PBB Dekas Jalur Bantuan Kemanusian ke Gaza Dibuka Semua

PBB Dekas Jalur Bantuan Kemanusian ke Gaza Dibuka Semua

NewsINH, Gaza – Dermaga terapung yang baru saja selesai dibangun di lepas pantai Gaza untuk pengiriman bantuan dinilai kurang layak dibandingkan jalur darat, demikian disampaikan seorang juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (16/5/2024).

“Memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di dalam maupun di seluruh Gaza tidak dapat dan tidak boleh bergantung pada dermaga terapung yang jauh dari tempat yang paling membutuhkan bantuan,” kata Farhan Haq, wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Jalur darat merupakan metode pengiriman bantuan yang paling layak, efektif, dan efisien, oleh karena itu kita perlu membuka semua titik perlintasan. Guna mencegah bencana kelaparan, kita harus menggunakan rute tercepat dan paling jelas untuk menjangkau masyarakat Gaza, dan untuk itu, saat ini kita membutuhkan akses melalui darat,” ungkapnya.

Dermaga yang dibangun oleh militer Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan otoritas Israel itu berhasil berlabuh pada Kamis, seperti yang diumumkan oleh Israel dan AS.

Haq mengatakan badan dunia tersebut sedang merampungkan rencana operasional untuk memastikan bahwa pihaknya siap menangani bantuan begitu dermaga terapung itu berfungsi dengan baik, sekaligus memastikan keselamatan staf PBB.

“Kesadaran dan penerimaan masyarakat sangat penting untuk menjamin keselamatan dan keamanan operasi ini. Kami berterima kasih atas upaya Siprus, yang didukung oleh negara-negara anggota lainnya, untuk mempertahankan koridor maritim sebagai jalur tambahan untuk bantuan ke Gaza. Dan tentu saja, kami berterima kasih kepada AS atas semua upaya yang telah mereka lakukan dalam membangun dermaga terapung,” ujarnya.

Haq menyoroti kekurangan bahan bakar untuk pengiriman bantuan.

Tidak peduli bagaimana bantuan datang, baik melalui laut atau darat, tanpa bahan bakar, bantuan tidak akan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, tuturnya

Pengiriman bahan bakar ke Gaza pada dasarnya telah terhenti sejak militer Israel memulai serangan terhadap Rafah pada 6 Mei, dengan pengecualian yang sangat terbatas, kata sang juru bicara.

Perihal bantuan yang masuk ke Gaza, beberapa komoditas sudah masuk melalui pembukaan baru di Zikim.

Namun Zikim berada di wilayah barat laut, sementara yang paling membutuhkan bantuan berada di wilayah selatan. Ada sejumlah bantuan terbatas yang masuk ke Gaza melalui Kerem Shalom, meski perlintasan tersebut masih belum memungkinkan secara logistik, ujar Haq.

“Jadi intinya, hanya sedikit makanan yang bisa masuk dan soal bahan bakar, impor bahan bakar, untuk semua tujuan praktis, telah dihentikan. Kita sangat membutuhkan lebih banyak bahan bakar.”

 

Sumber: Antara/Tempo

Peringatan Nakba, Kemenlu RI Pastikan akan Selalu Berpihak pada Palestina

Peringatan Nakba, Kemenlu RI Pastikan akan Selalu Berpihak pada Palestina

NewsINH, Jakarta – Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) dalam acara peringatan Nakba ke-76 kembali menegaskan dukungan pemerintah serta rakyat Indonesia bagi kemerdekaan bangsa Palestina. Indonesia tidak akan bergerak sedikit pun dari dukungan terhadap Palestina, dan rakyat serta pemerintah akan selalu berpihak pada Palestina.

Acara peringatan hari Nakba ke-76 berlangsung di Kedutaan Besar Palestina, Jakarta Pusat pada Rabu, 15 Mei 2024. Rijal Al Huda, Koordinator Wilayah 3 Urusan Timur Tengah Kementerian Luar Negeri RI berharap peristiwa Nakba bisa menjadi pengingat bagi seluruh umat manusia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan dan kekejaman Israel.

“Di tengah kepedihan, hari Nakba melambangkan semangat tak tergoyahkan dari masyarakat yang menolak untuk dilupakan, dibungkam, atau dihapus. Rakyat dan Pemerintah Republik Indonesia menegaskan dukungan kita terhadap saudara-saudara kita di Palestina,” kata Rijal dalam pidatonya.

Masyarakat Palestina memperingati Hari Nakba setiap tahunnya pada 15 Mei. Peristiwa itu merupakan pengusiran dan pembersihan etnis massal terhadap sebagian besar rakyat Palestina yang berlangsung pada 1947 – 1948, sebelum berdirinya negara Israel.

Hari Nakba diresmikan oleh presiden pertama Otoritas Nasional Palestina (PLO) Yasser Arafat pada 1998, meski tanggal 15 Mei telah digunakan untuk protes sejak awal 1949. Tragedi Nakba dan pendudukan Palestina oleh Israel yang dimulai pada 1967 merupakan inti dari pelanggaran Israel terhadap hak-hak rakyat Palestina dan hukum internasional, menurut Kedubes Palestina dalam sebuah pernyataan.

Kini konflik kian meningkat di Gaza, yang diserang oleh Israel sejak 7 Oktober 2023 setelah kelompok Hamas menyerbu wilayah Israel selatan. Hamas saat itu menewaskan 1.139 orang dan menyandera 250 lainnya, menurut penghitungan Al Jazeera berdasarkan angka resmi pemerintah Israel.

Serangan dan blokade ketat Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 35.173 orang dan melukai lebih dari 79.061 lainnya, menurut penghitungan Kementerian Kesehatan Gaza. Rijal mengatakan pemerintah Indonesia akan terus mendorong gencatan senjata permanen dan pengiriman bantuan kemanusiaan di Gaza.

“Kami akan meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan dan pelanggaran hukum internasional mereka dan menyelesaikan akar masalahnya, yaitu pendudukan ilegal Israel atas Palestina.”

Pemerintah Indonesia telah membela hak bangsa Palestina untuk merdeka di berbagai forum internasional, diwakili oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, khususnya setelah serangan Israel di Gaza. Menlu Retno pada Februari lalu menyampaikan pernyataan lisan di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda tentang dampak hukum dari kebijakan dan praktik Israel di Wilayah Pendudukan Palestina.

Masyarakat Indonesia telah menggelar berbagai demonstrasi pro-Palestina sejak serangan Israel dimulai, dengan massa terbanyak di Aksi Bela Palestina yang berlangsung di Monumen Nasional, Jakarta Pusat pada 5 November 2023. Panitia Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina saat itu mengklaim lebih dari dua juta orang hadir. Sederetan pejabat pemerintah juga turut hadir, antara lain Menlu Retno, Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Ketua DPR Puan Maharani dan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

 

Sumber: Tempo

 

Subahnallah, Populasi Palestina Takan Pernah Habis Meski Dibantai Israel Berkali-kali

Subahnallah, Populasi Palestina Takan Pernah Habis Meski Dibantai Israel Berkali-kali

NewsINH, Gaza – Biro Statistik Palestina melaporkan, bahwa jumlah orang Palestina di wilayah pendudukan dan di luar negeri telah meningkat hampir sepuluh kali lipat sejak Nakba 1948. Hal ini disampaikan oleh Biro Statistis Palestina pada Minggu (12/5/2024) kemarin.

“meskipun ada sekitar satu juta orang Palestina yang mengungsi pada 1948 dan lebih dari 200.000 orang Palestina setelah perang Juni 1967, jumlah total warga Palestina di seluruh dunia mencapai 14,63 juta pada akhir 2023.” kata pernyataan tersebut.

Bagaimana rincian jumlah warga Palestina itu?

Selain itu, pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa “5,55 juta dari mereka [warga Palestina] tinggal di Negara Palestina (Jalur Gaza, Yerusalem Timur dan Tepi Barat) dan sekitar 1,75 juta warga Palestina di wilayah 1948, sementara jumlah warga Palestina di negara-negara Arab mencapai sekitar 6,56 juta dan mereka yang berada di luar negeri mencapai sekitar 772.000.”

“Dengan demikian, jumlah warga Palestina di Palestina bersejarah mencapai sekitar 7,3 juta warga Palestina, sementara jumlah warga Yahudi diperkirakan mencapai 7,2 juta pada akhir tahun 2023, yang berarti jumlah warga Palestina melebihi jumlah warga Yahudi di Palestina bersejarah,” imbuh pernyataan tersebut.

Biro Statistik Palestina menyebut juga bahwa “pendudukan Israel mengeksploitasi lebih dari 85% dari total wilayah Palestina yang bersejarah.”

Apa yang terjadi saat Nakba?

Selain itu, Biro tersebut juga mengulas beberapa peristiwa Nakba, yang membuat ratusan ribu warga Palestina mengungsi atau diusir dari kota dan desa mereka. “Lebih dari satu juta orang Palestina mengungsi dari total 1,4 juta orang Palestina yang tinggal di Palestina bersejarah pada tahun 1948,” kata mereka.

Biro tersebut menjelaskan bahwa pada tahun 1948, “pendudukan Israel menguasai 774 desa dan kota Palestina, 531 di antaranya dihancurkan, sementara sisanya tunduk pada entitas pendudukan dan hukum-hukumnya.”

Mereka menambahkan bahwa “proses pembersihan ini disertai dengan lebih dari 70 pembantaian yang dilakukan oleh gerombolan Zionis terhadap warga Palestina, yang mengakibatkan lebih dari 15.000 orang menjadi martir.”

Mengenai jumlah warga Palestina yang terbunuh dalam perjuangan yang sedang berlangsung dengan Israel selama 76 tahun terakhir, Biro mengatakan bahwa “lebih dari 134.000 telah mati syahid membela hak-hak Palestina sejak Nakba 1948.”

Berapa jumlah korban meninggal dalam konflik Palestina Israel pasca-2000?

Biro tersebut melanjutkan, “Jumlah syuhada sejak awal Intifada Al Aqsha pada tahun 2000 hingga 30 April 2024, mencapai sekitar 46.500 syuhada, di samping sekitar 35.000 syuhada dalam agresi Israel ke Jalur Gaza dari 7 Oktober 2023, hingga 7 Mei 2024.”

Di antara korban di Gaza, dilaporkan terdapat “lebih dari 14.873 anak-anak dan 9.801 perempuan, selain lebih dari 141 wartawan, sementara lebih dari 7.000 warga dianggap hilang, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, menurut catatan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza.”

Mengenai Tepi Barat, 492 martir telah gugur sejak dimulainya agresi pendudukan Israel pada 7 Oktober 2023, menurut pernyataan tersebut.

Nakba Sunyi di Al Naqab, Palestina

Pasukan pendudukan Israel menghancurkan 47 rumah milik keluarga Badui Abu Asa di gurun al-Naqab, Palestina, pada 8 Mei lalu, dan membuat mereka berada dalam pengasingan permanen.

Komite panduan Arab tertinggi di wilayah tersebut menyatakan bahwa pasukan pendudukan Israel telah merencanakan penutupan jalan di daerah tersebut pada pagi hari untuk mencegah protes.

Menurut komite tersebut, pembongkaran ini menandai operasi pembongkaran rumah terbesar dalam satu hari dalam beberapa dekade terakhir. Kelompok-kelompok Badui yang tinggal di al-Naqab adalah suku Arab tradisional yang memiliki sejarah mengolah tanah sejak abad ke-16.

Hal ini terjadi di tengah-tengah genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza dan serangan harian ke Tepi Barat.

 

Sumber: AL MAYADEEN/Tempo.co

Sejumlah Pasien di RS Gaza Utara Dievakukasi Tim Delegasi PBB

Sejumlah Pasien di RS Gaza Utara Dievakukasi Tim Delegasi PBB

NewsINH, Gaza – Delegasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengevakuasi sejumlah pasien dan korban luka dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Jalur Gaza utara. Hal ini dilakukan untuk melakukan penyelamatan dan menolong para pasien yang menderita dengan perawatan medis seadanya.

“Delegasi PBB pada Kamis tiba di rumah sakit dan mengevakuasi pasien dan korban luka, termasuk anak-anak, di luar Gaza dan ke rumah sakit di Gaza selatan,” kata kepala perawat Rumah Sakit Kamal Adwan, Eid Sabbah, kepada Anadolu. Jumat (3/5/2024) kemarin.

Akan tetapi, dia tidak menyebutkan secara pasti jumlah pasien yang dievakuasi. Sabbah menjelaskan tim PBB membawa peralatan medis dan makanan pasien anak-anak tanpa menyebutkan jumlahnya.

Ini bukan yang pertama bagi pasien atau korban luka dievakuasi tim PBB dari Gaza utara ke wilayah selatan, meski jumlahnya sangat terbatas.

Gaza utara dikepung ketat oleh Israel sehingga menyebabkan sejumlah rumah sakit yang beroperasi di sana mengalami kekurangan pasokan medis serta bahan bakar untuk generator rumah sakit.

Israel meluncurkan serangan militer mematikan di Gaza sejak kelompok perlawanan Palestina, Hamas, melancarkan serbuan ke Israel pada 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

Sebagai perbandingan, Israel telah membunuh lebih dari 34.600 warga Palestina dan melukai hampir 77.800 orang di tengah kehancuran massal dan krisis kebutuhan pokok di wilayah Palestina.

Sudah hampir tujuh bulan perang Israel berlangsung, sebagian besar wilayah Gaza hancur. Keadaan itu memaksa 85 persen penduduk di daerah kantong tersebut mengungsi di tengah pemutusan akses makanan, air bersih dan obat-obatan yang melumpuhkan, menurut PBB.

Israel dituduh di Mahkamah Internasional (ICJ) telah melakukan genosida dalam kasus yang dilayangkan. Keputusan sementara ICJ pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk mencegah aksi genosida dan mengambil sejumlah tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan menjangkau warga sipil di Gaza.

 

Sumber: Anadolu / Tempo

Kuburan Massal di Gaza, Parlemen Arab Desak Investigasi Internasional

Kuburan Massal di Gaza, Parlemen Arab Desak Investigasi Internasional

NewsINH, Riyadh – Parlemen Arab menyerukan investigasi internasional independen segera menyusul penemuan kuburan massal di Rumah Sakit Al Shifa dan Rumah Sakit Nasser, Jalur Gaza. Temuan ini terjadi setelah penarikan pasukan pendudukan Israel dari sejumlah wilayah di Jalur Gaza.

Parlemen Arab pada Ahad malam menyatakan pembantaian dan kekejaman besar-besaran yang dilakukan Israel terhadap warga sipil Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia di Jalur Gaza, menimbulkan keraguan terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pembantaian yang terus berlangsung oleh Israel membuat kemampuan PBB untuk melindungi warga sipil Palestina dari kejahatan perang Israel dipertanyakan, kata Parlemen.

Parlemen Arab juga menekankan bahwa pembantaian yang dilakukan Israel merupakan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, juga pelanggaran terhadap semua resolusi PBB yang menyerukan perlindungan bagi warga sipil selama konflik.

Parlemen Arab mendesak komunitas internasional, organisasi hak asasi manusia, PBB, dan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil semua tindakan hukum yang diperlukan guna meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan dan pembantaian yang mereka lakukan.

Seruan itu sekaligus mencakup kepatuhan terhadap standar hukum internasional dan hukum humaniter internasional dan memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab diadili sebagai penjahat perang.

Permohonan Parlemen Arab ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional atas situasi di Gaza. Penemuan kuburan massal pasca-penarikan pasukan Israel telah memicu kemarahan dan tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas.

Sejumlah laporan menunjukkan lebih dari 700 jasad telah ditemukan di dua kuburan massal tersebut. Sejumlah jasad terlihat masih mengenakan kateter di alat vital mereka, menunjukkan pasien yang dieksekusi.

Sejumlah jasad lain terlihat masih mengenakan pakaian medis atau scrub. Jasad-jasad itu diikat ditangan dan ditembak di kepala. Sementara 20 jasad lainnya diduga dikubur-hidu-hidup, termasuk beberapa anak.

Sumber: One Arabia/ SPA/ Tempo.co

Israel Bandel Langgar Hukum Internasional, PBB: Hentikan Pembantaian Kepada Warga Sipil Gaza

Israel Bandel Langgar Hukum Internasional, PBB: Hentikan Pembantaian Kepada Warga Sipil Gaza

NewsINH, Cairo – Mesir dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan, Israel harus mengakhiri pelanggaran terhadap warga sipil di Jalur Gaza. Pernyataan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Mesir setelah pertemuan Menlu Mesir Sameh Shoukry dengan Francesca Albanese, pelapor khusus PBB tentang situasi HAM di wilayah Palestina yang diduduki.

Dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (24/4/2024) Juru Bicara Kemlu Mesir Ahmed Abu Zeid mengatakan Shoukry dan Albanese menegaskan perlunya penghentian pelanggaran Israel terhadap warga sipil di Gaza, melanjutkan pengiriman bantuan, serta memberantas kekerasan dan serangan oleh pemukim Israel di Tepi Barat.

“Mereka juga menekankan perlunya menghentikan tindakan Israel yang bertujuan mengusir warga Palestina dari tanah mereka dan menerapkan kebijakan hukuman kolektif dan penargetan warga sipil tanpa pandang bulu,” kata Abu Zeid.

Dalam pertemuan itu, Shoukry memperingatkan keadaan saat ini meningkatkan risiko meledaknya situasi di seluruh wilayah Palestina yang diduduki. Dia menyayangkan bahwa sejumlah negara sejauh ini menahan diri untuk tidak menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

Senada, Albanese menyatakan penyesalan dan kecaman karena tidak bisa melakukan kunjungan lapangan ke Jalur Gaza dan wilayah pendudukan Palestina, akibat penolakan Israel yang mencegahnya menjalankan misinya. Albanese lebih lanjut menyatakan keprihatinan mendalam mengenai situasi kemanusiaan sangat buruk yang dialami rakyat Palestina sehubungan dengan tindakan Israel di wilayah pendudukan Palestina.

Ia meminta Israel untuk mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional sebagai kekuatan pendudukan. Israel telah menggempur Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh kelompok pejuang Palestina, Hamas, pada 7 Oktober tahun lalu, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 korban.

Sedikitnya sudah 34.097 warga Palestina terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sementara 76.980 orang terluka sejak saat itu, menurut otoritas kesehatan Palestina. Perang Israel di Gaza telah menyebabkan 85 persen penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.

Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) dituduh melakukan genosida. Pada Januari, 2024, Mahkamah memerintahkan Tel Aviv menghentikan tindakan genosida dan mengambil tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan bisa sampai kepada warga sipil di Gaza.

Namun, permusuhan terus berlanjut dan pengiriman bantuan masih belum cukup untuk mengatasi bencana kemanusiaan tersebut.

 

Sumber: Anadolu/Antara

Mesir Tolak Pemindahan Paksa Warga Palestina dari Gaza

Mesir Tolak Pemindahan Paksa Warga Palestina dari Gaza

NewsINH, Mesir – Presiden Mesir Abdel-Fattah al-Sisi mengatakan negaranya tidak akan membiarkan pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Sisi mengadakan pembicaraan dengan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen di sela-sela KTT Mesir-Eropa di Kairo.

“Mesir menolak pemindahan paksa warga Palestina dari tanah mereka dan tidak akan mengizinkannya,” kata pemimpin Mesir tersebut seperti dikutip dari pernyataan presiden.

Sisi juga menggarisbawahi perlunya gencatan senjata di Jalur Gaza.

Perundingan antara kedua belah pihak membahas kerja sama bilateral antara Mesir dan Uni Eropa serta perkembangan regional, kata pernyataan itu.

Mesir dan Uni Eropa bersiap meningkatkan hubungan mereka ke “kemitraan komprehensif strategis” pada Minggu, di tengah laporan bahwa blok Eropa tersebut akan memberi Kairo paket pendanaan sebesar 7,4 miliar euro (sekitar Rp126,2 triliun) dari 2024-2027 untuk menstabilkan perekonomian mereka.

Mesir telah berada di bawah tekanan ekonomi akibat perang Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, yang berdampak pada pendapatan negara itu dari sektor pariwisata dan pelayaran yang melalui Terusan Suez.

Israel melancarkan serangan militer mematikan di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan hampir 1.200 orang.

Lebih dari 31.600 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak saat itu telah tewas di daerah kantong tersebut, dan hampir 73.700 lainnya luka-luka di tengah kehancuran massal dan kelangkaan bahan kebutuhan pokok.

Perang Israel telah memaksa 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah blokade yang melumpuhkan terhadap sebagian besar makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur daerah itu telah rusak atau hancur, menurut PBB.

Israel dituding melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Putusan sementara pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil langkah untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan disalurkan kepada warga sipil di Gaza.

Sumber: Anadolu/Antara

Lima Bulan Israel Bombardir Gaza, Amnesty Internasional: Dunia Internasional ‘Tutup Mata’

Lima Bulan Israel Bombardir Gaza, Amnesty Internasional: Dunia Internasional ‘Tutup Mata’

NewsINH, New York –  Sekretaris jenderal organisasi hak asasi manusia Amnesty International Agnes Callamard mengecam komunitas global yang berpura-pura seolah-olah krisis di Gaza adalah krisis kemanusiaan dan bukan rekayasa Israel. Hal ini ia sampaikan dalam unggahan ulang badan bantuan pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) di media sosial X.

“Sementara masyarakat internasional sibuk berpura-pura Gaza merupakan krisis kemanusiaan, Israel terus melanggar hukum internasional dengan impunitas total,” katanya merujuk serangan terbaru Israel ke pusat pangan PBB di Gaza, seperti dikutip dari Aljazirah, Kamis (14/3/2024).

“Bantuan kemanusiaan dari udara dan pelabuhan bantuan Gaza tidak akan mengatasi pelanggaran-pelanggaran ini. Dan tidak akan mengatasi kelaparan yang sengaja dibuat,” katanya.

Dalam laporan di unggahan yang posting ulang Callamard, UNRWA mengatakan satu stafnya tewas dan 22 lainnya terluka dalam serangan pasukan Israel ke pusat distribusi makanan di timur Rafah.

“Serangan hari ini terhadap salah satu dari sedikit pusat distribusi UNRWA yang tersisa di Jalur Gaza terjadi ketika persediaan makanan semakin menipis, kelaparan meluas dan, di beberapa daerah, sudah dilanda kelaparan,” kata Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini.

“Setiap hari, kami membagikan koordinat semua fasilitas kami di seluruh Jalur Gaza kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Tentara Israel menerima koordinat fasilitas ini kemarin,” tambahnya.

Sejak perang dimulai lima bulan yang lalu, UNRWA berulang kali menjadi sasaran serangan Israel dalam skala yang belum pernah terjadi di konflik lainnya di seluruh dunia. Lembaga itu mencatat sedikitnya 165 anggota tim UNRWA terbunuh, termasuk ketika sedang menjalankan tugas.

Lebih dari 150 fasilitas UNRWA dihantam, beberapa di antaranya hancur total, di antaranya banyak sekolah dan lebih dari 400 orang terbunuh saat mencari perlindungan di fasilitas PBB.

Dilaporkan ditemukan terowongan-terowongan yang digunakan untuk kegiatan militer di bawah fasilitas dan instalasi UNRWA. Staf UNRWA juga dianiaya dan dipermalukan selama berada di pusat-pusat penahanan Israel.

“Personel, fasilitas dan aset PBB harus dilindungi setiap saat. Sejak perang ini dimulai, serangan terhadap fasilitas, konvoi, dan personil PBB telah menjadi hal yang biasa terjadi dengan mengabaikan hukum kemanusiaan internasional,” kata Lazzarini.

“Saya menyerukan sekali lagi untuk melakukan penyelidikan independen terhadap pelanggaran-pelanggaran ini dan perlunya pertanggungjawaban,” tambahnya.

Israel melancarkan serangan balasan ke Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober.

Serangan tersebut telah menewaskan hampir 31.200 warga Palestina dan melukai lebih dari 72.900 lainnya di tengah kehancuran massal dan kelangkaan kebutuhan pokok.

Israel juga memberlakukan blokade yang melumpuhkan di daerah kantong Palestina tersebut, menyebabkan penduduknya, terutama warga Gaza utara, berada di ambang kelaparan.

Perang Israel telah memaksa 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah blokade terhadap sebagian besar makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur daerah kantong itu telah rusak atau hancur, menurut PBB.

Israel dituding melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Putusan sementaranya pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil langkah untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan disalurkan kepada warga sipil di Gaza.

 

Sumber: Aljazeera/Republika

Kantor Lembaga Pers Independen Palestina di Gaza Dihancurkan Israel, 124 Jurnalis Gugur

Kantor Lembaga Pers Independen Palestina di Gaza Dihancurkan Israel, 124 Jurnalis Gugur

NewsINH, Gaza – Sebuah kantor pusat lembaga pers Independen Palestinabernama Press House di sebelah barat kota Gaza hancur diserang pasukan zionis Israel. Hingga saat ini total jumlah pekerja media atau jurnalis yang meninggal sepenjang serangan Isarel di Jalur Gaza telah mencapai 124 orang.

Kantor berita Palestina Quds News Network mengunggah video di media sosial X pada Sabtu, yang memperlihatkan gedung-gedung hancur. Keterangan dalam video itu bertuliskan, “Tentara Israel menargetkan beberapa bangunan di bagian barat Gaza, termasuk markas Press House-Palestina.”

Menurut Press House, di markas tersebut terdapat banyak peralatan dan perlengkapan bagi jurnalis yang mengungsi di sana pada awal operasi militer besar-besaran Israel di Jalur Gaza.

“Dewan Direksi Press House mengutuk keras penghancuran markas besar Yayasan tersebut oleh tentara Israel, yang berfungsi sebagai inkubator bagi semua jurnalis Palestina, lulusan, dan mahasiswa perguruan tinggi media di berbagai universitas Palestina,” demikian keterangan Press House dalam pernyataan resmi pada Minggu, (11/2/2024) kemarin.

Kehancuran gedung-gedung termasuk markas Press House terungkap ketika Israel menarik pasukan mereka pada Sabtu, tepatnya saat fajar, dari beberapa daerah di sebelah barat Kota Gaza. Bank Sentral Israel Ingatkan Perekonomian Perlu Tindakan untuk Pulih dari Dampak Perang Gaza

Press House merupakan lembaga media independen dan non-profit di Palestina. Lembaga tersebut didirikan pada 2013 atas inisiatif sekelompok jurnalis independen dalam upaya mempromosikan kebebasan berpendapat dan berekspresi, mendukung media independen dan memberikan perlindungan hukum bagi jurnalis di Palestina.

Misi dari lembaga tersebut adalah untuk menyediakan inkubator bagi media independen Palestina untuk mempromosikan kebebasan berpendapat dan berekspresi dengan mengembangkan kinerja profesional jurnalis di Palestina, selain membangun jaringan profesional media, intelektual, penulis, dan pembela hak kebebasan media dan hak asasi manusia.

Sebelumnya, Press House mengatakan tentara Israel telah membunuh direktur mereka, Bilal Jadallah, tewas saat kendaraan yang sedang ia naiki di Kota Gaza pada November 2023, dibom.

Penghancuran gedung Press House terjadi ketika tentara Israel terus menargetkan jurnalis dan pekerja media di Jalur Gaza. Menurut organisasi hak asasi manusia lokal dan internasional, Israel menargetkan institusi media dan jurnalis untuk menghilangkan narasi Palestina dari garis depan. Menurut data dari kantor media pemerintah di Gaza, sejak awal pembombardiran Israel pada 7 Oktober, Israel telah membunuh 124 jurnalis dan pekerja media di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Jumlah jurnalis yang kehilangan nyawa akibat serangan Israel di Gaza melebihi jumlah total jurnalis yang terbunuh di seluruh dunia pada 2021 dan 2022. Tentara Israel telah menewaskan hampir 28 ribu orang dan membuat 67.459 lainnya luka-luka di Gaza sejak 7 Oktober. Sebelumnya di hari itu, kelompok militan Hamas melancarkan serangan lintas batas di Israel selatan yang menewaskan 1.139 orang dan menyandera 250 lainnya.

Serangan Israel juga telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara sebagian besar infrastruktur di wilayah kantong tersebut telah rusak atau hancur.

 

Sumber: Tempo / Anadolu

56 Persen Rumah di Gaza Hancur dan Rusak Akibat Serangan Israel

56 Persen Rumah di Gaza Hancur dan Rusak Akibat Serangan Israel

NewsINH, Gaza – Pelapor khusus PBB mengenai situasi hak asasi manusia (HAM) di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, mengatakan kelaparan dan kurangnya fasilitas permukiman akibat kehancuran yang disebabkan serangan Israel di Gaza semakin memperkuat tuduhan genosida oleh Israel. Melalui unggahan di platform X pada Rabu (10/1/2024), Albanese menyebut 45 persen penduduk Gaza mengalami kelaparan parah.

“Di beberapa daerah, sembilan dari 10 keluarga hidup 24 jam tanpa makanan. Ini memperburuk tuduhan genosida, karena kehancuran fisik dapat dilakukan melalui kelaparan (ICTR),” ujar dia.

Albanese mempertanyakan klaim Israel bahwa jumlah orang yang menderita kelaparan parah disebut “berlebihan” dan mengapa media dan pemantau HAM tidak bisa memasuki Gaza. Sementara itu, mengenai situasi perumahan, Balakrishnan Rajagopal, pelapor khusus PBB mengenai hak atas perumahan, mengatakan bahwa sekitar 56 persen rumah di Gaza hancur atau rusak.

“Gaza Utara paling terkena dampaknya, hingga 82 persen permukiman hancur atau rusak,” kata Rajagopal, juga melalui X.

Dia mendorong Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mempertimbangkan fakta ini sebagai bukti genosida jika digabungkan dengan gugatan publik yang diajukan sebelumnya oleh Afrika Selatan.

Afrika Selatan mengajukan gugatan pada 29 Desember 2023, dengan mengklaim bahwa Israel melanggar Konvensi PBB tahun 1948 tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida terkait tindakan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Afrika Selatan meminta perintah pengadilan atas dugaan genosida ini. Turki, Bolivia, Yordania, dan Malaysia termasuk negara yang telah memberikan isyarat dukungan terhadap kasus ini.

Israel telah menggempur Gaza sejak serangan lintas batas dilancarkan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 7 Oktober 2023. Serangan Israel membuat gugur sedikitnya 23.357 warga Palestina dan melukai 59.410 orang lainnya, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Israel mengerahkan kekuatan militernya di Gaza setelah Hamas menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dalam serangan 7 Oktober. Sekitar 85 persen warga Gaza telah mengungsi, sementara semuanya berada dalam kondisi rawan pangan, menurut PBB.

Ratusan ribu orang hidup tanpa tempat berlindung. Sementara itu, truk pembawa bantuan yang memasuki Gaza jauh berkurang dibandingkan masa sebelum konflik.

 

Sumber : https://internasional.republika.co.id/berita/s7373p414/kelaparan-dan-rusaknya-permukiman-bukti-kuat-genosida-oleh-israel-terhadap-warga-gaza