Israel Semakin Arogan Ancam Penghancuran Total Gaza Ditengah Upaya Gencatan Senjata

Israel Semakin Arogan Ancam Penghancuran Total Gaza Ditengah Upaya Gencatan Senjata

NewsINH, Israel – Rencana penghancuran seluruh wilayah Gaza, Palestina merupakan bukti nyata sikap arogansi pemerintah Israel. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich pada Selasa (30/4/2024), menyerukan penghancuran total Kota Rafah, Deir al-Balah, dan Khan Younis di Jalur Gaza. Seruan itu muncul di tengah laporan mengenai kemungkinan tercapainya perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza.

“Tidak ada pekerjaan setengah-setengah; Rafah, Deir al-Balah, dan Khan Younis – penghancuran total. Ini tidak masuk akal, kita sedang bernegosiasi dengan pihak yang seharusnya sudah lama punah,” kata Smotrich, yang juga Ketua Partai Religius Zionisme, dalam video yang beredar di media sosial.

Di wilayah kantong Palestina itu lebih dari 34.500 warga setempat tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan brutal Israel sejak Oktober tahun lalu. Menteri dari kubu sayap kanan itu juga menyerukan untuk menyerang kelompok Hizbullah Lebanon.

“Kemudian, dengan izin Tuhan, untuk melenyapkan kejahatan Hizbullah di utara, dengan izin Tuhan, untuk menyampaikan pesan nyata bahwa siapa pun yang melakukan kejahatan terhadap orang-orang Yahudi, seperti yang dilakukan orang-orang jahat ini terhadap kita, akan dihancurkan, akan dimusnahkan, dan itu akan bergema beberapa dekade ke depan,” katanya.

Dia meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar jangan tunduk pada tekanan untuk mengakhiri perang di Gaza. Saat ini diduga sudah ada surat perintah penangkapan dari Mahkamah Internasional di Den Haag (ICJ), ada tekanan Amerika Serikat pada Israel, ada ketakutan akan sanksi, dan gelombang protes pro-Palestina di sejumlah negara.

Dia meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar jangan tunduk pada tekanan untuk mengakhiri perang di Gaza. Saat ini diduga sudah ada surat perintah penangkapan dari Mahkamah Internasional di Den Haag (ICJ), ada tekanan Amerika Serikat pada Israel, ada ketakutan akan sanksi, dan gelombang protes pro-Palestina di sejumlah negara.

 

Sumber: tempo.co