Fasilitas-Nuklir-Iran-Diduga-Disabotase-Intelejen-Israel
Foto: Kompas TV

News INH , Tel Aviv – Badan Intelijen Israel (Mossad) diduga berada di balik aksi sabotase terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz. Dilansir Reuters, Senin (12/4), klaim itu disampaikan oleh stasiun radio Israel, Kan Radio, dengan mengutip seorang sumber.

Menurut laporan Kan Radio, sabotase terhadap fasilitas yang menyimpan mesin sentrifugal pengayaan uranium Iran di Natanz dilakukan dalam operasi intelijen Mossad.

Jaringan listrik di fasilitas pengayaan uranium bawah tanah itu padam total pada Minggu (11/4) kemarin diduga akibat serangan siber. Lokasinya berada di selatan Ibu Kota Teheran.

Pada tahun lalu, fasilitas pengayaan uranium itu juga mengalami kebakaran yang juga diduga akibat sabotase.

Iran menyatakan pemadaman listrik itu tidak membahayakan ataupun menyebabkan polusi radioaktif.

Meski begitu, sampai saat ini Iran juga belum menyatakan siapa pihak yang menjadi dalang dalam kejadian itu.

BACA JUGA

-Inilah Daftar Negara Dengan Waktu Puasa Tersingkat dan Terpanjang

-Tiga Petugas Medis Perempuan di Afghanistan Ditembak Mati

Aksi sabotase itu terjadi menjelang peringatan Hari Teknologi Nuklir Iran. Sehari sebelum sabotase, ilmuwan nuklir Iran mulai mengoperasikan mesin sentrifugal pengayaan uranium yang diklaim lebih canggih.

Dilansir The Times of Israel, peristiwa ini terjadi di tengah perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Wina, Austria, terkait permintaan pencabutan sanksi dan untuk menghidupkan kembali perjanjian pembatasan nuklir yang diteken pada 2015 silam.

Israel menyatakan tidak sepakat dengan cara Presiden AS, Joe Biden, yang ingin menghidupkan kembali perjanjian itu. Sebab menurut mereka tidak ada jaminan Iran akan menaati kesepakatan itu meski sanksi dicabut.

Selain itu, Israel merasa khawatir jika terjadi persaingan kekuatan nuklir di Timur Tengah. Sebab saat ini Uni Emirat Arab juga mengoperasikan reaktor nuklir untuk keperluan pembangkit tenaga listrik.

Menurut analis politik dari Eurasia Group, Henry Rome, kejadian ini membuat Iran dalam posisi sulit.

 

BACA JUGA: Yaman Terima Vaksin COVID-19 Pertama Saat Gelombang Kedua Merebak

“Mereka akan berupaya membalas untuk menyampaikan pesan kalau aksi sabotase pasti menuai balasan,” kata Rome, seperti dikutip surat kabar The New York Times.

Sementara itu, lanjut Rome, di sisi lain Iran juga harus berhati-hati supaya serangan balasan itu jangan sampai mengganggu perundingan perjanjian nuklir yang sampai saat ini masih berjalan.

Iran mengklaim program nuklir mereka bertujuan damai, yakni untuk sumber energi. Namun, Israel menyatakan alasan itu hanya kedok karena Iran bertujuan untuk membuat senjata nuklir.

Pendahulu Biden, Donald Trump, menyatakan menarik AS dari perjanjian itu dan kembali menerapkan sejumlah sanksi yang membuat Iran murka. Iran lantas menggenjot pengayaan uranium melewati ambang batas yang ditetapkan di dalam kesepakatan itu.

Sejumlah ilmuwan nuklir Iran juga menjadi sasaran pembunuhan dalam beberapa tahun. Yang terakhir menimpa Mohsen Fakhrizadeh pada tahun lalu.

Fakhrizadeh tewas dalam serangan ketika mobil yang ditumpanginya melintas di jalan raya di pinggiran Teheran. Diduga kuat serangan itu adalah operasi intelijen yang dirancang dan dilaksanakan oleh Mossad.

Sumeber: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *