Raja Jordan Desak Israel untuk Izinkan Lebih Banyak Bantuan ke Gaza

Raja Jordan Desak Israel untuk Izinkan Lebih Banyak Bantuan ke Gaza

NewsINH, Amman – Raja Yordania Abdullah, mendesak pejabat bantuan PBB dan LSM internasional untuk memberikan tekanan pada Israel agar mengizinkan lebih banyak bantuan ke wilayah Gaza yang terkepung di mana situasi kemanusiaan memburuk. Hal ini diungkapkan oleh kata salah seorang pejabat penting Kerajaan Jordan seperti dikutip dari laporan Reuters, Jumat (1/12/2023).

Mereka mengutip penytaraan Raja Jordan  pada pertemuan darurat di Amman yang dihadiri para pejabat PBB, kepala organisasi non-pemerintah Barat dan perwakilan donor Arab, bahwa tidak dapat diterima bahwa Israel terus menahan aliran bantuan yang cukup ke daerah kantong padat penduduk, yang menampung 2,3 juta orang.

“Karena musyawarah berlangsung secara rahasia seperti yang diminta oleh penyelenggara istana kerajaan,” jelas salah satu delegasi yang diminta tidak menyebutkan identitasnya tersebut.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dibangun atas dasar pembebasan sandera dan tahanan telah memungkinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza selama enam hari terakhir. Namun pengiriman bantuan termasuk makanan, air, pasokan medis dan bahan bakar masih jauh di bawah jumlah yang dibutuhkan, kata para pekerja bantuan.

Karena Israel menolak mengizinkan bantuan apa pun masuk melalui perbatasannya, pasokan telah diterbangkan dan dikirim ke Semenanjung Sinai di Mesir untuk dikirim ke Gaza melalui perbatasan Rafah.

Pekerja Bulan Sabit Merah menurunkan dan menyortir kiriman bantuan terbaru di Bandara Al Arish di Sinai utara pada hari Kamis, dan seorang reporter Reuters melihat antrean panjang truk kontainer dan truk bak datar mengantri di sisi jalan menuju Rafah.

Israel memulai pemboman tanpa henti di Gaza sebagai tanggapan atas serangan kelompok pejuang kemerdekaan Palestina Hamas di Israel selatan pada tanggal 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 200 orang.

Otoritas kesehatan Gaza, yang dianggap dapat diandalkan oleh PBB, mengatakan lebih dari 15.000 orang dipastikan meninggal dunia dalam serangan Israel, sekitar 40 persen di antaranya adalah anak-anak, dan lebih banyak lagi yang dikhawatirkan tewas dan hilang di bawah reruntuhan.

Sementara itu, Kepala bantuan PBB, Martin Griffiths, dan pejabat senior UNRWA yang menghadiri konferensi Amman mengatakan kepada para delegasi bahwa sangat penting bagi Israel untuk membuka kembali perbatasan Kerem Shalom yang, sebelum perang, menangani lebih dari 60 persen muatan truk yang masuk ke Gaza.

“Inilah yang akan membuat perbedaan nyata” kata kepala sebuah LSM terkemuka di Barat, yang skeptis bahwa Israel akan menyetujui tindakan tersebut sebelum mengakhiri kampanyenya untuk membasmi Hamas.

Ia menjelasakan, kemacetan dan keterbatasan kapasitas di Rafah Crossing berarti tidak dapat menangani lebih dari 200 truk setiap hari.

Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma, badan bantuan PBB yang memberikan bantuan kepada Palestina mengatakan, truk-truk yang membawa bantuan melalui Rafah harus terlebih dahulu melalui inspeksi Israel di Persimpangan antara Nitzana di Israel dan Al-Awja di Mesir, untuk memastikan hanya pasokan bahan bakar terbatas yang diizinkan dan mencegah masuknya barang-barang penggunaan ganda.

Kontrol Israel atas jumlah dan jenis barang yang memasuki Gaza telah membatasi upaya bantuan, dan penerimaan pasokan bahan bakar yang terbatas telah menghambat pemulihan sistem kesehatan, menurut pekerja kesehatan dan bantuan.

Pengemudi truk di perbatasan Mesir mengatakan mereka terkadang harus menunggu berhari-hari di penyeberangan Nitzana sebelum inspeksi selesai.

LSM-LSM dan para pejabat PBB juga mendengar permohonan dari Raja untuk mempercepat pengiriman bantuan ke bagian utara Gaza, di mana Israel telah berupaya untuk mendorong penduduknya ke selatan, namun lebih dari 700.000 orang masih bertahan di sana, kata seorang delegasi.

PBB mengatakan akses ke Gaza utara masih terbatas dan sebagian besar fasilitas produksi air di sana masih ditutup karena kekurangan bahan bakar, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dehidrasi dan penyebaran penyakit dari sumber air yang tidak aman.

 

Sumber: Memo