Gerilyawan Palestina Ditembak Mati Pasukan Israel di Tepi Barat

Gerilyawan Palestina Ditembak Mati Pasukan Israel di Tepi Barat

NewsINH, Tepi Barat – Pasukan Israel menembak mati dua gerilyawan Palestina dalam serangan penangkapan yang memicu baku tembak di Tepi Barat, pada Kamis (1/12/2022) kemarin waktu setempat.

Dilansir dari AFP, Muhammad Ayman al-Saadi (26) dan Naim Jamal Zubaidi (27) “terbunuh oleh peluru pendudukan Israel saat fajar hari ini selama agresi di kamp Jenin,” kata pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina.

Tentara Israel dan Perdana Menteri Yair Lapid mengidentifikasi Saadi dan Zubaidi sebagai militan dan mengkonfirmasi kematian mereka dalam operasi tersebut.

Kekerasan mematikan telah melonjak di wilayah itu sejak Maret 2022 lalu, ketika Israel melancarkan serangan hampir setiap hari menyusul serangkaian ancaman mematikan yang menargetkan warga Israel.

Tentara menyebut Saadi “seorang agen tingkat tinggi dalam organisasi teroris Jihad Islam,” sementara Lapid menggambarkan Zubaidi sebagai “anggota senior Brigade (Martir) Al-Aqsa,” sayap bersenjata gerakan Fatah Presiden Palestina Mahmud Abbas.

Sumber-sumber Palestina yang akrab dengan Jihad Islam mengonfirmasi bahwa Saadi adalah anggota kelompok tersebut.

Sementara Zubaidi berasal dari keluarga Jenin terkemuka yang kerabatnya menjadi sasaran pasukan Israel atas dugaan hubungan militan.

Jenin adalah kubu faksi militan di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak Perang Enam Hari 1967. Tentara mengatakan telah memasuki kota Wadi Bruqin di mana “tiga buronan yang diduga terlibat dalam kegiatan teroris ditangkap”.

“Selama operasi, tersangka bersenjata menembak pasukan keamanan, yang membalas dengan tembakan langsung,” kata tentara dalam sebuah pernyataan.

Mantan Perdana Menteri Israel Yair Lapid memuji penggerebekan itu sebagai kelanjutan langsung dari kebijakan tanpa kompromi kami dalam perang melawan terorisme. Pihaknya menuduh bahwa kedua warga Palestina yang tewas pada hari Selasa kemarin diduga telah merencanakan dan melakukan serangan di wilayah Israel.

 

Sumber: AFP/CNNIndonesia

Remaja Palestina Terluka Akibat Diserang Pemukim Israel di Hebron

Remaja Palestina Terluka Akibat Diserang Pemukim Israel di Hebron

NewsINH, Hebron – Seorang remaja Palestina berusia 17 tahun mengalami luka-luka disekujur tubuhnya setelah dikroyok sejumlah pemukim Israel di Kota Hebron, Tepi Barat.

“Seorang bocah lelaki Palestina berusia 17 tahun terluka ketika pemukim Israel menyerang kota Hebron, Tepi Barat selatan,” tulis laporan koresponden Wafa, Jum’at (2/11/2022)

Dia mengatakan bahwa para pemukim menahan bocah itu, Wadi Sadr, di Jalan al-Shalaleh di pusat kota dan menyerangnya menggunakan batang logam yang menyebabkan memar di sekujur tubuhnya sebelum keluarganya dapat menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit.

Masih di kota Hebron, kekejaman pendudukan Israel juga tak hanya memukul bahkan membunuh warga. Akan tetapi pendudukan Israel di Palestina juga kerap merusak dan menghancurkan rumah-rumah milik warga Palestina seperti dua rumah milik warga Palestina yang berada di desa Ramadin, di selatan Hebron di Tepi Barat selatan.

Zaidan Zagharneh, seorang warga Palestina setempat, mengatakan bahwa buldoser Israel dikawal tentara dan polisi Israel menyerbu desa tersebut dan mulai merobohkan dua rumah yang sedang dibangun milik kedua putranya, Salah dan Izz al-Din.

Dia mengatakan pembongkaran terjadi dengan dalih tidak memiliki izin konstruksi, yang tidak dapat diperoleh warga Palestina di Area C Tepi Barat yang diduduki sebagai akibat dari kebijakan perencanaan dan konstruksi Israel yang dinilai sangat rasis dan melanggar hak asasi manusia.

 

Sumber: Wafa

Jubir Kepresidenan Palestina Kutuk Pembunuhan 3 Pemuda Palestina

Jubir Kepresidenan Palestina Kutuk Pembunuhan 3 Pemuda Palestina

NewsINH, Ramallah – Juru bicara kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh mengutuk kejahatan Israel yang membunuh 3 pemuda, termasuk dua saudara kandung, di Kufr Ein, dekat Ramallah, dan kota Beit Ummar, utara Hebron.

Ia menekankan bahwa pembunuhan warga Palestina setiap hari adalah deklarasi perang dan pasti akan menghancurkan segalanya. Kepada radio resmi Voice of Palestine, Abu Rudeineh mengatakan bahwa pemerintah Israel memikul tanggung jawab penuh atas kejahatan ini dan harus bertanggung jawab atas mereka.

Ia mencatat bahwa pemerintah sayap kanan saat ini dan berikutnya telah menyatakan perang setiap hari terhadap rakyat Palestina.

“Pemerintah Amerika juga memikul tanggung jawab besar atas kejahatan berkelanjutan otoritas pendudukan Israel terhadap rakyat kami, karena mereka adalah satu-satunya penjaga negara pendudukan di dunia, memasoknya dengan senjata dan uang, dan di forum internasional. Itu (AS) harus mempertimbangkan kembali posisinya,” katanya seperti dikutip dari kantor berita Palestina, Wafa, Rabu (30/11/2022).

Abu Rudeineh menekankan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) harus mengambil sikap serius yang akan mencegah Israel melanjutkan kejahatannya yang mengguncang seluruh wilayah dan dapat menghancurkan segalanya.

Dia menunjukkan bahwa kepemimpinan Palestina mampu mengambil keputusan yang melindungi kepentingan rakyat Palestina. Abu Rudeineh mengatakan bahwa perang Israel melawan rakyat Palestina tidak akan mengalahkan mereka atau membuat mereka menyerah. Baca: Palestina Peringatkan Dampak Kesepakatan Koalisi antara Netanyahu dan Ben-Gvir “Israel harus menyadari bahwa (negara) itu terisolasi,” kata Abu Rudeineh.

Abu Ruudeineh lantas menyerukan kepada pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali kebijakannya karena berdiri sendiri sebagai pelindung tindakan Israel dan tidak mengambil posisi serius, melainkan puas hanya dengan membuat janji dan tidak mengimplementasikan apa pun. “Harus lebih serius jika menginginkan keamanan dan stabilitas di seluruh kawasan,” pungkasnya.

 

Sumber : Sindonews/Wafa

 

Warga Palestina Bentrok dengan Tentara Israel di Hebron dan Ramallah

Warga Palestina Bentrok dengan Tentara Israel di Hebron dan Ramallah

NewsINH, Hebron – Warga Palestina di kota Hebron, Tepi Barar selatan dan di desa al-Mughayyer timur laut Rammallah bentrok dengan tentara Israel, beruntung tak ada korban jiwa dari pihak Palestina sementara tentara Isreal menahan seorang anak-anak berusia 10 tahun.

Dilansir dari kantor berita Palestina, Wafa, Kamis (1/12/2022) bahwa warga Palestina melempari tentara dengan batu setelah mereka menerobos bagian kota yang dikuasai Palestina di daerah Bab al-Zawiyeh dan pasukan Israel membalasnya dengan menembakkan tabung gas air mata, granat suara, dan peluru logam berlapis karet ke orang-orang dan toko-toko di daerah tersebut. .

“Alhamdulillah tidak ada laporan cedera yang kami terima,” tulis laporan tersebut.

Sementara itu, di desa al-Mughayyer di Ramallah, bentrokan pecah setelah ribuan warga Palestina mengantarkan pemakaman Raed Naasan, yang ditembak dan dibunuh kemarin oleh tembakan tentara Israel, menurut kepala dewan desa Ayman Abu Eliya.

Dia mengatakan bahwa tentara menahan dua anak, berusia 8 dan 10 tahun, di sebuah jip tentara selama beberapa jam menggunakan mereka sebagai perisai untuk menghentikan aksi perlawanan warga.

Sebelumnya, Presiden Mahmoud Abbas telah menelepon ayah Raed Naasan, Ghassan, untuk menyampaikan belasungkawa dan dukungannya bagi keluarga yang ditinggalkan atas kematian Raed Naasan.

 

Sumber: Wafa

ActionAid International Komitmen Dukung Kemerdekaan Palestina

ActionAid International Komitmen Dukung Kemerdekaan Palestina

NewsINH, Johannesburg – Memperingati Hari Solidaritas Internasional dengan rakyat Palestina, ActionAid International bersama dengan organisasi internasional dan hak asasi manusia di seluruh dunia kembali menekankan komitmenya untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina dalam mencapai kemerdekaan.

Pada kesempatan ini, ActionAid International mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Palestina dan terus mendukung hak rakyat Palestina atas penentuan nasib sendiri, kebebasan, keadilan, dan kemerdekaan. ActionAid meminta komunitas internasional untuk menekan Israel agar menghentikan pelanggaran yang semakin meningkat terhadap hak-hak tersebut.

ActionAid mengingatkan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa mereka memiliki kewajiban moral dan hukum untuk melaksanakan pengakuan Palestina sebagai negara merdeka dan mengakhiri pendudukan.

“Kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memecah kesunyian tentang penderitaan dan penindasan yang sedang berlangsung terhadap warga Palestina,” katanya, seperti dilansir dari kantor berita Palestina Wafa, Kamis (1/12/2022)

Direktur negara ActionAid Palestine, Ibrahim Ibraigheth mengatakan solidaritas internasional pada dasarnya diperlukan karena berlanjutnya ketidakadilan dan penindasan yang dipraktikkan terhadap rakyat Palestina oleh pendudukan ilegal Israel. Hak asasi manusia Palestina yang dijamin dalam hukum internasional sebagai hak untuk hidup, perumahan, martabat, kebebasan, pergerakan, pendidikan, dan hak-hak lainnya ditolak setiap hari di bawah kesunyian komunitas internasional.

Tahun 2022 telah menjadi tahun paling mematikan bagi warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki sejak 2015. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, pasukan pendudukan Israel sejauh ini telah membunuh lebih dari 200 warga Palestina- 51 dari jumlah itu adalah anak-anak, mayoritas ditembak oleh Israel. Pasukan atau pemukim bersenjata di Tepi Barat yang diduduki pada saat yang sama, pada Agustus 2022 Israel melancarkan agresi lagi terhadap warga Palestina di Jalur Gaza, di mana 49 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak, tewas, dan 335 lainnya luka-luka.

Tahun ini juga menyaksikan kesinambungan kebijakan Israel tentang perluasan permukiman ilegal, penghancuran rumah, pemindahan paksa secara sistematis, pembatasan pergerakan, dan penyitaan tanah. Kebijakan ini mencuri lebih banyak tanah Palestina dan sumber daya alam, kata ActionAid.

“Warga Palestina di Wilayah Pendudukan Palestina (OPT) juga ditolak untuk mengatasi dampak krisis iklim dengan menghalangi mereka menikmati hak-hak lingkungan mereka,” jelas mereka.

Sementara itu, 2,1 juta warga Palestina tinggal di penjara terbuka di Jalur Gaza di bawah blokade yang telah diberlakukan secara ilegal selama lebih dari 15 tahun merampas hak asasi manusia dan menyebabkan krisis kemanusiaan dan lingkungan, serta kekurangan air dan listrik. Hanya 4% air yang layak untuk digunakan manusia.

Orang-orang Palestina juga kehilangan salah satu jurnalis ikonik dan inspiratif mereka, Shireen Abu Akleh, seorang koresponden Al-Jazeera yang dibunuh oleh tentara Israel pada bulan Mei saat dia sedang melakukan tugas medianya, dan pembawa peti matinya dipukuli oleh polisi Israel. Selain itu, Israel terus menyerang ruang sipil dan politik Palestina dengan menunjuk enam LSM Palestina sebagai organisasi teroris termasuk Dukungan Tahanan Addameer dan Asosiasi Hak Asasi Manusia, Al-Haq, Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisan, Pertahanan untuk Anak Internasional – Palestina, Persatuan Komite Kerja Pertanian dan Persatuan Wanita Palestina.

Pelanggaran yang dilakukan oleh Israel ini mendorong organisasi hak asasi manusia terkemuka seperti B’tselem, Human Rights Watch, dan Amnesty International untuk menganggapnya sebagai kejahatan apartheid terhadap rakyat Palestina.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) mendeklarasikan pada tahun 1977 tanggal 29 November, hari di tahun 1947 UNGA memilih untuk membagi Palestina menjadi negara Arab dan Yahudi yang mengarah ke Nakba Palestina, atau malapetaka, yang masih berlangsung, sebagai Hari Internasional untuk Solidaritas untuk Rakyat Palestina.

 

Sumber: Wafa

Wajah Pemerintah Baru Israel Berdampak Meningkatnya Serangan di Palestina

Wajah Pemerintah Baru Israel Berdampak Meningkatnya Serangan di Palestina

NewsINH, New York – Riyad Mansour utusan Palestina untuk PBB menyebut pemerintahan baru Israel sebagai fasis. Menurutnya, kembali terpilihnya Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri dan masuknya partai sayap kanan dalam kabinet akan memperburuk ketegangan antara Israel dan Palestina.

“Akan ada fasis yang memegang posisi kabinet di pihak Israel. Serangan terhadap rakyat Palestina akan meningkat. Situasinya akan berubah dari buruk menjadi lebih buruk,” ujar Mansour, dilaporkan Anadolu Agency, Senin (28/11/2022).

Mansour meminta Dewan Keamanan PBB menangani pemerintahan baru Israel dengan cara yang berbeda untuk melindungi rakyat Palestina. Netanyahu memulai negosiasi dengan para pemimpin blok sayap kanan untuk membentuk pemerintahan koalisi setelah memenangkan mayoritas suara di Knesset awal bulan ini.

Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Tor Wennesland memperingatkan intensitas kekerasan yang terjadi di wilayah pendudukan Tepi Barat kepada Dewan Keamanan PBB. Dia juga menyoroti perluasan permukiman ilegal, dan negosiasi yang terhenti antara Israel-Palestina.

“Tingkat kekerasan yang tinggi di Tepi Barat dan Israel dalam beberapa bulan terakhir, termasuk serangan terhadap warga sipil Israel dan Palestina, peningkatan penggunaan senjata, dan kekerasan terkait pemukim, telah menyebabkan penderitaan manusia yang parah,” ujar Wennesland.

Wennesland mengatakan, dia belum melakukan diskusi dengan pemerintah Israel yang baru. Ketika ditanya apakah dia mengantisipasi kesulitan berurusan dengan pemerintahan Netanyahu yang akan datang, Wennesland mengatakan, dia pernah berurusan dengan Netanyahu sebelumnya dan mengakui perbedaan suara dalam pemerintahan baru.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Yair Lapid mengatakan, Netanyahu akan melakukan apa saja untuk menghindari hukuman penjara. Lapid mengatakan, Netanyahu akan berusaha melakukan reformasi peradilan dengan menunjuk hakim untuk menyelidiki kasus korupsinya.

“Intinya dia akan menjadi perdana menteri kedua dalam sejarah negara yang masuk penjara. Dia akan melakukan segalanya mencegah hal ini (masuk penjara),” kata Lapid.

Netanyahu telah menghadapi tuduhan penipuan, penyuapan, dan pelanggaran kepercayaan sejak 2020. Namun dia membantah tuduhan itu.

Ehud Olmert adalah Perdana Menteri Israel pertama yang masuk penjara atas tuduhan korupsi. Netanyahu saat ini sedang dalam proses konsultasi dengan partai-partai sayap kanan untuk membentuk pemerintahan Israel baru. Koalisi Netanyahu mengamankan mayoritas suara di parlemen, sehingga memungkinkan dia untuk membentuk pemerintahan.

 

Sumber: Reuters/Republika

Duh Gawat……!!!! 600 Juta Meter Kubik Air Milik Palestina Dicuri Israel

Duh Gawat……!!!! 600 Juta Meter Kubik Air Milik Palestina Dicuri Israel

NewsINH, Ramallah – Kejahatan otoritas penjajah Israel terhadap Palestina tak haya dilakukan secara fisik dan perampasan tanah semata, akan tetapi hampir seluruh sendi-sendi kehidupan rakyat Palestina selalu dihantui kekejaman Israel. Tak tanggung-tanggung air yang menjadi kebutuhan primer manusia juga ikut dirampas.

Baru-baru ini, Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh menuduh Israel mencuri 600 juta meter kubik air dari total 800 juta meter kubik air milik Palestina. Israel kemudian mengalihkannya ke kota-kota serta permukiman Yahudi.

Shtayyeh mengatakan dua pertiga air tanah Palestina di Tepi Barat digunakan di Israel. Dugaan pencurian ini sejalan dengan rata-rata konsumsi air warga Israel. Orang Israel mengkonsumsi 430 liter air per hari. Sementara orang Palestina hanya mengkonsumsi 72 liter per hari, atau jauh lebih sedikit dari rata-rata global, yaitu 120 liter per hari.

“Kami berjuang untuk hak atas air kami, dan lebih banyak kerja sama dengan negara Arab di sektor air,” kata Shtayyeh, dikutip dari Middle East Monitor, Rabu (30/11/2022).

Shtayyeh menjelaskan pemerintah Palestina menerapkan strategi pemanenan air, dan telah meluncurkan proyek bendungan di Wadi Al-Far’a. Termasuk mengerjakan pembangunan proyek desalinasi air besar di Gaza, yang didanai oleh Uni Eropa dan donor lainnya.

Shtayyeh menjelaskan, pemerintahannya telah menginvestasikan sekitar 500 juta dolar AS dalam proyek air dan sanitasi. Dia memperingatkan, Laut Mati terancam mengalami kekeringan total pada 2044 karena tindakan Israel. Sejauh ini, Israel telah mengalihkan sumber daya air di Laut Mati, termasuk menambang mineral dan garam.

“Air di dunia Arab adalah masalah politik dan ekonomi yang memerlukan visi strategis, dan negara kita menghadapi tantangan nyata terkait kelangkaan sumber daya air dan pencurian,” ujar Shtayyeh.

Shtayyeh menjelaskan, air merupakan komponen utama dalam konflik Palestina-Israel. Dia menambahkan, permukiman pertanian Israel bertujuan mengontrol sumber daya air sejak awal konflik.

“Walaupun pentingnya solusi teknologi untuk krisis air, itu bukanlah pengganti realisasi hak atas air berdasarkan hukum internasional, untuk memenuhi kesenjangan antara ketersediaan sumber daya air dan kebutuhan yang meningkat dengan peningkatan jumlah penduduk,” kata Shtayyeh.

 

Sumber: Republika/Middleeastmonitor

Hamas: Warga Palestina harus Waspadai Serangan Israel di Al Aqsha

Hamas: Warga Palestina harus Waspadai Serangan Israel di Al Aqsha

NewsINH, Al Quds – Gerakan Perlawanan Islam Palestina menyerukan agar warga Palestina waspadai dan bersiap menghadapi serangan Israel di Masjid Al-Aqsa. Hal ini diungkapkan Juru bicara Hamas Abdul Latif Al-Qanou menanggapi komentar politisi ekstrimis sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir MK, pemimpin partai Otzma Yehudit yang berencana mengubah status quo di masjid suci ketiga bagi umat muslim.

“Ancaman ekstremis Ben-Gvir, yang ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel yang baru, untuk mengubah status quo di Masjid Al-Aqsa sekali lagi membuktikan bahwa pemerintah Israel yang akan datang memiliki kecenderungan neo-fasis,” kata Al-Qanou seperti dikutip dari Middleeastmonitir, Selasa (29/11/2022).

“Janji Ben-Gvir datang di tengah seruan pemukim untuk menyerbu Masjid Al-Aqsa dalam beberapa hari mendatang. Orang-orang kami harus bersiap untuk menghadapi pelanggaran pemukim dan serangan resmi pemerintah Israel di tempat suci kami.” imbuhnya.

Al Qanou bersikeras bahwa ancaman “penjahat” Ben-Gvir akan gagal seperti semua upaya pendahulunya, yang juga mencoba membuat perubahan di Yerusalem yang diduduki untuk menyembunyikan “sejarah nyata dan identitas agama asli” Masjid Al-Aqsa. .

Pejabat Hamas menegaskan kembali bahwa Palestina akan melanjutkan pembrontakan untuk melawan pendudukan Israel, serta mempertahankan Masjid Al-Aqsan yang sudah jelas-jelas milik umat Islam.

 

Sumber: Midleeastmonitor

Perluas Wilayah, Israel Gencarkan Pembongkaran Bangunan Milik Warga Palestina di Hebron

Perluas Wilayah, Israel Gencarkan Pembongkaran Bangunan Milik Warga Palestina di Hebron

NewsINH, Hebron – Otoritas pendudukan Israel kembali meruntuhkan sebuah bangunan yang berada di lahan pertanian di Khirbet Khallet al-Furun, bagian dari desa Birin, sebelah timur Hebron, Palestina.

Menurut sumber lokal seperti dikutip dari kantor berita Wafa, Selasa (29/11/2022) Rateb Jbour, seorang aktivis pemukiman anti-kolonial setempat, mengatakan bahwa tentara mengawal sebuah buldoser ke lokasi tersebut, di mana mesin berat merobohkan sebuah ruang pertanian milik Ghandi Gheith, yang memiliki akta kepemilikan yang sah atas sebidang tanah di mana ruangan itu dibangun.

Dia menambahkan bahwa tindakan Israel terhadap wilayah tersebut,  bertujuan untuk penghancuran dan mengusir penduduk lokal guna memberi jalan bagi pembangunan pemukiman kolonial diwilayah tersebut.

Menurut Pusat Penelitian Tanah, Israel kerap kali mengeluarkan perintah penghentian konstruksi dan penghancuran bangunan terhadap berbagai struktur perumahan dan pertanian dan lumbung yang dibongkar di wilayah tersebut. Israel berdalih bahwa bangunan-bangunan milik Palestina tidak memiliki izin.

Pada bulan Desember 2017, Israel mengirimkan perintah penghentian pembangunan ke satu-satunya klinik dan bangunan lokalitas yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai sekolah dasar bagi 60 anak masyarakat.

Pada Juni 2019, seperti yang ditunjukkan dalam laporan Departemen Urusan Negosiasi PLO, Israel menyita 4.800 dunam tanah dari beberapa daerah, termasuk Birin, untuk perluasan Bani Haiver. Yang terletak di barat daya Bani Na’im, Birin berpenduduk 160 jiwa dan diapit oleh pemukiman kolonial Bani Haiver dari timur dan Jalan pintas dan hanya dihuni oleh pemukim dari barat. Penduduk setempat awalnya diusir dari Naqab di Israel selatan dan kini bergantung pada pertanian dan peternakan sebagai mata pencaharian utama mereka.

Sementara itu, dilokasi yang berbeda pasukan pendudukan Israel juga menghancurkan dua rumah milik warga Palestina di sebelah timur kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki dan memerintahkan pembongkaran sebuah sekolah dasar di Masafer Yatta, selatan Hebron.

Koresponden WAFA mengatakan bahwa pasukan Israel menyerbu wilayah timur kota dan menghancurkan dua rumah milik dua penduduk setempat.

Aref Jaber, seorang aktivis, mengatakan bahwa setiap rumah seluas 120 meter persegi dan dihuni oleh 12 orang yang kini menjadi tunawisma. Penduduk di daerah tersebut mengatakan bahwa pelanggaran Israel yang sedang berlangsung terhadap rumah, tanah dan pertanian mereka, bertujuan untuk memaksa mereka keluar dari daerah tersebut untuk memperluas pemukiman Kiryat Arba, yang dibangun di atas tanah yang disita dari warga Palestina.

Sementara itu, militer Israel mengeluarkan perintah pembongkaran terhadap sebuah sekolah di komunitas Khashem al-Karm di Masafer Yatta, di Perbukitan Hebron Selatan.

Fouad al-Imoor, seorang aktivis, mengatakan bahwa tentara Israel menggerebek daerah tersebut dan menyampaikan perintah pembongkaran terhadap sekolah tersebut untuk dilaksanakan dalam waktu 96 jam.

Ditambahkannya, SD tersebut terdiri dari lima ruang kelas dan melayani 35 siswa sekolah dari masyarakat dan sekitarnya. Pekan lalu, militer Israel menghancurkan sekolah dasar Isfey, yang didanai oleh negara-negara donor dan juga berlokasi di Masafer Yatta, tempat 32 siswa mengenyam pendidikan.

 

Sumber: Wafa

Peringati Hari Solidaritas Palestina, Kemerdekaan Palestina Segera Terwujud

Peringati Hari Solidaritas Palestina, Kemerdekaan Palestina Segera Terwujud

NewsINH, Gaza – Penjajahan yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel di Tanah Palestina diyakini akan segera berakhir. Bangsa Palestina pasti akan segera merdeka dan menjadi negera yang berdaulat. Hal ini diungkapkan oleh Muhamamd Husein dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh lembaga kemanusiaan International Networking for Humanitarian (INH) Senin (28/11/2022) malam kemarin.

“Sekali lagi saya tegaskan bahwa konflik Israel dan Palestina merupakan konflik eksistensi, dan kami meyakini Palestina pasti akan merdeka dan menjadi negara yang berdaulat seperti sebelumnya,” tegasnya.

Palestina yang merupakan negeri para nabi kata Husein sebelumnya merupakan negara yang berdaulat, dimana memiliki mata uang sendiri sistem pemerintahan sendiri, akan tetapi sejak peristiwa Nakba yang merupakan awal duka rakyat Palestina secara khusus dan umat islam sedunia secara umum menjadi negara yang miskin dan terjajah diabad dunia moderen seperti sekarang ini.

“Tragedi Nakba adalah peristiwa teror, pembersihan etnis dan pengusiran besar-besaran orang Palestina dari tanah air mereka, sehubungan dengan diproklamirkannya negara penjajah ‘Israel’ pada 14 Mei 1948,” jelasnya.

Sementara itu, Osama Abu Shamala Ketua Komunitas Palestina di Indonesia mengaku sangat berterimakasih atas kepedulian dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Palestina. Menurutnya, rakyat Indonesia sangat mencintai Palestina. Ia berharap Palestina kedepan bisa sejajar dengan negara-negara lain dibelahan dunia.

“Momentum Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina atau International Day of Solidarity with the Palestinian People yang diperingatin setiap tanggal 29 November ini kami berharap dukungan dari semua eleman dan bangsa diseluruh dunia untuk mewujudkan perdamaian di bumi Palestina,” harapnaya.

Warga Palestina kelahiran Gaza ini mengaku terharu atas kegigihan dan pembelaan Indonesia baik dilevel pemerintah maupun rakyatnya sangat luar biasa. Indonesia baginya merupakan rumah dan tanah air kedua bagi warga Palestina.

“Palestina dan Indonesia ibaratnya sudah seperti saudara kandung sendiri, Indonesia selalu hadir disetiap momentum baik dalam kondisi perang maupun situasi sedang aman,” tuturnya.

Penetapan Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina ini ditetapkan pada tahun 1977. Dari laman resmi United Nations dan National Day, Palestina dan Israel terlibat pertentangan terkait wilayah dan telah berbagi perbatasan di sepanjang kota Yerusalem. Selama beberapa dekade, kedua belah pihak berselisih untuk mempertahankan apa yang mereka yakini adalah bagian dari negaranya. Hal ini mendorong adanya kebutuhan untuk memisahkan kedua negara bagian dan membuat mereka merdeka.

Merespon hal itu, PBB mengadopsi Resolusi 181 (II) pada tanggal 29 November 1947. Resolusi yang disebut ‘United Nations Partition Plan for Palestine’ berisi usulan yang merekomendasikan pembagian Palestina setelah Inggris menarik kekuasaannya. Negara-negara bagian baru akan dibentuk dua bulan setelah penarikan Inggris, paling lambat Oktober 1948. Rencana tersebut juga menyerukan penyatuan ekonomi antara negara-negara yang diusulkan, dan untuk perlindungan hak-hak agama dan minoritas.

Resolusi itu sayangnya tidak sepenuhnya dilaksanakan lantaran terjadi perang saudara selama satu tahun di Palestina. Setelah itu, Israel menjadi sebuah negara pada tahun 1948.

Pada tahun 1977, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk Hari Solidaritas Internasional Bersama Masyarakat Palestina. Majelis Umum PBB merujuk resolusi 32/40 B yang menyerukan setiap tahunnya pada 29 November ditetapkan sebagai Hari Solidaritas Internasional bersama Rakyat Palestina.

Sementara itu, dalam resolusi 60/37 pada 1 Desember 2005, Majelis meminta Komite Pelaksanaan Hak-hak Rakyat Palestina yang Tidak Dapat Dicabut dan Divisi Hak-Hak Palestina, sebagai bagian dari peringatan Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina pada tanggal 29 November, untuk terus menyelenggarakan pameran tahunan tentang hak-hak Palestina atau acara budaya yang bekerja sama dengan Misi Pengamat Permanen Palestina untuk PBB.

Dengan peringatan tersebut, negara-negara anggota PBB didorong untuk berkesinambungan memberikan dukungan dan publisitas seluas-luasnya terhadap peringatan Hari Solidaritas Internasional bersama Rakyat Palestina.

Tanggal 29 November dipilih karena ada makna tersendiri bagi rakyat Palestina. Tanggal Hari Solidaritas Internasional Bersama Masyarakat Palestina ini juga jadi pengingat bagi dunia bahwa Palestina belum mencapai hak-hak mereka yang tidak dapat dicabut, seperti hak menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan dari pihak luar, hak atas kemerdekaan dan kedaulatan nasional dan terakhir adalah hak untuk kembali ke rumah dan harta benda mereka dari mana mereka telah dipindahkan.

Webinar yang mengangkat tema “Let’s Take a Look Back at Palestine” yang berlangsung sekitar dua jam ini diikuti sejumlah perserta perwakilan dari beberapa negara diantara, Suria, Uganda, Nigeria, Palestina dan tentunya peserta dari Indonesia itu sendiri.

 

Tim Media