Ribuan Warga Palestinda di Gaza Hidup dalam Ketidakpastian

Ribuan Warga Palestinda di Gaza Hidup dalam Ketidakpastian

NewsINH, Gaza – Bagi warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza, sudah terbilang nelangsa hidup di bawah blokade dan bayang-payang penyerangan menahun oleh penjajah Israel. Kesusahan itu tak dibuat jadi lebih mudah oleh faksi-faksi internal yang sejauh ini masih tak sepakat di Palestina. Seperti kata pepatah, saat gajah bertarung, adalah pelanduk yang jadi korban.

Seperti peristiwa yang memilukan pada saat jet tempur Israel yang menghantam rumah dua lantai milik keluarga Zorob di Jalur Gaza pada 2019 silam hingga hancur berkeping-keping. Empat tahun kemudian, keluarga beranggotakan 10 orang itu tinggal di gubuk seluas 20 meter persegi yang dilapisi kain nilon sambil menunggu untuk pindah ke rumah permanen.

Proyek perumahan yang merupakan bagian dari upaya rekonstruksi Gaza senilai 500 juta dolar AS yang didanai Mesir, telah meningkatkan harapan bagi ratusan keluarga yang kehilangan rumah mereka akibat serangan Israel.

Namun berminggu-minggu hingga bangunan tempat tinggal tersebut selesai dibangun, belum ada kabar mengenai siapa yang memenuhi syarat untuk dapat menempati 1.400 unit apartemen itu. Sejauh ini, belum ada tata cara mengajukan permohonan untuk mendapatkan satu apartemen tersebut. Faksi Hamas yang berkuasa di Gaza dan Otoritas Palestina berselisih mengenai siapa yang akan menempati rumah tersebut.

“Tidak ada yang peduli. Mereka duduk di bawah AC bersama anak-anak mereka dan mereka tidak peduli dengan kami,” kata Mohammed Zorob (31 tahun), menyalahkan kedua belah pihak atas penundaan tersebut.

Keluarga Zorob termasuk di antara sekitar 2.000 keluarga, atau sekitar 12.000 orang, yang rumahnya hancur akibat pertempuran dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Kementerian Perumahan Gaza ada tambahan 90.000 orang yang tinggal di rumah rusak yang belum diperbaiki.

Perekonomian yang terpuruk akibat blokade Israel-Mesir, isolasi internasional Hamas, dan kurangnya pendanaan dari komunitas internasional menjadi faktor yang menghambat upaya rekonstruksi. Namun yang menjadi latar belakang semua masalah ini adalah persaingan yang terus berlanjut antara Hamas dan Otoritas Palestina.

Pada 2007, Hamas merebut kendali Gaza dari Otoritas Palestina setahun setelah memenangkan pemilihan parlemen. Pengambilalihan dengan kekerasan tersebut membuat Otoritas Palestina hanya menguasai wilayah semi-otonom di wilayah pendudukan Tepi Barat. Otoritas Palestina mengklaim sebagai perwakilan internasional yang sah dari kedua wilayah tersebut.

Israel menganggap Hamas sebagai kelompok teroris dan segera memberlakukan blokade dengan Mesir yang disebutnya sebagai tindakan untuk mencegah Hamas mempersenjatai diri. Penutupan ini telah menghancurkan perekonomian Gaza dan turut memicu empat perang dan sejumlah kekerasan kecil. Upaya rekonsiliasi yang berulang kali dilakukan oleh Hamas dan Otoritas Palestina telah gagal.

Pembangunan rumah ini menandai proyek infrastruktur pertama yang didanai Mesir di Gaza. Mesir sering menjadi perantara antara Israel dan Hamas serta antara faksi-faksi Palestina yang bersaing. Mesir mengumumkan bantuan tersebut setelah perang delapan hari pada 2021.

Dua pejabat senior Mesir membenarkan bahwa pemerintah Kairo bekerja sama dengan faksi-faksi Palestina yang bersaing dalam proyek tersebut. Mereka mengatakan, Mesir telah meminta kedua pihak membentuk komite bersama untuk mengawasi distribusi rumah. Namun sejauh ini hanya sedikit kemajuan yang dicapai.

“Sayangnya, masing-masing pihak ingin mengendalikan proses tersebut,” kata seorang pejabat Mesir sambil mencatat bahwa masalah ini telah dibahas selama kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas ke Mesir baru-baru ini.

“Ini bukan proyek untuk Hamas atau Fatah. Ini untuk rakyat Palestina,” ujar pejabat Mesir yang berbicara dengan syarat anonim.

Wakil Menteri Perumahan di pemerintahan Hamas di Gaza, Jawad al-Agha mengatakan, kantornya telah mengajukan proposal ke Mesir tentang bagaimana apartemen harus dialokasikan. Namun dia tidak memberikan rincian dan mengatakan belum ada keputusan yang diambil.

Kebuntuan ini telah menyebabkan ribuan keluarga berada dalam ketidakpastian. Sebagian besar dari mereka telah menunggu selama hampir satu dekade, setelah kehilangan rumah mereka selama perang 50 hari antara Israel dan Hamas pada 2014.

Rumah keluarga Zorob diserang selama pertempuran pada 2019 antara Israel dan kelompok militan Jihad Islam. Beberapa saat sebelum serangan udara, Israel menelepon keluarga tersebut dan memerintahkan mereka untuk mengungsi. Tidak ada korban jiwa dalam serangan itu, namun rumah Zorob hancur.

Keluarga tersebut mengatakan, mereka tidak memiliki hubungan dengan kelompok militan mana pun dan tidak mengetahui alasan rumah mereka menjadi sasaran. Zorob adalah ayah dari seorang bayi berusia 2 bulan. Zorob mengatakan, dia telah menghabiskan waktu lima tahun untuk membangun rumahnya tersebut.

“Bayangkan menghabiskan lima tahun hidup Anda untuk membangun rumah, dan dalam sekejap, Israel menargetkan bangunan tersebut,” kata Zorob.

Ayah Zorob, Moneer mengatakan, kondisi di rumah bobrok mereka tidak dapat ditoleransi. “Saya menderita karena panas, kelembaban, dan di musim dingin kami menderita karena air bocor ke dalam rumah,” katanya.

Sementara istri Moneer, Maha, mengatakan, dia harus merawat putrinya yang sudah dewasa dan menderita kanker. Putrinya memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah dan harus dijauhkan dari kerabatnya.

“Di mana saya bisa mengisolasinya sementara saya hanya punya satu kamar?,” ujar Maha.

Mantan menteri Kabinet dan penulis politik, Ibrahim Abrash mengatakan, negara-negara donor internasional menjadi frustasi dengan siklus kekerasan yang berulang dan terganggu oleh krisis lain, terutama perang di Ukraina. Namun dia mengatakan, pertempuran yang sedang berlangsung antara Otoritas Palestina dan Hamas masih menjadi hambatan utama dalam memperbaiki Gaza.

“Ketika donor, Mesir atau negara lain, memberikan uang, pertanyaannya adalah, ‘Siapa pihak sah Palestina yang dapat dipercaya untuk mengawasi?’,” kata Abrash.

Hazem Isleem, yang merupakan ayah darj tujuh anak juga menyampaikan kekecewaan serupa. Dia bekerja sebagai penjaga keamanan di Rumah Sakit Shifa Kota Gaza. Isleem mempunyai pengalaman mengerikan menyaksikan keluarganya sendiri masuk melalui gerbang rumah sakit. Putrinya yang berusia 11 tahun, Farah, kehilangan satu kakinya dalam konflik pada 2021. Konflik itu juga menghancurkan rumah mereka. Keluarga Isleem sekarang tinggal di apartemen sewaan yang hampir tidak mampu dia beli.

“Setelah tersiar kabar tentang unit rumah baru ini, saya berpegang teguh pada harapan. Namun harapan itu berubah menjadi keputusasaan,” kata Isleem.

Isleem mengatakan, dia sering melakukan kunjungan ke Kementerian Perumahan Rakyat untuk mempertanyakan tentang program pembangunan rumah. Namun dia tidak pernah menerima kepastian. “Kita hidup dalam ketidakpastian yang tiada henti,” kata Isleem.

 

Sumber: republika

Customer Support kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!