Hari Ini Gerbang Rafa Dibuka, Mesir Siapkan Rumah Sakit Darurat di Sinai

Hari Ini Gerbang Rafa Dibuka, Mesir Siapkan Rumah Sakit Darurat di Sinai

NewsINH, Mesir –  Usai Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi gencatan senjata terkait konflik perang di Gaza beberapa waktu lalu. Pintu perbatasan Rafah yang menghubungkan antara Mesir dengan Jalur Gaza akan dibuka hari ini Rabu (1/11/2023). Perlintasan ini memungkinkan warga Palestina yang terluka dirawat di rumah sakit Mesir.

Direktur media penyeberangan perbatasan Rafah Wael Abu Mohsen mengonfirmasi bahwa penyeberangan tersebut akan dibuka. Gubernur Sinai Utara Mesir Mohamed Shosha mengumumkan keputusan pembukaan perbatasan dalam pernyataan yang disiarkan televisi untuk saluran Mesir.

Shosha mengatakan dalam pernyataan sebelumnya bahwa Provinsi Sinai Utara bersiaga untuk menerima warga Palestina yang terluka segera setelah perbatasan dibuka.

“Direktorat Kesehatan di Sinai Utara bekerja dengan kapasitas penuh untuk mendirikan rumah sakit lapangan bagi warga Palestina yang terluka saat mereka masuk ke Mesir,” kata surat kabar milik pemerintah Mesir Al-Ahram.

Direktorat Kesehatan di Sinai Utara bekerja dengan kapasitas penuh untuk mendirikan rumah sakit lapangan bagi warga Palestina yang terluka

Sekretaris Jenderal Gubernur Sinai Utara Osama al-Ghandour mengatakan, tiga tempat telah dialokasikan untuk menampung mereka yang mendampingi korban luka di kota Sheikh Zuweid dan Arish di Sinai. Saluran media yang dikelola pemerintah Extra News mengonfirmasi bahwa penyelesaian akhir sedang dilakukan di rumah sakit lapangan.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, tingkat hunian rumah sakit-rumah sakit Gaza sudah mencapai lebih dari 150 persen. Jumlah pasien di Komplek Medis RS Al-Shifa yang merupakan rumah sakit terbesar di Gaza mencapai lima ribu pasien.

“Padahal rumah sakit itu dirancang untuk hanya menerima 700 pasien,” kata Menteri Kesehatan Palestina Mai Al-Kaila.

Al-Kaila menyatakan, wilayah kantong Palestina itu berada dalam kondisi malapetaka. Israel terus melancarkan serangan ke fasilitas-fasilitas kesehatan.

“Rumah sakit tidak bisa dievakuasi, karena dipenuhi pasien sakit dan terluka, ditambah mereka yang mengungsi guna mencari tempat aman di halaman rumah sakit,” ujar Al-Kaila.

Perlintasan perbatasan Rafah telah ditutup sejak pecahnya pertempuran di Jalur Gaza pada 7 Oktober dan sebagian dibuka selama beberapa hari untuk memungkinkan masuknya truk bantuan dalam jumlah terbatas. Direktur media penyeberangan Rafah mencatat, ada sebanyak 196 truk bantuan sejauh ini telah menyeberang ke Gaza sejak 7 Oktober.

Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) telah menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya jumlah kematian anak-anak di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Jumlah korban anak-anak yang terbunuh oleh serangan Israel terus meningkat jumlahnya.”Gaza telah menjadi kuburan anak-anak,” kata juru bicara UNICEF James Elder dikutip dari Anadolu agency.

Menurut Elder, kekhawatiran UNICEF yang paling besar mengenai laporan jumlah anak-anak yang terbunuh adalah peningkatan jumlah korban jiwa. Laporan awal menunjukan puluhan, kemudian meningkat menjadi ratusan. Kini, ribuan anak-anak terbunuh hanya dalam waktu dua pekan.

Elder menyesalkan bahwa jumlah korban di kalangan anak di bawah umur telah melebihi 3.450 jiwa. “Yang mengejutkan, jumlah ini meningkat secara signifikan setiap hari,” kata Elder memperingatkan.”Ini adalah neraka bagi semua orang,” ujarnya.

Elder mengulangi seruan UNICEF untuk segera melakukan gencatan senjata dan memberikan akses kemanusiaan terhadap pasokan untuk wilayah kantong tersebut. Dia mengatakan, bahwa anak-anak di Gaza sekarat bukan hanya karena serangan udara tetapi juga karena kurangnya perawatan medis yang diperlukan.“Tapi ancaman terhadap anak-anak lebih dari sekadar bom,” kat Elder.

Air dan trauma berkepanjangan dinilai merupakan beberapa ancaman lain yang dihadapi di daerah kantong Palestina yang terkepung. Dia memperingatkan bahwa lebih dari sejuta anak-anak Gaza menghadapi krisis air kritis karena produksi air harian Gaza berada pada lima persen dari kapasitas produksinya.“Kematian anak karena dehidrasi, khususnya kematian bayi karena dehidrasi, merupakan ancaman yang semakin besar,” kata Elder.

Mengenai trauma, juru bicara UNICEF ini menyoroti kondisi anak-anak ketika pertempuran akhirnya berhenti. Mereka harus menghadapi kerugian dan komunitasnya yang akan terus ditanggung oleh generasi mendatang. Elder menekankan,sebelum konflik saat ini dimulai, lebih dari 800 ribu anak di Gaza atau tiga perempat dari seluruh populasi anak-anak diidentifikasi membutuhkan kesehatan mental dan dukungan psikologis.

Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell menegaskan kembali akibat sebenarnya dari eskalasi terbaru ini akan diukur pada kehidupan anak-anak. Anak-anak akan selamanya berubah karena kekerasan yang terjadi.“Angka yang seharusnya sangat mengguncang kita semua,” ujar Russell merujuk pada jumlah kematian anak-anak atas serangan Israel.

Israel telah membombardir Gaza siang dan malam, menyebabkan seluruh bangunan runtuh dan menewaskan ribuan orang. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan lebih dari 8.000 orang yang sebagian besar adalah anak-anak terbunuh.

“2,3 juta warga Palestina di Gaza menghadapi kematian setiap hari dan setiap malam. Selamatkan mereka. Ada 2.000 orang yang tertimbun reruntuhan. Izinkan kami menemukan mereka, menyelamatkan mereka yang masih bisa diselamatkan, dan menguburkan mereka yang tewas dengan cara yang bermartabat,” ujar Menteri dan Pemantau Tetap Negara Palestina untuk PBB Riyad Mansour dikutip dari AlArabiyah.

Mansour menyatakan, lebih dari 1,4 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka ketika Israel menggempur wilayah yang penuh sesak dan miskin itu. “Angka-angka mengejutkan ini terus meningkat setiap menitnya karena tindakan yang tertunda untuk menghentikan serangan gencar terhadap rakyat kami,” katanya.

Utusan tersebut menyerukan diakhirinya kekerasan yang sedang berlangsung. Dia meminta agar warga Palestina diperlakukan sebagai manusia dengan rasa hormat yang pantas diterima oleh semua orang.

 

Sumber: Republika

Customer Support kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!