Israel Gempur Rafah, Kini Tak Ada Lagi Tempat Berlindung bagi Warga Gaza

Israel Gempur Rafah, Kini Tak Ada Lagi Tempat Berlindung bagi Warga Gaza

NewsINH, Gaza – Warga Palestina yang mengungsi ke Rafah terpaksa harus kembali pindah setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi. PBB memperkirakan lebih dari 100 ribu orang melakukan evakuasi sementara pasukan Israel mengatakan 300 ribu orang.

“Mereka meminta kami pergi tiga kali, dan para tetangga datang dan mengatakan segera keluarga. Mereka mengirimkan perintah evakuasi ke seluruh wilayah. Apa yang harus kami lakukan di sini? Apakah kami menunggu sampai kami semua mati bertumpuk-tumpukan? Sehingga kami memutuskan lebih baik pergi,” kata seorang warga Rafah, Hanan al-Satari seperti dikutip dari Aljazirah, Sabtu (11/5/2024).

Warga lainnya Faten Lafi mengatakan, warga dipaksa pergi setelah tentara Israel mengancam mereka, melalui sambungan telepon dan unggah di media sosial Facebook. “Kami pergi karena takut dan terpaksa. Kami pergi ke tempat yang tidak diketahui dan sama sekali tidak ada tempat aman, semua tempat tidak ada yang aman,” katanya.

Sementara itu militer Israel mengatakan operasi mereka dalam 24 jam terakhir di Rafah merupakan operasi terbatasan. Tapi Aljazirah melaporkan militer Israel terus memperluas operasinya, menggelar serangan udara dan pengeboman intensif yang dimulai dari pusat dan tengah-selatan Kota Rafah dekat Rumah Sakit Kuwait.

Serangan digelar dekat ribuan keluarga pengungsi mendirikan tenda-tenda sementara mereka di jalan atau zona evakuasi. Perintah evakuasi terbaru ini membuat orang-orang berada dalam ketidakpastian baru.

Warga tidak tahu harus pergi ke mana, terutama setelah adanya bukti “zona aman” yang ditetapkan militer Israel sama sekali tidak aman, banyak orang yang akhirnya terbunuh di dalam daerah yang ditetapkan sebagai zona aman.

Sejauh ini sudah banyak orang yang melarikan diri dari Rafah, namun masih ada lebih banyak lagi yang terjebak di daerah-daerah yang tidak dapat dievakuasi karena intensitas pengeboman dan kekuatan militer Israel yang ekstrem.

 

Sumber: Aljazirah/Republika

Alhamdulillah, Anggota G7 Dukung Berdirinya Negara Palestina

Alhamdulillah, Anggota G7 Dukung Berdirinya Negara Palestina

NewsINH, Munich – Negara-negara Kelompok Tujuh (G7) mendukung pendirian negara Palestina dan menekankan proses ke arah itu harus dimulai dengan dihentikannya pertempuran di Gaza, kata Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani baru-baru ini.

“Dokumen G7 berbicara tentang keinginan mencapai tujuan dua bangsa, dua negara, melalui penghentian atas konflik saat ini, yang akan memfasilitasi pembebasan sandera Israel tanpa syarat dan membantu penduduk sipil Palestina yang membutuhkan bantuan kemanusiaan,” kata Tajani.

Dia menyampaikan hal itu kepada wartawan usai mengikuti pertemuan dengan para menteri luar negeri anggota di G7 pada Konferensi Keamanan Munich di Jerman. “Setelah (penghentian konflik) itu, perundingan akan dimulai dan saya harap akan mengarah pada terciptanya perdamaian,” katanya dilansir Anadolu Agency.

Lebih dari 28 ribu warga Palestina telah tewas dalam serangan-serangan Israel di Jalur Gaza. Badan-badan PBB memperingatkan bahwa rencana serangan darat Israel di Kota Rafah di Gaza selatan dekat perbatasan dengan Mesir akan menimbulkan konsekuensi yang lebih buruk bagi warga sipil di sana.

Sekitar 1,5 juta warga Palestina yang sebelumnya mengungsi akibat serangan Israel di Gaza kini berada di Rafah, setelah menyelamatkan diri dari konflik yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah kantong Palestina itu. Tajani mengatakan para menlu G7 mengutuk kelompok perlawanan Palestina Hamas dan mengesampingkan peran politik mereka di Gaza jika perang berakhir.

Sebaliknya, G7 mendukung Otoritas Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel, tetapi badan tersebut harus dirombak agar dapat menjadi “protagonis” di Gaza, kata Tajani. “Posisi kami adalah, untuk menjamin keamanan Israel, kami minta agar para sandera segera dibebaskan dan mengupayakan deeskalasi untuk membantu warga sipil di Gaza,” katanya.

Dia menambahkan para menlu G7 mengutuk aksi kekerasan para pemukim Israel terhadap warga Palestina yang telah meningkat sejak 7 Oktober di wilayah pendudukan Tepi Barat. PBB dan sebagian besar komunitas internasional menganggap permukiman Israel itu bukan hanya ilegal, tetapi juga melemahkan upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan solusi dua negara.

AS, Inggris dan Prancis telah menjatuhkan sanksi terhadap para pemukim yang diduga melakukan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, dan menyerukan agar pemerintah Israel berbuat lebih banyak untuk menghentikan kejahatan tersebut.

Israel dituduh melakukan genosida (pembersihan etnis) di Mahkamah Internasional. Keputusan sementara mahkamah itu pada Januari memerintahkan Israel memastikan pasukannya tidak melakukan genosida dan menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan kepada warga sipil Palestina di Gaza.

Tajani juga mengatakan bahwa G7 terus memberikan dukungannya kepada Ukraina dalam perang melawan Rusia. “Kami terus memberikan dukungan kepada negara ini (Ukraina), yang menjadi korban serangan tidak berdasar. Kami juga menyatakan dengan jelas bahwa batasan wilayah udara harus dihormati, setelah kami menerima berita tentang inisiatif ruang angkasa nuklir Rusia,” kata Tajani.

Dia merujuk pada laporan tentang rencana Moskow mengerahkan senjata nuklir di luar angkasa. Menurut Tajani, meski kontribusi senjata Italia ke Ukraina lebih sedikit daripada negara-negara Barat lainnya, Italia telah berjanji untuk mendukung Ukraina dalam rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat perang.

Menjelang pertemuan di Munich itu, para menlu G7 mengheningkan cipta selama satu menit untuk menghormati tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny yang meninggal di penjara Rusia pada Jumat, menurut presidensi G7 Italia itu. “Rusia harus menjelaskan kematiannya dan menghentikan penindasan yang tidak dapat diterima terhadap perbedaan pandangan politik,” kata Tajani.

 

Sumber: Anadolu/Antara/Republika

Mantab…!!!, Spanyok Kirim Tambahan Bantuan Dana Kemanusiaan ke Gaza

Mantab…!!!, Spanyok Kirim Tambahan Bantuan Dana Kemanusiaan ke Gaza

NewsINH, Madrid – Spanyol akan mengirimkan bantuan tambahan sebesar 3,5 juta euro ($3,8 juta) kepada badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA, kata Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares kepada anggota parlemen, seperti dikutip dari Tempo, Selasa (6/2/2024).

Para donor utama UNRWA, termasuk Amerika Serikat dan Jerman, menangguhkan pendanaan setelah muncul tuduhan bahwa sekitar 12 dari puluhan ribu karyawan Palestina dicurigai terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel.

“Situasi UNRWA sangat memprihatinkan dan ada risiko serius bahwa kegiatan kemanusiaannya akan lumpuh di Gaza dalam beberapa minggu,” kata Albares kepada anggota parlemen.

Madrid menyumbangkan 18,5 juta euro langsung ke UNRWA pada 2023, termasuk 10 juta euro yang disetujui pada Desember menyusul keputusan untuk melipatgandakan bantuan pembangunan dan kemanusiaan ke wilayah Palestina.

Pada Jumat, negara tetangga Portugal mengumumkan bantuan tambahan kepada UNRWA senilai satu juta euro. Menteri Luar Negeri Joao Cravinho menulis di platform media sosial X bahwa penting untuk “tidak mengabaikan penduduk Palestina di masa sulit ini”.

Kepala badan bantuan utama Palestina PBB (UNRWA) mengunjungi tiga negara Teluk minggu ini, berupaya menggalang dukungan setelah donor utama menghentikan pendanaan menyusul tuduhan Israel bahwa beberapa stafnya terlibat dalam serangan 7 Oktober.

Sekitar 15 donor terpenting badan tersebut, termasuk Amerika Serikat, telah menangguhkan pendanaan atas tuduhan Israel yang melibatkan 12 dari 13.000 stafnya, sehingga mendorong UNRWA untuk memperingatkan pekan lalu bahwa lembaga tersebut mungkin terpaksa ditutup pada akhir Februari.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya mengatakan sembilan orang yang terlibat telah diberhentikan, satu orang tewas dan dua lainnya sedang diklarifikasi identitasnya.

Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan di platform X bahwa dia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan pada Senin untuk membahas pekerjaan UNRWA dalam “menjaga stabilitas di kawasan” dan memberikan bantuan kepada dua juta orang di Gaza.

Juru bicara Juliette Touma mengatakan kepada Reuters bahwa Lazzarini kemudian akan mengunjungi Qatar dan Kuwait akhir pekan ini.

“Kami berharap mereka yang menunda (pendanaan) akan mempertimbangkan kembali dan yang lain juga akan mengambil langkah maju,” katanya.

Kuwait dan Qatar menempati posisi ke-19 dan ke-20 dalam daftar 20 donor teratas UNRWA, masing-masing memberikan $12 juta dan $10,5 juta pada 2022. Uni Emirat Arab tidak termasuk dalam daftar tersebut.

UNRWA, yang didirikan pada 1949 setelah perang seputar berdirinya Israel, memberikan layanan pendidikan, kesehatan dan bantuan penting kepada jutaan warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Suriah dan Lebanon. Di Gaza, mereka menyediakan perlindungan bagi sekitar satu juta orang yang baru mengungsi akibat Perang Israel Hamas.

Meskipun beberapa negara seperti Spanyol dan donor swasta telah mengambil tindakan untuk membantu lembaga tersebut sejak krisis keuangan dimulai bulan lalu, Touma mengatakan bahwa bantuan tersebut tidak cukup untuk menutup kesenjangan yang diperkirakan berjumlah sekitar $440 juta.

 

Sumber : Tempo/Reuters

Genosidea Israel di Gaza Telah Renggut 25 Ribu Lebih Nyawa Warga Sipil

Genosidea Israel di Gaza Telah Renggut 25 Ribu Lebih Nyawa Warga Sipil

NewsING, Gaza – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, menyatakan jumlah korban jiwa hingga saat ini telah melewati angka 25 ribu sejak serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober silam. Lebih dari setengah yang meninggal dunia merupakan anak-anak dan perempuan.

“Sebanyak 25.105 warga Palestina telah meningal dan 62.681 lainnya terluka dalam serangan Israel sejak 7 Oktober,” kata Kementerian Gaza dalam sebuah pernyataan.

Laporan tersebut tidak membedakan antara kematian warga sipil dan militan, namun menyatakan sebagian besar korban tewas adalah warga sipil yang tak berdosa.

Israel melancarkan kampanyenya untuk melenyapkan Hamas setelah kelompok pejuang kemerdekaan Palestina tersebut menyerbu Israel pada 7 Oktober dan mengamuk di kota-kota dan pangkalan-pangkalan di wilayah selatan, menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyeret 253 sandera kembali ke daerah kantong tersebut.

Pasukan Israel mengatakan mereka telah membersihkan sebagian besar wilayah utara Gaza dari jaringan militer Hamas dan lebih dari satu juta penduduk wilayah tersebut telah pindah ke selatan untuk menghindari pengeboman. Namun pertempuran terus berlanjut di kamp pengungsi Jabalia dan daerah lain di sekitar Kota Gaza.

Warga Palestina yang masih berada di wilayah tersebut menggambarkan kondisi yang mengerikan.

“Kami berjuang untuk bertahan hidup dari bom, tapi sejujurnya kami berusaha untuk lebih bertahan dari kelaparan. Mencari makanan untuk keluarga, untuk anak-anak, telah menjadi petualangan yang lebih menantang daripada bertahan dari perang,” Amer, 32, ayah dari tiga anak yang tinggal di Gaza utara , mengatakan kepada Reuters.

Dia mengirim pesan melalui kartu eSIM, satu-satunya alat warga Gaza untuk terhubung dengan dunia luar di tengah gangguan komunikasi yang terjadi selama sembilan hari. Harga tepung, misalnya, melonjak seiring dengan melonjaknya bahan pangan lain yang sulit didapat di wilayah yang sudah miskin.

“Di tengah kelaparan yang mengancam warga Gaza utara, masyarakat mulai menggiling apa yang tersedia untuk membuat tepung, mulai dari jagung hingga makanan hewani,” Anas Al-Sharif, seorang jurnalis lepas Palestina yang melaporkan dari Gaza utara, memposting di akun X.

Kemenangan Palsu

Militer Israel mengatakan tentaranya telah membunuh 15 pria bersenjata Palestina dalam pertempuran di Jalur Gaza utara, sementara penembak jitu, yang didukung oleh dukungan udara, telah “menumpas sejumlah teroris” di Khan Younis.

Pejabat Hamas Sami Abu Zuhri menolak pernyataan Israel dan laporan jumlah korban tewas, dengan mengatakan bahwa hal itu dimaksudkan untuk “menggambarkan kemenangan palsu dan khayalan”.

Warga Palestina mengatakan pertempuran sengit telah terjadi di Jabalia selama tiga hari terakhir. Suara tembakan dari udara dan tanah tidak henti-hentinya, kata mereka. Beberapa bangunan terbakar dan asap mengepul di lokasi jatuhnya bom.

Di sepanjang pantai selatan Gaza, para saksi mata mengatakan kapal-kapal angkatan laut Israel menembaki pantai tersebut.

Di kota selatan Rafah, di mana lebih dari satu juta pengungsi terkonsentrasi, tiga warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah mobil. Mobil lain ditabrak di Kota Gaza, menewaskan tiga orang lainnya, kata pejabat kesehatan.

Kekerasan juga meningkat di Tepi Barat yang diduduki Israel, di mana saingan Hamas, Otoritas Palestina, mempunyai pemerintahan sendiri yang terbatas. Kementerian Kesehatan Palestina di sana mengatakan pasukan Israel telah membunuh 360 warga Palestina sejak 7 Oktober.

 

Sumber : TEMPO / REUTERS

Biadab, 3 Warga Palestina Dibunuh Pasukan Israel di Tepi Barat

Biadab, 3 Warga Palestina Dibunuh Pasukan Israel di Tepi Barat

NewsINH, Tepi Barat – Pasukan Israel semakin bengis dan keji. Tak hanya wilayah Jalur Gaza yang diserang mereka juga membunuh tiga warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Dua orang meninggal di Dura dekat Hebron, dan satu orang lagi meninggal di dekat Tulkarem.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, setidaknya tiga warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki. Dua warga Palestina ditembak pada hari Senin saat terjadi konfrontasi dengan militer Israel di kota Dura dekat Hebron di Tepi Barat bagian selatan,

“Mohammed Hasan Abu Sabaa, 22, meninggal setelah dia ditembak tepat di jantungnya oleh pasukan Israel,” kata Kementrian Kesehatan seperti di kutip dari Wafa, Selasa (16/1/2024).

Sementara itu, Ahed Mahmoud Mohammed, 23, meninggal setelah dia ditembak di kepala, kata direktur Rumah Sakit Pemerintah Dura. Sepuluh orang lainnya diangkut ke rumah sakit dengan luka tembak.

“Dalam insiden terpisah, Fares Khalifa, 37, ditembak mati oleh pasukan Israel di dekat Tulkarem di bagian utara Tepi Barat,” jelasnya.

Militer Israel mengatakan pasukannya melepaskan tembakan ke arah sekitar 100 warga Palestina yang ikut serta dalam protes di mana batu bata dan bom api dilemparkan ke arah tentara. Pihak militer mengatakan pria yang tertembak itu melemparkan bom api, namun tidak memberikan bukti atas tuduhan tersebut.

Sejak perang di Jalur Gaza yang terkepung dimulai pada tanggal 7 Oktober, Tepi Barat telah mengalami peningkatan kekerasan dan serangan oleh pasukan Israel yang belum pernah terjadi sejak Intifada kedua pada tahun 2000 hingga 2005.

Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), pasukan Israel telah membunuh 30 warga Palestina, termasuk tujuh anak-anak, di Tepi Barat dalam 15 hari pertama tahun ini.

Tahun lalu, 507 warga Palestina terbunuh, angka kematian tahunan tertinggi sejak OCHA mulai mencatat korban jiwa pada tahun 2005.

 

Sumber: Wafa

“Free Palestine” Menggema dalam Aksi Bela Palestina di Monas

“Free Palestine” Menggema dalam Aksi Bela Palestina di Monas

NewsINH, Jakarta – Aksi bertajuk ‘Munajat Kubro Untuk Keselamatan NKRI dan Kemenangan Palestina’ digelar di Silang Monas Jakarta Pusat pada Sabtu (2/12/2023). Dalam aksi damai ini ribuan umat muslim menggemakan ‘free Palestine’ secara serentak dan diucapkan berulang-ulang dengan takbir yang membuat merinding bagi siapapun yang mendengarkan.

Dalam pantauan dilapangan, massa aksi menggemakan ‘free Palestine’ yang dipimpin langsung dari panggung komando tepat di depan Tugu Monas pukul 07.31 WIB. Massa juga tak hentinya mengibarkan bendera Palestina.

Selain melakukan aksi, mereka juga melakukan doa bersama. Massa dari berbagai daerah di Jabodetabek maupun luar daerah ini memadati Silang Monas pukul 06.15 WIB.

Acara tersebut juga merupakan reuni Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang dimulai sejak dini hari pukul 03.00 WIB untuk melakukan salat tahajud, munajat dan subuh berjamaah.

Massa aksi terus bersholawat bersama, kemudian bakal melanjutkan dengan tausiah pendakwah nasional hingga pukul 09.00 WIB.

Sejumlah tokoh nasional dan ulama berkumpul di tempat tersebut termasuk Muhammad Husein Founder International Networking for Humanitarian (INH) dan aktivis kemanusiaan yang telah tinggal di Jalur Gaza lebih dari 12 tahun.

“Ini adalah aksi solidaritas yang sangat luar biasa, semoga dengan dukungan kita disini, Negara Palestina dan khususnya Gaza bisa segera merdeka dan terbebas dari penjajahan Israel,” kata Husein.

Husein mengaku terharu dengan semangat juang para peserta aksi bela Palestina. Mereka sangat antusias dan semangat dalam ikut serta mendoakan saudara-saudara kita di Palestina.

“Semoga langka yang kita perbuat hari ini bisa menjadi jalan kemudahan saudara-saudara kita di Palestina, terutama pasca gencatan senjata yang ternyata pihak Israel juga masih terus menghujani roket di Jalur Gaza,” teranganya.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal PA 212, Novel Bamukmin menegaskan, acara pada tahun ini murni menyuarakan membela Palestina. Tidak akan ada yang menyerukan tentang politik atau untuk mendukung salah satu pasangan calon (paslon) pada Pilpres 2024. “Reuni 212 kali ini bela Palestina dan ini murni tidak ada pesan politik,” katanya dikutip dari Antara. (***)

Melonjak 100 Kali Lipat, Penyakit Diare Ancam Anak-Anak di Jalur Gaza

Melonjak 100 Kali Lipat, Penyakit Diare Ancam Anak-Anak di Jalur Gaza

NewsINH, Jenewa – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan lonjakan penyakit menular dan diare pada anak-anak di Gaza. Otoritas kesehatan Gaza mengatakan, lebih dari 15 ribu orang meninggal dunia dalam pengeboman Israel dan sekitar 40 persen di antaranya anak-anak.

“Pada akhirnya kita akan melihat lebih banyak orang meninggal karena penyakit daripada yang kita lihat akibat pengeboman jika kita tidak mampu mengembalikan (menyatukan) sistem kesehatan ini,” kata Margaret Harris dari WHO pada briefing PBB di Jenewa.

Harris menegaskan kekhawatirannya mengenai peningkatan penyakit menular, khususnya diare pada bayi dan anak-anak di Gaza. Menurut dia, kasus diare pada anak-anak berusia lima tahun ke atas melonjak hingga lebih dari 100 kali lipat dari tingkat normal pada awal November.

“Semua orang di manapun kini mempunyai kebutuhan kesehatan yang sangat mendesak karena mereka kelaparan karena kekurangan air bersih dan (mereka) berdesakan,” ujar Harris.

Berdasarkan ketentuan jeda pertempuran, Israel mengizinkan lebih banyak bantuan mengalir ke Gaza termasuk makanan, air, dan obat-obatan. Namun, lembaga bantuan mengatakan bantuan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang sangat besar.

James Elder, juru bicara Badan Anak-anak PBB di Gaza, mengatakan, rumah sakit di wilayah tersebut penuh dengan anak-anak yang menderita luka bakar dan pecahan peluru serta gastroenteritis karena meminum air kotor. “Saya bertemu banyak orang tua. Mereka tahu persis apa yang dibutuhkan anak-anak mereka. Mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih dan ini melumpuhkan mereka,” katanya.

Elder melihat seorang anak dengan sebagian kakinya yang telah terputus akibat serangan Israel. Anak itu tergeletak di lantai rumah sakit selama beberapa jam, tanpa mendapat perawatan karena kurangnya tenaga medis.

Anak-anak lain yang terluka terbaring di kasur darurat di tempat parkir dan taman di halaman Rumah sakit. “Di mana pun dokter harus membuat keputusan yang mengerikan, Anda tahu, siapa yang mereka prioritaskan,” ujar Elder.

Mengutip laporan PBB mengenai kondisi kehidupan para pengungsi di Gaza utara, Harris mengatakan, tidak ada obat-obatan, tidak ada kegiatan vaksinasi, tidak ada akses terhadap air bersih dan kebersihan serta tidak ada makanan.

Dia menggambarkan runtuhnya Rumah Sakit Al Shifa di Gaza utara sebagai sebuah tragedi dan menyuarakan keprihatinan tentang penahanan beberapa staf medisnya oleh pasukan Israel selama konvoi evakuasi WHO. Hampir tiga perempat rumah sakit, atau 26 dari 36 rumah sakit, telah ditutup seluruhnya di Gaza, karena pemboman atau kekurangan bahan bakar.

 

Sumber: Republika

Organisasi Kesehatan Dunia: Wabah Penyakit Mematikan Lebih Berbahaya Daripada Bom di Gaza

Organisasi Kesehatan Dunia: Wabah Penyakit Mematikan Lebih Berbahaya Daripada Bom di Gaza

NewsINH, Whasington – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebut bahwa lebih banyak orang berisiko meninggal karena penyakit dibandingkan akibat pemboman di Gaza, Palestina, jika sistem kesehatan di wilayah tersebut tidak segera pulih.

“Pada akhirnya kita akan melihat lebih banyak orang meninggal karena penyakit dibandingkan akibat pemboman jika kita tidak dapat memulihkan sistem kesehatan ini,” kata juru bicara Margaret Harris, dilansir dari Al Jazeera.

Infrastruktur penting di wilayah yang terkepung telah dilumpuhkan lantaran kekurangan bahan bakar, serta serangan yang ditargetkan terhadap rumah sakit dan fasilitas PBB sejak Israel melancarkan serangan ke Gaza pada 7 Oktober 2023 lalu.

Dia menggambarkan runtuhnya Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza Utara sebagai sebuah tragedi dan menyuarakan keprihatinan tentang penahanan beberapa staf medisnya oleh pasukan Israel yang mengambil alih kompleks tersebut awal bulan ini.

Ia juga mengulangi kekhawatirannya mengenai peningkatan wabah penyakit menular di Gaza, khususnya penyakit diare.

“Tidak ada obat-obatan, tidak ada kegiatan vaksinasi, tidak ada akses terhadap air bersih dan kebersihan serta tidak ada makanan,” kata dia mengutip laporan PBB mengenai kondisi kehidupan para pengungsi di Gaza Utara.

Semua layanan sanitasi utama telah berhenti beroperasi di Gaza, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya lonjakan besar penyakit gastrointestinal dan penyakit menular di kalangan penduduk setempat, termasuk kolera.

WHO telah mencatat lebih dari 44.000 kasus diare dan 70.000 infeksi saluran pernapasan akut, namun jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi. Mereka juga khawatir bahwa hujan dan banjir menjelang musim dingin akan memperburuk situasi yang sudah mengerikan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Palestina Mai Alkaila mengatakan 35.000 orang yang terluka di Jalur Gaza membutuhkan perawatan. Sistem kesehatan yang hancur di Jalur Gaza akibat agresi Israel, kata dia, menyebabkan 26 dari 35 rumah sakit yang tidak dapat beroperasi lagi.

Dia menekankan perlunya membawa bantuan ke Jalur Gaza, yang menderita kekurangan nutrisi dan ransum, serta kekurangan obat-obatan dan pasokan medis. Sejauh ini, sebanyak 470 orang warga Jalur Gaza yang terluka telah diterima di rumah sakit Mesir.

Selama pemeriksaan terhadap korban luka di rumah sakit Mesir, Alkaila mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi terkait pemulangan lebih banyak korban luka dari Gaza dalam beberapa hari mendatang. (***)

 

Sumber: Aljazera/NUonline

 

Gencatan Senjata, 50 Truk Bantuan Kemanusiaan Dikirim ke Gaza Utara

Gencatan Senjata, 50 Truk Bantuan Kemanusiaan Dikirim ke Gaza Utara

NewsINH, Gaza – Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina Minggu (26/11/2023) kemarin mendistribusikan bantuan kemanusiaan dengan mengunakan 50 truk ke Kota Gaza dan Jalur Gaza utara. Bantuan kemanusiaan ini merupakan sumbangan dari dunia internasional melalui gerbang rafa.

“Hari ini (Minggu), kami mengirimkan konvoi bantuan yang terdiri dari 50 truk dari Rafah di Jalur Gaza selatan ke Kota Gaza dan sekitarnya di utara,” tulis laporan Bulan Sabit Merah Palestina seperti dikutip dari Anadolu Agency.

“Sekelompok relawan dari masyarakat di Gaza dan wilayah utara akan menerima konvoi tersebut dan menemaninya dalam pendistribusian bantuan kepada warga tangguh di Jalur Gaza,” tambah pernyataan itu.

Bantuan yang diberikan meliputi bahan-bahan bantuan, bahan makanan, air minum, obat-obatan, dan persediaan medis darurat. Masyarakat tidak merinci sumber pemberian bantuan tersebut.

Sementara itu, dua pejabat Qatar tiba di Gaza melalui perbatasan Rafah dengan Mesir, ketika jeda kemanusiaan arau gencatan senjata sementara di jalur yang terkepung itu.

“Menteri Negara Qatar untuk Kerjasama Internasional, Lolwah Al-Khater, dan Wakil Duta Besar dan Ketua Komite Qatar untuk Rekonstruksi Gaza, Khaled Al-Hardan, tiba di Jalur Gaza melalui penyeberangan darat Rafah,” direktur media Qatar. penyeberangan Rafah, kata Wael Abu Mohsen kepada Anadolu.

Tidak ada rincian mengenai tujuan kunjungan tersebut. Ini merupakan kunjungan pertama delegasi Qatar ke Gaza sejak pecahnya perang Israel di wilayah sempit tersebut pada 7 Oktober.

Jeda kemanusiaan selama empat hari, yang dimediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat, mulai berlaku pada hari Jumat, menghentikan sementara serangan Israel di Jalur Gaza.

Dalam dua hari pertama jeda, Israel dan kelompok Palestina Hamas menukar 41 warga Israel dan orang asing dengan 78 warga Palestina di penjara-penjara Israel. Berdasarkan perjanjian tersebut, para sandera dan tahanan akan dibebaskan secara bertahap selama empat hari.

Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober.

Sejak peperangan itu telah merenggut korban jiwa sedikitnya 14.854 warga Palestina, termasuk 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 wanita, menurut otoritas kesehatan Palestina di wilayah tersebut.

 

Sumber: Memo/Anadolu​

Gencatan Senjata Israel dan Hamas Ditunda Hingga Jumat Besok

Gencatan Senjata Israel dan Hamas Ditunda Hingga Jumat Besok

NewsINH,Palestina – Belum genap 24 jam pengumuman gencatan senjata selama 4 hari kedepan disepakati. Pertukaran 50 sandera yang ditawan Hamas dengan 150 warga Palestina yang ditahan di penjara Israel ditunda hingga hari Jumat (24/11/2023).

Gencatan senjata sementara antara kedua pihak pun juga tertunda. “Pelepasan akan dimulai sesuai kesepakatan awal antara para pihak, dan tidak sebelum hari Jumat,” kata Penasihat Keamanan Nasional Israel Tzachi Hanegbi dalam sebuah pernyataan, Kamis (23/11/2023) kemarin.

Berbagai media Israel dan Arab juga melaporkan bahwa penundaan pertukaran tahanan dan sandera telah menyebabkan gencatan senjata Israel-Hamas tertunda.

Seorang sumber Israel mengatakan kepada surat kabar Haaretz bahwa pertempuran di Gaza tidak akan berhenti selama belum ada batas waktu yang pasti untuk perjanjian dengan Hamas.

BBC juga melaporkan bahwa sumber pemerintah Israel mengatakan akan ada penundaan gencatan senjata, yang diperkirakan akan dimulai pada pukul 10.00 pagi pada hari Kamis dan pembebasan sandera diperkirakan akan dimulai segera setelahnya. Sementara itu, seorang pejabat Israel mengatakan kepada kantor berita AFP pada Kamis pagi bahwa pertempuran antara Israel dan Hamas tidak akan berhenti “sebelum hari Jumat”.

Dilain pihak, Pemerintah Iran memperingatkan ancaman meluasnya perang Israel-Hamas di Gaza jika gencatan senjata tidak diperpanjang. Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian saat mengunjungi Beirut, Lebanon, pada Rabu kemarin.

“Jika gencatan senjata ini dimulai besok, jika tidak dilanjutkan, kondisi di kawasan tidak akan sama seperti sebelum gencatan senjata dan cakupan perang akan meluas,” katanya kepada saluran televisi Al-Mayadeen.

“Kami tidak berupaya memperluas cakupan perang,” ujarnya.

“Jika intensitas perang meningkat, setiap kemungkinan akan memperluas cakupan perang,” paparnya, yang dilansir Al Arabiya, Kamis (23/11/2023).

Israel dan Hamas pada Rabu mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata selama empat hari dalam perang Gaza. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Hamas akan membebaskan sedikitnya 50 sandera yang mereka tawan dalam serangan mematikan ke Israel pada 7 Oktober.

Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sedikitnya 150 tahanan Palestina dan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza setelah lebih dari enam minggu melakukan pengeboman.

Amir-Abdollahian mengatakan Iran melihat dua pilihan yang diambil Israel. “Pertama, gencatan senjata kemanusiaan yang berubah menjadi gencatan senjata permanen,” katanya.

“Kedua adalah dengan mengancam rakyat Palestina, maka rakyat Palestina akan memutuskan sendiri,” ujarnya. “[Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu tidak dapat mewujudkan mimpinya untuk menghancurkan Hamas,” imbuh diplomat top Iran tersebut.

“Kami mendukung keputusan apa pun yang diambil Hamas,” sambung Amir-Abdollahian.

Dalam kunjungan keduanya ke Lebanon sejak perang Israel-Hamas dimulai, diplomat Iran itu bertemu dengan pejabat senior Lebanon dan Palestina. Sementara itu, di perbatasan antara Lebanon dan Israel telah terjadi peningkatan baku tembak, terutama antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, serta kelompok-kelompok Palestina.

Hal itu meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konflik yang lebih luas. Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati menekankan perlunya gencatan senjata total dan menghentikan agresi Israel di Gaza. “Mikati juga mendesak negara-negara berpengaruh untuk menekan Israel agar menghentikan serangannya terhadap Lebanon selatan, dan menghentikan penargetan terhadap warga sipil dan jurnalis pada khususnya,” kata Kantor Mikati.

 

Sumber:Sindonews