Israel “Cuci Tangan” Atas Kerusakan Selama Kerusuhan di Umm Al-Fahm

Israel “Cuci Tangan” Atas Kerusakan Selama Kerusuhan di Umm Al-Fahm

NewsINH, Tel Aviv – Surat kabar harian tertua Israel Haaretz dalam edisi Senin (27/6/2022) kemarin melaporkan jika pihak otoritas Israel menolak memberikan kompensasi kepada kota Arab atas kerusakan selama kerusuhan di tahun 2021 silam.

Menurut laporan itu, Israel secara tegas menolak untuk memberikan kompensasi kepada kota Umm Al-Fahm yang didominasi suku Arab atas kerusakan yang diderita selama kerusuhan Mei lalu. Pihak berwenang Israel telah mengklaim bahwa kerusakan itu tidak disebabkan oleh konflik Yahudi-Arab, melainkan menyalahkan penduduk kota itu sendiri.

Laporan eksklusif juga mengungkapkan bahwa negara menolak untuk mengungkapkan otoritas lokal mana yang telah menerima remunerasi yang menurut Hukum Pajak Properti dan Dana Kompensasi. Negara bertanggung jawab untuk mengkompensasi kota campuran Yahudi-Arab yang terkena dampak kerusuhan dan vandalisme berikutnya.

“Pemeriksaan barang bukti tidak meyakinkan kami bahwa ini adalah akibat dari kekerasan yang terkait dengan konflik, karena ini adalah kerusuhan di mana warga merusak properti warga kota lain,” tulis Otoritas Pajak kepada Umm Al-Fahm.

“Dalam keadaan ini, kekerasan tidak dapat dianggap ditujukan pada seseorang karena menjadi orang Israel.”

Namun, kota tersebut mengajukan banding atas keputusan tersebut kepada sebuah komite di Otoritas Pajak, meminta informasi tentang pembayaran yang dilakukan kepada otoritas lokal Arab lainnya dan ke kota-kota campuran Yahudi-Arab, yang ditolak oleh pihak berwenang.

Mei lalu, di tengah agresi militer Israel yang baru terhadap Jalur Gaza, kerusuhan etnis nasional meletus, dengan banyak orang Arab Israel turun ke jalan menyusul faksi-faksi perlawanan Palestina yang menembakkan roket sebagai tanggapan atas serangan berulang-ulang militer Israel di Masjid Al-Aqsha.

Kerusuhan pecah di beberapa kota, termasuk Acre, Jaffa, Haifa, Lod, dan Ramla, di pusat populasi Arab di Galilea, Segitiga, pusat negara dan di Negev. Itu adalah beberapa bentrokan etnis terburuk dalam beberapa tahun dan gangguan paling luas dari jenis ini sejak berdirinya Israel, yang bahkan mengejutkan otoritas Israel.

Setahun kemudian, Haaretz juga melaporkan bahwa orang Arab Israel merupakan 90 persen dari semua yang didakwa atas kerusuhan tersebut.

“Dari 616 dakwaan yang dikeluarkan, 545 terhadap orang Arab yang dituduh melakukan kerusuhan, aksi teror dan kekerasan, sementara 71 terhadap orang Yahudi,” catat laporan itu.

 

Sumber: middleeastmonitor