Pendanaan UNRWA Distop, Krisis Kemanusiaan di Gaza Makin Terancam

Pendanaan UNRWA Distop, Krisis Kemanusiaan di Gaza Makin Terancam

NewsINH, Gaza – Sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Austria, Australia da Jepang akan menangguhkan atau menghentikan pemberian bantuan dana melalui  Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Akibat penghentian pendanaan tersebut UNRWA terancam terhenti lepas Februari ini jika pendanaan terhadap badan tersebut dihentikan.

“Jika pendanaan tidak dilanjutkan, UNRWA tidak akan dapat melanjutkan layanan dan operasinya di seluruh wilayah, termasuk di Gaza, setelah akhir Februari,” kata seorang juru bicara UNRWA, Senin (29/1/2024) kemarin.

Negara-negara yang telah menangguhkan bantuan untuk UNRWA antara lain Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, Prancis, Australia, Austria, dan Kanada. Uni Eropa, salah satu donor utama UNRWA, pada Senin kemarin menuntut dilakukannya audit terhadap badan tersebut. Audit harus dipimpin oleh para ahli yang ditunjuk Komisi Eropa dan dilakukan bersamaan dengan penyelidikan PBB terkait dugaan adanya keterlibatan staf UNRWA dalam serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

“Yang jelas adalah tindakan ini mendesak. Hal ini penting dan harus diluncurkan tanpa penundaan,” kata Juru Bicara Komisi Eropa Eric Mamer kepada awak media.

Saat ini Uni Eropa tengah meninjau pendanaan untuk UNRWA. Keputusan terkait pendanaan mendatang akan dilakukan bersamaan dengan hasil penyelidikan PBB terkait dugaan keterlibatan 12 staf UNRWA dalam serangan Hamas ke Israel pada Oktober tahun lalu.

Sementara itu Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyesalkan keputusan sejumlah negara menangguhkan atau membekukan pendanaan mereka untuk UNRWA. Liga Arab berpendapat, penangguhan pendanaan untuk UNRWA bertujuan mengabaikan upaya bantuan bagi jutaan pengungsi Palestina.

“Kampanye ini bukanlah hal baru dan bertujuan untuk melikuidasi kerja badan tersebut (UNRWA), yang melayani jutaan pengungsi Palestina,” kata Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul-Gheit, Ahad (28/1/2024), dikutip laman Anadolu Agency.

Dia memperingatkan bahwa penangguhan pendanaan untuk UNRWA di tengah serangan mematikan Israel di Jalur Gaza berarti membiarkan warga sipil Palestina kelaparan dan mengungsi. “(Penangguhan dana) juga melaksanakan rencana Israel untuk menghilangkan perjuangan mereka (warga Palestina) untuk selamanya,” ucapnya.

Sementara itu, OKI mengatakan, penangguhan pendanaan terhadap UNRWA adalah sebuah hukuman kolektif. OKI memperingatkan bahwa hal itu akan memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza.

“OKI mendesak negara-negara yang telah menangguhkan pendanaan mereka kepada badan PBB tersebut (UNRWA) untuk membatalkan keputusan mereka agar badan tersebut dapat terus memberikan layanan dan kebutuhan penting, termasuk makanan, tempat tinggal dan layanan kesehatan dasar kepada orang-orang di kamp pengungsi, khususnya di Jalur Gaza,” kata kantor berita Palestina, WAFA, dalam laporannya, Ahad lalu.

UNRWA mengatakan, mereka telah memutuskan kontrak dengan beberapa stafnya yang dituduh terlibat dalam operasi Hamas pada 7 Oktober 2023. Kendati demikian, Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengaku terkejut bahwa beberapa negara, termasuk AS, Australia, Inggris, Prancis, dan Kanada, memilih membekukan pendanaan untuk lembaganya sebagai tanggapan atas dugaan keterlibatan staf UNRWA dalam serangan Hamas ke Israel pada Oktober tahun lalu.

“Akan sangat tidak bertanggung jawab jika memberikan sanksi kepada sebuah badan dan seluruh komunitas yang dilayaninya karena tuduhan tindakan kriminal terhadap beberapa individu, terutama pada saat perang, pengungsian dan krisis politik di wilayah tersebut,” kata Lazzarini, Ahad lalu, dikutip laman Anadolu Agency.

Lazzarini mengingatkan, UNRWA adalah lembaga kemanusiaan utama di Gaza. Dia menyebut lebih dari 2 juta orang di Gaza bergantung pada UNRWA untuk kelangsungan hidup mereka. “Banyak yang kelaparan karena waktu terus berjalan menuju bencana kelaparan yang akan terjadi. Badan ini mengelola tempat penampungan bagi lebih dari 1 juta orang dan menyediakan makanan serta layanan kesehatan dasar bahkan pada puncak permusuhan,” ungkapnya.

“Saya mendesak negara-negara yang telah menangguhkan pendanaan mereka untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka sebelum UNRWA terpaksa menghentikan respons kemanusiaannya. Kehidupan masyarakat di Gaza bergantung pada dukungan ini dan begitu pula stabilitas regional,” tambah Lazzarini.

Israel tidak sekali menuduh staf-staf UNRWA bekerja atau terlibat dalam operasi Hamas. Hal itu menjadi dalih bagi Israel untuk menyerang fasilitas-fasilitas UNRWA di Gaza. Hingga berita ini ditulis, lebih dari 26.400 warga Gaza telah terbunuh sejak Israel memulai agresinya pada 7 Oktober 2023. Sebagian besar korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak. Sementara itu korban luka melampaui 65 ribu orang. (***)

 

Sumber: Republika

Miris Pengungsi Palestina Kedingian Tidur Ditenda Tanpa Alas Tikar

Miris Pengungsi Palestina Kedingian Tidur Ditenda Tanpa Alas Tikar

NewsINH, Gaza – Bercerita tentang kisah penderitaan warga Palestina khusunya di Jalur Gaza tak pernah habis. Ditengah gempuran militer zionis Israel ribuan warga Palestina yang hidup di kamp pengungsiam semakin tertekan ditengah cuaca buruk yang  kini tengah melanda wilayah tersebut.

Saat ini, cuaca di Palestina tengah memasuki musim dingin sesakali diwilayah ytersebut juga kerap dilanda hujan lebat. Nasib para pengungsi di negeri para nabi tersebut semakin mengkhawatirkan terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil dan balita.

Dikutip dari republika, Jumat (15/12/2023). Seorang pengungsi Palestina, Yasmin Mhani, mengatakan dia terbangun di malam hari dan menemukan anaknya yang berusia tujuh bulan basah kuyup. Keluarganya yang beranggotakan lima orang itu berbagi satu selimut setelah rumah mereka dihancurkan oleh serangan udara Israel.

“Rumah kami hancur, anak kami menjadi syahid dan saya tetap menghadapi semuanya. Ini adalah tempat kelima yang harus kami tuju, mengungsi dari satu tempat ke tempat lain, hanya dengan mengenakan kaus oblong, dan tidur tanpa alas tikar,” katanya sambil menggantungkan pakaian basah di luar tendanya seperti dikutip dari Aljazeera.

Sementara Aziza al-Shabrawi, salah satu pengungsi lainnya, mencoba dengan siap-siap mengeluarkan air hujan dari tenda keluarganya. Ia terus mengeluarkan air sambil menunjuk pada kedua anaknya yang hidup dalam kondisi genting.

“Putra saya sakit karena kedinginan dan putri saya bertelanjang kaki. Kita seperti pengemis,” kata pria berusia 38 tahun itu. “Tidak ada yang peduli, tidak ada yang membantu.”

Cuaca membawa lebih banyak cobaan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi ke selatan Jalur Gaza. Angin dingin merobek tenda-tenda tipis mereka, sementara hujan membasahi pakaian dan selimut mereka.

‘’Hujan deras dan angin dingin di Gaza pada hari Rabu,(13/12/2023) kemarin telah memperburuk penderitaan keluarga-keluarga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sekarang mereka meringkuk di tenda-tenda yang rapuh dan kebanjiran,’’ sebut laporan Aljazeera.

Di tenda kemah di Rafah, yang terletak di daerah berpasir yang dipenuhi sampah, orang-orang terlihat berusaha memulihkan diri dari malam yang mengerikan. Mereka membikin benteng pasir dengan cetakan ember untuk menutupi genangan air di dalam atau di sekitar tenda mereka.

Beberapa keluarga mempunyai tenda yang layak, namun ada pula yang hanya menggunakan plastik tipis tembus pandang. Plastik yang sesungguhnya hanya diperuntukan untuk membungkus barang.

Pakaian-pakain basah bergelantung di tenda-tenda. Banyak tenda yang tidak memiliki alas, sehingga orang-orang bermalam dengan meringkuk di atas pasir basah.

 

Sumber: Aljazeera/Republika

Dampak Agresi Israel, PBB:  1,5 Juta Penduduk Gaza Mengungsi

Dampak Agresi Israel, PBB: 1,5 Juta Penduduk Gaza Mengungsi

NewsINH, Gaza – Perang dan genosida Israel di Jalur Gaza, Palestina mengakibatkan penderitaan semakin panjang bagi jutaan warga Palestina. Pasalnya, dari 2,3 juta populasi penduduk Palestina di Jalur Gaza, 1,5 juta orang saat ini menjadi pengungsi.

Mereka mencari tempat perlindungan yang aman dari serangan rudal Israel, seperti sekolah-sekolah milik PBB maupun rumah sakit dan tenda-tenda darurat yang didirikan dengan sangat sederhana.

“Saat ini ada 1,5 juta orang menjadi pengungsi internal di Gaza dari total populasi 2,3 juta jiwa,” kata badan PBB urusan pengungsian di Palestina seperti dikutip dari Aljazeera, Senin (6/11/2023).

Pemogokan dan pengungsian terjadi ketika Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Tepi Barat yang diduduki pada hari Minggu.

Blinken menegaskan kembali posisi Washington yang menyerukan “jeda kemanusiaan” di Gaza untuk melindungi warga sipil dan mengizinkan warga negara asing untuk pergi sambil “masih memungkinkan Israel mencapai tujuannya” untuk mengalahkan pasukan pejuang kemerdekaan Palestina yakni Hamas.

Baik Mesir maupun Yordania mengecam sikap tersebut secara terbuka pada konferensi pers pada hari Sabtu, dan malah menyerukan gencatan senjata segera yang sejalan dengan sikap para pemimpin lain di wilayah tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menolak gagasan untuk menghentikan serangan tersebut, mengabaikan seruan dan protes di seluruh dunia.

“Tidak akan ada gencatan senjata tanpa kembalinya sandera kami, kami mengatakan hal ini kepada musuh dan teman kami. Kami akan terus melanjutkan sampai kami mengalahkan mereka,” kata Netanyahu kepada awak udara dan darat di Pangkalan Angkatan Udara Ramon di Israel selatan pada hari Minggu.

Israel mengatakan pihaknya menargetkan pejuang dan aset Hamas, menuduh kelompok tersebut menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia. Kritikus mengatakan serangan Israel tidak proporsional, mengingat banyaknya warga sipil yang tewas.

Sumber: Aljazeera

UNRWA: Pengungsi Palestina di Suriah Butuh Bantuan untuk Keberlangsungan Hidup

UNRWA: Pengungsi Palestina di Suriah Butuh Bantuan untuk Keberlangsungan Hidup

NewsINH, Damaskus – Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina  (UNRWA) di Suriah mendesak semua peserta Konferensi Donor Internasional hari ini di Brussels untuk mendukung kebutuhan keuangan.

UNRWA mendesak badan tersebut untuk mengucurkan dana sebesar $16,2 juta untuk UNRWA 2023 Syria-Lebanon Flash Appeal, untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan dan pemulihan awal Pengungsi Palestina yang terkena dampak krisis ini.

Gempa dahsyat yang melanda bagian utara Suriah pada 6 Februari berdampak pada ribuan Pengungsi Palestina. Ada hampir 47.000 Pengungsi Palestina yang terkena dampak di Aleppo, Latakia, Jableh, dan Hama. Lebih dari 2.300 terus mengungsi, kata UNRWA dalam pernyataan pers.

UNRWA dapat menanggapi kebutuhan penduduk yang terkena dampak yang dapat diaksesnya, termasuk makanan dan barang-barang non-makanan seperti perlengkapan kebersihan dan selimut, dukungan psiko-sosial untuk anak-anak, dan dukungan pengobatan jarak jauh untuk individu yang rentan, termasuk orang lanjut usia, kata UNRWA.

Badan ini telah mendistribusikan bantuan tunai kepada keluarga Pengungsi Palestina di daerah yang terkena dampak. Sekolah UNRWA telah dibuka dan anak-anak menerima dukungan melalui kelas lanjutan dan dukungan psiko-sosial, tambah UNRWA.

Selain itu, ada hampir 10.000 Pengungsi Palestina yang tinggal di barat laut Suriah yang terkena dampak gempa bumi dan sangat membutuhkan bantuan.

“Kami menyerukan kepada para donor untuk mendukung semua yang terkena dampak, termasuk Pengungsi Palestina di daerah-daerah ini sehingga mereka dapat menerima bantuan yang sangat mereka butuhkan,” seru UNRWA.

“UNRWA di Suriah berkomitmen untuk memberikan bantuan penting kepada Pengungsi Palestina setelah bencana ini, tetapi kami tidak dapat melakukan ini sendirian. Kami menghimbau para donatur untuk bergabung dalam upaya kami dan memprioritaskan kebutuhan semua yang terkena dampak gempa, termasuk mereka yang berada di barat laut Suriah. Bersama-sama, kita dapat membuat perbedaan dalam kehidupan mereka yang paling rentan dan sangat membutuhkan dukungan kita,” tutup pernyataan tersebut.

 

Sumber: Wafa

#Donasi Palestina

UNRWA: 90% Pengungsi Palestina Hidup dalam Kemiskinan

UNRWA: 90% Pengungsi Palestina Hidup dalam Kemiskinan

NewsINH, Amman – Hampir 90 persen pengungsi Palestina di Suriah dan Lebanon hidup dalam  kemiskinan. Bakan tingkat kemiskinan saat ini merupakan hal yang terparah dan belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Komisaris Jenderal  Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, saat berkunjung di ibu kota Yordania, Amman.

“Status quo pengungsi Palestina di Lebanon telah mencapai titik terendah, dengan sebagian besar dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan,” kata Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini.

Lazzarini menambahkan bahwa pertemuan donor UNRWA berguna untuk membahas upaya mendukung badan tersebut, dan untuk mencapai lingkungan keuangan yang stabil.

Menyoroti peningkatan kebutuhan komunitas pengungsi, Lazzarini mencatat bahwa 40 persen mahasiswa UNRWA tidak bisa makan sarapan setiap pagi.

“UNRWA sangat membutuhkan antara $50 hingga $80 juta untuk dapat mengakhiri tahun ini dan menjaga agar sekolah dan pusat kesehatan serta layanan dasar lainnya tetap berjalan,” tegasnya, menambahkan bahwa badan tersebut membutuhkan “$200 juta untuk mendukung transformasi digital dan mendukung aset yang terkuras.

Sebelumnya, Komite Keempat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) menggelar sidang. Dalam keputusnya UNGA mengadopsi empat resolusi yang mendukung Palestina, termasuk memperpanjang mandat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dan ilegalitas permukiman Israel.

 

Sumber: Middleeastmonitor

Mandat UNRWA Diperpanjang, Dukungan Dunia Internasional untuk Palestina Terus Mengalir

Mandat UNRWA Diperpanjang, Dukungan Dunia Internasional untuk Palestina Terus Mengalir

NewsINH, New York – Komite Keempat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) menggelar sidang. Dalam keputusnya UNGA mengadopsi empat resolusi yang mendukung Palestina, termasuk memperpanjang mandat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dan ilegalitas permukiman Israel.

Dilansir dari Middleeastmonitor, Senin (14/11/2022). Pada perpanjangan operasi UNRWA, 164 negara memberikan suara mendukung resolusi tersebut, enam negara memberikan suara menentangnya dan lima lainnya abstain.

Sementara itu, 165 negara memberikan suara mendukung resolusi untuk membantu pengungsi Palestina, sementara sepuluh negara abstain dan hanya Israel yang menolaknya.

Pada saat yang sama, 160 negara memberikan suara mendukung resolusi tentang properti para pengungsi Palestina dan pendapatan mereka, sementara tujuh negara memberikan suara menentang resolusi dan tujuh negara abstain.

Selain itu, 150 negara memberikan suara mendukung resolusi tentang permukiman dan praktik Israel di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur dan Golan Suriah yang diduduki, sementara delapan negara memberikan suara menentang resolusi tersebut dan 14 abstain.

Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina Riyad Al-Maliki memuji pemungutan suara dan dukungan internasional dari resolusi yang mendukung Palestina.

Al-Maliki mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa suara positif dari negara-negara tersebut datang sehubungan dengan pelanggaran sistematis Israel terhadap warga Palestina dan hak-hak mereka dan kurangnya komitmen Israel terhadap hukum internasional.

Dia menambahkan bahwa keputusan ini menegaskan hak-hak yang sah dari Palestina, yang terutama adalah hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak kembalinya para pengungsi.

 

Sumber: Middleeastmonitor

Gerbang Pengungsi Shufat dan Kota Anata Ditutup Israel, Ratusan Ribu Warga Palestina Terkepung

Gerbang Pengungsi Shufat dan Kota Anata Ditutup Israel, Ratusan Ribu Warga Palestina Terkepung

NewsINH, Al Quds – Ratusan ribu pengungsi Palestina tidak bisa leluasa melakukan aktivitas setelah tentara Israel menutup semua pintu yang menjadi akses keluar masuk dari kamp pengungsi Shufat dan kota Anata di dekat timur laut Yerusalem, Palestina. Penguncian paksa di semua pos pemeriksaan ini sudah berlangsung selama tiga hari.

Dilansir dari kantor berita Palestina, Wafa Selasa (11/10/2022). Pada saat yang sama, pasukan pendudukan Israel terus menyerbu rumah-rumah di dua komunitas tersebut, bentrok dengan penduduk dan menahan orang-orang ketika ratusan tentara, agen keamanan, polisi, dan anggota intelijen terus mencari seorang warga Palestina yang mereka klaim sebagai pelaku serangan fatal pada Sabtu malam di pos pemeriksaan tentara kamp pengungsi Shufat yang menewaskan seorang tentara wanita dan melukai seorang petugas keamanan Israel.

Tentara telah mencegah semua penduduk, termasuk pelajar, meninggalkan kamp, ​​yang dipisahkan dari Yerusalem Timur oleh tembok beton setinggi delapan meter dan pos pemeriksaan militer meskipun faktanya terletak di dalam batas kota Yerusalem.

Ratusan warga juga terdampar di dalam dan di luar kamp dan kota ketika tentara mencegah mereka meninggalkan atau memasuki daerah-daerah ini setelah menguncinya menyusul serangan penembakan yang mendorong warga Palestina untuk membantun menawarkan mereka makanan dan tempat berlindung sementara mereka menunggu tentara untuk membuka kembali pos pemeriksaan lagi.

Laporan dari kamp pengungsi mengatakan setidaknya 20 orang ditangkap sejak serangan itu, termasuk, menurut klaim militer Israel tersmasuk salah seorang anggota keluarga tersangka yang melakukan penyerang.

Sebuah sumber lokal mengatakan bahwa polisi Israel menyerang seorang ayah dan anaknya dengan menggunakan granat kejut di perut ketika ia mencoba untuk menghadapi pasukan Israel ketika mencoba untuk menangkap putranya yang berusia 24 tahun. Pria itu dibawa ke rumah sakit untuk perawatan sementara anakanya dibawa petugas untuk ditahan.

Walikota Anata Taha Rifai mengatakan bahwa pasukan Israel hari ini terus mendobrak masuk ke rumah-rumah warga dan meneror keluarga, menghentikan orang-orang di jalan-jalan dan memeriksa surat-surat mereka, sambil memaksa toko-toko tutup. Beberapa toko juga melaporkan kekurangan pasokan karena penutupan pos pemeriksaan di dua komunitas ini.

 

Sumber: Wafa

UNRWA Alami Krisis Keuangan, Kehidupan Pengungsi Palestina Memprihatinkan

UNRWA Alami Krisis Keuangan, Kehidupan Pengungsi Palestina Memprihatinkan

NewsINH, Ramallah – Nasib ribuan pengungsi Palestina semakin memprihatinkan dan terancam alami kelaparan. Pasalnya, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengumumkan kini anggaran untuk pengungsi mengalami defisit atau krisis.

“Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengalami defisit anggaran hingga 100 juta dolar AS. Kondisi tersebut akan membuat UNRWA tak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengungsi Palestina yang jumlahnya terus meningkat,” kata Kepala Departemen Pengungsi di Organisasi Pembebasan Palestina Ahmad Abu Holi, seperti dilansir dari kantor berita Palestina Wafa, Senin (25/7/2022).

Menurutnya, tingkat kemiskinan, pengangguran, dan kerawanan pangan yang tinggi di antara para pengungsi Palestina mengharuskan komunitas internasional bertindak untuk mendukungnya (UNRWA) serta menyediakan dana yang cukup dan berkelanjutan.

Menurut Abu Holi, krisis keuangan telah membuat UNRWA meminjam dana dari lembaga internasional lainnya untuk menggaji para pegawainya pada Mei lalu. “Dukungan Arab terhadap UNRWA akan menjadi fokus diskusi dalam sesi ke-108 Konferensi Pengawas Urusan Palestina, yang akan diadakan Liga Arab di Kairo pada Ahad (24/7/2022),” ucapnya.

Awal tahun ini, UNRWA mengungkapkan, mereka membutuhkan dana 1,6 miliar dolar AS. Uang itu diperlukan untuk mempertahankan layanan-layanan vital bagi jutaan pengungsi Palestina tahun ini. Mereka berharap komunitas internasional dapat memberikan kontribusi.

“Pendanaan ini akan memenuhi mandat Majelis Umum PBB untuk menyediakan jutaan pengungsi Palestina, layanan dan program penyelamatan jiwa, termasuk pendidikan, kesehatan serta bantuan makanan,” kata UNRWA dalam sebuah memo yang dikirim ke Middle East Monitor pada 18 Januari lalu.

Dana 1,6 miliar dolar yang dibutuhkan juga akan digunakan untuk mengatasi kebutuhan kemanusiaan pengungsi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Suriah, dan Lebanon. Komisaris Jenderal Philippe Lazzarini sempat mengatakan masyarakat internasional mengakui peran lembaganya dalam menyelamatkan para pengungsi Palestina. UNRWA turut berkontribusi dalam menciptakan stabilitas di Timur Tengah.

“Pada tahun 2022, pengakuan itu harus didukung tingkat pendanaan memadai guna memenuhi momen kritis bagi para pengungsi Palestina. Kekurangan anggaran yang kronis mengancam mata pencaharian dan kesejahteraan para pengungsi Palestina yang dilayani UNRWA dan menimbulkan ancaman serius bagi kemampuan UNRWA untuk mempertahankan layanan,” ujar Lazzarini.

Dia menjelaskan, pandemi Covid-19 terus menimbulkan risiko kesehatan yang serius dan memperburuk kesulitan ekonomi di seluruh wilayah. “Sekarang diperkirakan 2,3 juta pengungsi Palestina hidup dalam kemiskinan. UNRWA adalah satu-satunya sumber kehidupan mereka yang tersisa,” kata Lazzarini.

 

Sumber: Republika/Wafa