasukan Israel membunuh gurunya, Jawad Bawakna. Anak itu mengatakan, Bawakna adalah guru yang paling dekat dengan murid-muridnya dan selalu memberikan energi serta harapan positif. Bawakna juga kerap memberikan dukungan psikologis bagi anak didiknya.

“Kami kehilangan salah satu sumber dukungan psikologis terpenting. Sekolah telah menjadi kenangan yang menyakitkan bagi orang yang kami cintai, dan kami berusaha untuk menjauhinya sebisa mungkin,” ujar anak itu.

 

Sumber: Republika

#DonasiPalestina