PBB Sebut Krisis Pangan di Suriah Kian Terpuruk
KONFLIK bawa petaka, Krisis pangan di kasawan Suriah makin terpuruk. / ist

News INH, JENEWA – Badan pangan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan badan kesehatan global memperingatkan bahwa Suriah, terutama bagian barat lautnya, menghadapi situasi terburuk dengan ketahanan pangan yang sangat rendah.

Juru bicara Program Pangan Dunia (WFP) di Jenewa Tomson Phiri pada briefing PBB menyatakan,
masyarakat di sana menghadapi penyakit dan kematian karena tidak memiliki akses ke obat-obatan.

“Secara keseluruhan, tingkat kerawanan pangan di Suriah adalah yang terburuk sejak dimulainya konflik,” kata Tomson Phiri seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (27/6/2021).

Saat ini, diperkirakan 12,4 juta warga Suriah mengalami kerawanan pangan, atau hampir 60 persen dari populasi tidak tahu apa yang akan mereka makan hari besok.

“Sekarang yang menjadi perhatian terbesar saat ini adalah Suriah Barat Laut, di mana hampir 30 persen orang yang hidup ketergantungan atas bantuan dari WFP,” kata Phiri.

Pembaruan resolusi PBB yang memungkinkan kelanjutan operasi lintas perbatasan ke barat laut Suriah melalui Turki sangat penting. Jutaan nyawa dipertaruhkan. Rakyat Suriah telah mengungsi beberapa kali akibat tergusur.

Baca Juga:

Masjid Al-Aqsha Dalam Bayang-bayang Israel

“Bantuan yang kami berikan tidak selalu tepat waktu,” ujar dia.

Sementara itu,juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO Christian Lindmeier mengatakan, meski tanggapan besar-besaran PBB di Suriah dan di seluruh kawasan, lebih banyak akses kemanusiaan diperlukan untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Ini termasuk akses lintas-garis dan lintas-batas.

”Jutaan orang terpojok ke perbatasan keadaan orang-orang hari ini lebih buruk daripada 11 bulan yang lalu ketika Dewan Keamanan PBB terakhir meninjau masalah ini.
mereka terdesak ke perbatasan di zona perang aktif di barat laut Suriah,” kata Lindmeier.

Ia mencatat bahwa 80 persen dari populasi tetap membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk kelangsungan hidup mereka.

“Penghentian pasokan ini hanya dapat menyebabkan peningkatan penyakit dan kematian, karena mereka akan merampas anak-anak dari vaksin yang menyelamatkan jiwa, pasien ginjal dari perawatan dialisis, pasien tuberkulosis dari obat-obatan esensial dan wanita hamil dari layanan perawatan kebidanan darurat,” kata juru bicara WHO.

Lindmeier mengatakan bahwa mekanisme COVAX yang didukung PBB untuk distribusi vaksin yang adil untuk melawan pandemi adalah satu-satunya pilihan untuk akses ke vaksin di daerah tersebut.

Namun kurang dari 0,5 persen dari populasi telah menerima satu dosis.

PBB mengirimkan sekitar 1.000 truk bantuan ke Suriah barat laut setiap bulan pada 2020, melintasi perbatasan dari Turki ke Idlib dan menjangkau 2,4 juta orang setiap bulan sepanjang tahun, pintu penyeberangan itu digunakan untuk mengirimkan vaksin tahap pertama vaksinasi Covid-19 ke Suriah Barat Laut.

“Jika otorisasi lintas batas tidak diperbarui, tidak mungkin untuk meluncurkan vaksinasi Covid-19 yang andal dan dapat diprediksi ke populasi,” pungkas Lindmeier.

Sumber : AA / Naqsyabandi Ahmad Revolusi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *