Dampak Konflik, Kirim Bantuan untuk Korban Gempa di Suriah Alami Kesulitan

Dampak Konflik, Kirim Bantuan untuk Korban Gempa di Suriah Alami Kesulitan

NewsINH, Bab Al-Hawa – Sebuah konvoi kecil yang membawa bantuan kemanusiaan menyeberang dari Turki ke Suriah barat laut yang dikuasai pemberontak pada Kamis (9/2/2023) kemarin. Truk konvoi PBB itu membawa obat-obatan, selimut, tenda, dan perlengkapan perlindungan yang sangat dibutuhkan bagi korban gempa di Suriah.

Sebelum konvoi enam truk melintasi, satu-satunya kargo yang melewati penyeberangan Bab al-Hawa di perbatasan Turki-Suriah adalah aliran jenazah korban gempa bumi. Para penyintas yang menangis membawa jenazah orang yang mereka cinta dengan terbungkus seprai, sementara yang lain menunggu di pihak Suriah untuk menerimanya.

Berdasarkan kesepakatan di Dewan Keamanan PBB, Bab al-Hawa adalah satu-satunya penyeberangan yang diizinkan oleh PBB untuk mengirimkan bantuan dari Turki ke daerah Suriah. Namun setelah gempa, jalanan di penyeberangan itu rusak, dan tumpukan puing menghalangi sekitar penyeberangan. Hal ini menjadi kendala PBB untuk mengirimkan bantuan.

Kelompok bantuan yang lebih kecil dilaporkan melintasi perbatasan lain untuk mencapai Suriah. Tetapi pejabat PBB enggan untuk melanggar protokol.

Beberapa pihak mengkritik PBB karena tidak mengambil tindakan luar biasa untuk memberikan bantuan setelah gempa bumi. Karam Shaar, seorang sarjana nonresiden di Middle East Institute mengatakan, organisasi dunia seharusnya melanggar protokol dan menggunakan penyeberangan lain ke Suriah atau menyediakan penerjunan udara.

Bantuan lintas batas bermuatan politik. Pemerintah Suriah dan sekutu utama Rusia mendorong pengiriman dari Damaskus, ketimbang Turki. Pejabat Damaskus bersikeras mereka siap untuk mendistribusikan bantuan di seluruh Suriah. Tetapi para kritikus mengatakan pemerintah Presiden Bashar Assad memiliki sejarah memblokir atau salah mengarahkan bantuan yang ditujukan untuk daerah yang dikuasai pemberontak.

“Assad memiliki sejarah panjang mempolitisasi bantuan, mengalihkannya ke para pendukungnya, atau menjualnya di pasar gelap,” kata Shaar.

Kru penyelamat lokal mengatakan, penundaan bantuan dapat menelan lebih banyak nyawa. Kurangnya alat berat dan peralatan lainnya memaksa penyelamat membersihkan puing-puing dengan apa pun yang mereka miliki, termasuk tangan kosong.

“Setelah 50 jam bekerja, kami mengeluarkan seorang pria dan gadis kecil hidup-hidup,” ujar Abada Zikri, seorang responden pertama dari kelompok bantuan White Helmets.

Zikri mengatakan, salah satu penyelamatan tersebut terjadi di Harem, sebuah kota berpenduduk sekitar 20.000 orang di Provinsi Idlib, Suriah. White Helmets kehilangan setidaknya empat sukarelawan dalam gempa tersebut. Gempa juga menewaskan dua pegawai Komite Penyelamatan Internasional dan beberapa orang dari daerah yang bekerja dengan PBB dalam pengiriman bantuan.

Sementara konvoi pada Kamis (9/2/2023) adalah pengiriman yang tertunda dari sebelum gempa. PBB akan mengirim lebih banyak konvoi bantuan tanggap gempa dalam waktu dekat.

“Hari ini hanyalah permulaan,” ujar Sanjana Quazi, yang menjalankan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di sisi perbatasan Turki.

Di Damaskus, parlemen pada Kamis menyerukan pencabutan segera sanksi yang dipimpin Barat terhadap Suriah. Sebelumnya Bulan Sabit Merah Suriah mendesak hal yang sama di tengah kekurangan bahan bakar dan peralatan yang tidak mencukupi.

Gempa juga merusak Bendungan Afrin, atau sering disebut Bendungan Maydanki, di Suriah utara. Beton bendungan retak terbuka pada Kamis, dan membanjiri desa barat laut Tlool di wilayah Salqin, di kantong pemberontak. Banjir sebagian menenggelamkan bangunan yang tahan gempa.

Penduduk di daerah itu bergegas mengumpulkan barang-barang pribadi yang dapat mereka temukan dan memasukkannya ke dalam truk. Banjir semakin memperparah kesengsaraan para pengungsi Suriah.

Korban tewas gempa pada Kamis meningkat. Lebih dari 1.900 tewas di kantong yang dikuasai pemberontak dan lebih dari 1.200 tewas di wilayah yang dikuasai pemerintah. Penasihat Assad Bouthaina Shaaban mengatakan kepada London’s Sky News, Suriah bersedia menerima bantuan dari negara mana pun di dunia, kecuali Israel.

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah mengecam permintaan Damaskus untuk pencabutan sanksi. Mereka mengatakan tindakan tersebut mempengaruhi pemerintah Assad.

Tetapi beberapa warga Suriah yang tinggal di luar negeri mengatakan di media sosial bahwa, platform penggalangan dana online telah memblokir upaya mereka untuk mengirim uang ke Suriah karena sanksi tersebut. Sementara, beberapa pesawat dari sekutu utama Assad, yaitu Iran dan Rusia, serta beberapa negara Uni Emirat Arab, Mesir dan Irak telah menerbangkan bantuan ke Damaskus dan Aleppo.

 

Sumber: Republika

#PrayForTurki-Suriah