Komunitas Muslim Maroko: Normalisasi dengan Zionis Israel Pengkhianatan Terhadap Palestina

Komunitas Muslim Maroko: Normalisasi dengan Zionis Israel Pengkhianatan Terhadap Palestina

News INH, Rabat – Blok parlemen dari partai Islam Maroko , Keadilan dan Pembangunan, menyerukan Komite Pertahanan Nasional, Urusan Islam dan Ekspatriat untuk membahas langkah-langkah kerajaan mengenai agresi Israel di Masjid Al-Aqsa.

Menurut Arabi21, permintaan ini dibuat setelah serangan terus menerus dan agresi pasukan pendudukan Israel terhadap warga Palestina dan serangan pemukim Israel di Masjid Al-Aqsa.

Blok itu juga meminta, selama pertemuan Senin kemarin, parlemen membahas Kejahatan dan agresi Zionis yang dilakukan terhadap Palestina, tempat-tempat suci dan jurnalis di Palestina.

Sementara itu, Gerakan Unifikasi dan Reformasi Islam mengulangi penolakannya terhadap normalisasi hubungan negara itu dengan pendudukan Israel. Gerakan tersebut menyerukan semua orang Maroko untuk bersatu melawan “usaha Zionis untuk menembus” masyarakat Maroko, menekankan bahwa normalisasi hubungan dengan pendudukan Israel mengkhianati Palestina.

Menurut gerakan itu, normalisasi hubungan tidak sejalan dengan sejarah Maroko karena negara itu telah mendukung hak-hak Palestina.

Ketua Gerakan, Abdul Rahim Al-Sheikhi, menegaskan bahwa Gerakan Unifikasi dan Reformasi mendukung Palestina, Yerusalem dan Masjid Al-Aqsha.

“Gerakan kami, dengan semua cabangnya, mendukung rakyat Palestina dalam perjuangan mereka untuk membebaskan tanah mereka, mendapatkan kembali hak-hak mereka dan membangun negara merdeka mereka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya,” kata Al-Sheikhi.

Dia mendesak bahwa perjuangan Palestina adalah masalah nasional Maroko juga dan bahwa semua orang Maroko harus bekerja untuk mendukungnya.

 

Sumber : sindonews.com

Hamas “Warning” Israel Stop Pembunuhan Warga Palestina

Hamas “Warning” Israel Stop Pembunuhan Warga Palestina

News INH, GazaPemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh mengeluarkan memperingatkan terhadap rezim zionis Irsael terkait konsekuensi jika Israel masih melanjutkan kebijakannya untuk melakukan pembunuhan terhadao warga Palestina.

Melalui Penasihat media Haniyeh, Rabu (18/05/2022) Taher al-Nunu, mengatakan pemimpin Hamas mengirim pesan ke beberapa pemimpin asing agar memperingatkan Israel untuk tidak memulai kembali pembunuhan terhadap warga sipil Palestina.

Haniyeh mengatakan bahwa “dampak dari setiap upaya pembunuhan akan lebih besar dari yang diperkirakan,” kata al-Nunu.

Awal bulan ini, beberapa tokoh masyarakat Israel meminta pemerintah Israel untuk membunuh pemimpin Hamas di Gaza Yahya Sinwar sebagai tanggapan atas serangan terhadap Israel.

Ketegangan telah meningkat di seluruh wilayah Palestina di tengah kampanye penangkapan Israel berulang kali di Tepi Timur yang diduduki dan serangan pemukim Yahudi ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.

 

Sumber : www.aa.com.tr

Israel Akan Runtuhkan Kubah As-Sakhrah, Mentri Wakaf Al-Quds: Ini Ancaman Besar Umat Islam

Israel Akan Runtuhkan Kubah As-Sakhrah, Mentri Wakaf Al-Quds: Ini Ancaman Besar Umat Islam

News INH, Al-Quds –Wakil Direktur Jenderal Departemen Wakaf Islam Al-Quds, Syaikh Najeh Bakirat memyampaikan peringatan bahaya pihaknya mengendus adanya rencana ekstremis Yahudi menghancurkan Kubah As-Sakhrah di Komplek Masjid Al-Aqsa, Kota Tua Al-Quds, Palestina.

Dalam pernyataanya, seperti dikutip dari gazamedia.net, Rabu (18/5/2022) Syeikh Najeh mengatakan dalam wawancara dengan sejumlah media lokal Al-Quds mengungkapkan bahwa rencana bahaya ini tak lain dan tak bukan adalah misi negara Yahudi yang mereka yakini dan klaim Al-Quds atau Yerusalem adalah kota bagi bangsa Yahudi. Serta bentuk superioritas mereka dengan megenoside atau menghapus kehadiran ras Arab dan Islam Palestina dari Masjid Al-Aqsa dan kota suci.

Syeikh Najeh menyerukan ini bukanlah hal baru, misi penjajahan mereka sejak awal adalah merobohkan masjid Al-Aqsha, lebih dari satu buku telah diterbitkan oleh penulis dan peneliti radikal Israel yang mendesak pembongkaran Kubah Sakhrah, termasuk sebuah buku berjudul “Daydreams ” di mana penulisnya menyarankan untuk memindahkan Kubah Sakhrah ke tempat lain.

Dia menambahkan, beberapa ekstremis menyarankan para insinyur untuk memindahkan Kubah Batu tersebut ke wilayah komplek lainnya yang dihancurkan gunakan granit. Proyek mereka sudah dimulai sejak tahun 1981 dengan menggali terowongan dan menyedot air dari sumur Sabil Qaitbay hingga tangga Al-Baikah yang mencapai pintu Barat Kubah Sakhrah untuk diruntuhkan. Serta upaya mereka menemukan Kuil Solomon.

Ancaman Besar

Najeh mengingatkan kelompok ekstremis ini ingin mengakhiri simbol syiar Islam yaitu Kubah As-Sakhrah Masjid Al-Aqsha karena eksistensi kehadiran Islam dan Arab yang begitu kuat dan keirian mereka melihat keberedaan kubah mempengaruhi kota Al-Quds.

“Kelompok ekstremis ini mencuri kesempatan dalam kesempitan, merasa bahwa sekarang adalah waktu yang tepat melancarkan penghancuran, mengingat keasyikan dunia dengan perang Rusia-Ukraina dan manfaatkan kelemahan sejumlah negara Arab & Islam lainnya yang acuh” katanya.

Di sisi lain, proses penggalian bawah tanah dan tindakan provokatif para ektremis maupun pemukim ilegal Yahudi di bawah pengawasan pasukan Zionis berhasil dihalau oleh warga Al-Quds maupun murabith dan murabithat yang rela mengorbankan dirinya untuk marwah umat Islam, yaitu masjid Al-Aqsha.

 

Sumber : https://gazamedia.net/kementrian-wakaf-al-quds-bahaya-zionis-berencana-runtuhkan-kubah-as-sakhrah-di-masjid-al-aqsha/

 

Gereja Katolik Palestina Kutuk Arogansi Polisi Israel

Gereja Katolik Palestina Kutuk Arogansi Polisi Israel

News INH, Yerusalem – Pendeta Katolik terkemuka di Yerusalem, Palestina mengutuk tindakan pemukulan yang dilakukan pihak kepolisian Israel terhadap pelayat yang membawa peti mati jurnalis veteran Aljazeera Shireen Abu Akleh.

Para pendeta Katolik ini menyebut pihak berwenang Israel melanggar hak asasi manusia dan tidak menghormati Gereja Katolik.

Patriarch Latin, Pierbattista Pizzaballa pada Senin (16/5/2022) mengatakan, insiden yang menjadi viral di seluruh dunia itu merupakan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap kerumunan ribuan orang, yang mengibarkan bendera Palestina. Mereka berjalan dari rumah sakit ke gereja Katolik terdekat di Kota Tua Yerusalem.

Pizzaballa menilai, tindakan polisi Israel ini merupakan pelanggaran berat terhadap norma dan peraturan internasional. Termasuk pelanggaran hak asasi manusia untuk kebebasan beragama.

“Invasi polisi Israel dan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional, dengan menyerang pelayat, memukul mereka dengan tongkat, menggunakan granat asap, menembakkan peluru karet adalah pelanggaran berat terhadap norma dan peraturan internasional,” kata Pizzaballa, dilansir Aljazeera, Selasa (17/5/2022).

Rumah Sakit St Joseph merilis rekaman kamera keamanan yang menunjukkan pasukan Israel menyerbu gedung tempat jenazah Abu Akleh disemayamkan. Serangan ini mengakibatkan 13 orang terluka. Reporter Aljazeera, Imran Khan mengatakan pihak rumah sakit, bersama dengan otoritas gereja akan mengambil tindakan hukum terhadap otoritas Israel.

“Kemarahan di sini sangat jelas. Kami mendengar dari direktur jenderal (rumah sakit) mengatakan bahwa dalam 31 tahun, dia tidak pernah melihat yang seperti itu. Otoritas rumah sakit mengatakan sama sekali tidak ada alasan bagi (pasukan Israel) untuk masuk ke dalam,” ujar Khan.

Khan menambahkan, tiga kata untuk menggambarkan tindakan pasukan Israel tersebut adalah penggunaan kekerasan yang memalukan, tidak hormat, dan tidak proporsional. Polisi Israel meluncurkan penyelidikan atas perilaku petugas yang menyerang pelayat. Tetapi saudara laki-laki Shireen Abu Akleh, Anton Abu Akleh mengatakan, tidak ada harapan untuk menunggu penyelidikan independen.

“Polisi Israel awalnya mengatakan bahwa mereka bertindak atas instruksi keluarga, sesuatu yang Tony (Anton) katakan tidak pernah terjadi. Narasi polisi Israel telah benar-benar terkoyak” ujar Khan.

Serangan polisi Israel terhadap pelayat yang menghadiri pemakaman Abu Akleh pada Jumat (13/5/2022) mengundang kecaman di seluruh dunia. Serangan ini menambah keterkejutan dan kemarahan terhadap pembunuhan Abu Akleh.

Abu Akleh (51 tahun) ditembak oleh militer Israel di bagian kepala ketika sedang meliput serangan di kamp pengungsi Jenin, di wilayah pendudukan Tepi Barat. Abu Akleh disebut sebagai jurnalis yang menyuarakan kesulitan hidup warga Palestina di bawah kekuasaan Israel. Saat ditembak Abu Akleh menggunakan rompi pelindung dengan tulisan “Press”.

Militer awalnya menuduh orang-orang bersenjata Palestina bertanggung jawab atas kematian Abu Akleh. Namun pernyataan militer Israel berubah. Mereka mengatakan, tidak diketahui siapa yang menembakkan peluru mematikan itu.

Namun menurut harian Israel Haaretz, pihak berwenang Israel menginterogasi tentara yang diyakini telah menembakkan peluru itu. Militer Israel mengatakan bahwa, seorang tentara itu sedang duduk di dalam kendaraan yang berjarak 190 meter dan tidak melihat Abu Akleh.

 

Sumber : republika

China Sebut Tragedi Jurnalis Aljazeerah bisa Dihindari jika Palestina dapat Keadilan

China Sebut Tragedi Jurnalis Aljazeerah bisa Dihindari jika Palestina dapat Keadilan

News INH, Beijing – Peringatan hari Nakba, Pemerintah China di Beijing mengecam pembunuhan terhadap jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh. Menurut pejabat negeri Tirai Bambu itu mengatakan penolakan terhadap keadilan Palestina mengakibatkan tragedi seperti pembunuhan jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh terus terjadi.

Wakil Menteri Luar Negeri China Hua Chunying menyerukan diakhirinya “ketidakadilan historis” selama lebih dari 70 tahun terhadap Palestina.

Menandai Hari Nakba, Hua menulis di Twitter “seandainya lebih penting dan keadilan diberikan kepada orang-orang Palestina, tragedi Shireen Abu Akleh bisa dihindari.”

Diperingati setiap tanggal 15 Mei, Hari Nakba, atau Hari Bencana, menandai pengusiran paksa tahun 1948 terhadap hampir 800.000 warga Palestina dari rumah mereka oleh geng-geng Zionis di Palestina.

Tahun ini, Hari Nakba diperingati empat hari setelah Abu Akleh terbunuh saat meliput serangan militer Israel di kota Jenin, Tepi Barat.

Pejabat Palestina dan Al Jazeera mengatakan dia dibunuh oleh pasukan Israel. Banyak pemerintah dan organisasi internasional telah mengupayakan penyelidikan transparan atas pembunuhan Abu Akleh.

Pelapor Khusus PBB untuk Palestina Francesca Albanese menyebut pembunuhan itu “sebuah potensi kejahatan perang.”

 

Sumber: aa.com.trkleh

Demo Peringatan Nakba di Tebi Barat Ricuh, Puluhan Pemuda Palestina Terluka

Demo Peringatan Nakba di Tebi Barat Ricuh, Puluhan Pemuda Palestina Terluka

INH News, Tepi Barat – Pasukan Israel menyerang demonstran yang memperingati 74 tahun Nakba Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem. Aksi brutal tentara Israel melukai sejumlah pengunjuk rasa, menurut laporan Arab48 pada Minggu (15/5/2022) kemarin.

Menurut situs berita itu, pasukan pendudukan Israel menggerebek Universitas Al-Quds di Abu Dis Yerusalem Timur, menembakkan tabung gas yang membuat para mahasiswa menderita kesulitan bernapas dan mencari pengobatan.

Pasukan Israel juga menyerbu Universitas Teknik Palestina-Kadoorie di Tulkarm dan menembakkan gas air mata. Akibatnya, puluhan mahasiswa terluka.

Pasukan Israel juga menyerbu Al-Bireh, menembakkan peluru tajam ke arah warga Palestina yang memprotes kehadiran mereka.

Sekitar 17 warga Palestina terluka. Demonstrasi di kamp pengungsi Al-Aroub Hebron juga mendapat serangan dari pasukan Israel. Menurut kantor berita Wafa, seorang pemukim Israel dari permukiman ilegal Yitzhar, selatan Nablus, juga menculik seorang anak Palestina di luar sekolahnya di desa Urif di provinsi Nablus, Tepi Barat, menurut sumber-sumber lokal kemarin.

 

Sumber: Berbagai Sumber

 

Populasi Penduduk Palestina Makin Menyusut Sejak Tragedi Kemanusian Nakba 48

Populasi Penduduk Palestina Makin Menyusut Sejak Tragedi Kemanusian Nakba 48

INH News, GAZA – Tragedi Nakba merupakan malapetaka bagi rakyat Palestina. Pembersihan etnis (genosida) oleh penjajah Zionis Israel dengan mengusir lebih dari 800.000 warga Palestina yang menetap di desa dan kota asal tanah kelahiran mereka. 1,4 juta warga tersisa pada 1948, di mana jumlah tersebut menyebar di antara 1.300 desa dan beberapa kota Palestina lainnya.

 

Ribuan warga Palestina terpaksa mengungsi ke sejumlah negara tetangga Arab selain Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dua Wilayah, Jalur Gaza dan Tepi Barat masih bertahan yang hingga saat ini penjajah, Zionist berusaha untuk merampas dan lakukan kekejaman di dalamnya.

Angka populasi catatan Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS), Kepala PCBS, ‘Ala Awad melaporkan hal tersebut berdasarkan data historis tinjauan geografis, demografis dan ekonomi situasi rakyat Palestina sejak peringatan Nakba ke-74 yang kini jatuh pada tanggal 15 Mei.

Selama tragedi Nakba berlangsung, Zionist Israel berhasil kuasai 774 desa dan kota Palestina. 531 di antaranya dihancurkan dan dikuasai secara penuh, sedang warga Palestina yang berada di wilayah tersebut dipaksa tunduk di bawah hukum pemerintahan Israel.

Populasi Palestina pada tahun 1914 berjumlah sekitar 690.000 jiwa, 8% di antaranya Yahudi pribumi. Pada tahun 1948, populasi rakyat Palestina meningkat lebih dari 2 juta jiwa, 31,5% nya mulai disusupi para pemukim ilegal Yahudi yang berpindah dari negara asing. Sebelumnya tahun 1932 dan 1939, pemukim ilegal Yahudi mencapai 225 ribu jiwa. Sedangkan antara tahun 1940 dan 1947, lebih dari 93 ribu pemukim ilegal Yahudi telah menetap di Palestina.

Jadi, antara tahun 1932 dan 1947, ada sekitar 318.000 pemukim ilegal Yahudi. Kalkulasi keseluruhan antara tahun 1948 hingga 1975 yaitu lebih dari 540 ribu pemukim ilegal Yahudi telah menetap di Palestina.

Pada 1948 tragedi Nakba berlangsung, 800.000 lebih rakyat Palestina terusir dan terpaksa mengungsi. Sedangkan 200.000 jiwa mengungsi ke Yordania setelah perang Arab-“Israel” pada Juni 1967. Jumlah keseluruhan warga Palestina yang tersebar di berbagai dunia pada tahun 2021 kemarin adalah mencapai sekitar 14 juta jiwa. Hal ini menunjukkan dua kali lipat dari beberapa tahun sebelumnya  atau sekitar 10 kali lipat sejak peristiwa Nakba 1948.

Sekitar setengah dari warga (7 juta jiwa) berada di Palestina (1,7 juta di wilayah jajahan “Israel” pada tahun 1948), dan perkiraan populasi mencapai akhir 2021 di Tepi Barat termasuk Al-Quds menunjukkan 3,2 juta warga, 2,1 juta di Jalur Gaza. Berdasarkan laporan gubernur Al-Quds sendiri tercatat 477 ribu warga Palestina pada akhir tahun 2021. 65 % (sekitar 308 ribu jiwa) tinggal di wilayah Al-Quds yang secara paksa dicaplok oleh “Israel” setelah menjajah Tepi Barat pada tahun 1967.

Berdasarkan data ini, populasi penduduk Palestina menyisakan 49,9%. Sedangkan pemukim ilegal “Yahudi” mencapai 50,1% dari total populasi, yang secara jelas mengeksploitasi lebih dari 85% luas wilayah Palestina keseluruhan (dengan luas wilayah 27 ribu kilometer persegi).

Catatan United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA) menyebutkan jumlah pengungsi Palestina yang terdaftar pada Desember 2020 adalah sekitar 6,4 juta jiwa, 28,4% di antaranya tinggal di 58 kamp resmi UNRWA yang tersebar di beberapa negara Arab; diantaranya 10 di Yordania, 9 di Suriah, 12 di Lebanon, 19 di Tepi Barat dan 8 kamp di Jalur Gaza.

“Perkiraan ini mewakili jumlah minimum pengungsi Palestina dengan mempertimbangkan keberadaan pengungsi yang tidak terdaftar, karena beberapa tidak termasuk hitungan seperti warga Palestina yang mengungsi setelah tahun 1949 hingga menjelang perang Juni 1967. Juga tidak termasuk jumlah warga Palestina yang dideportasi pada tahun 1967 akibat dampak perang Arab-“Israel” yang pada awalnya disebut bukan sebagai pengungsi”. Menurut data yang dirilis UNRWA.

Sumber : https://gazamedia.net/berikut-statistik-peningkatan-populasi-penduduk-palestina-sejak-74-tahun-tragedi-nakba/

 

Presiden Palestina: Israel Dibalik Penembakan Jurnalis Al-Jazeerah

Presiden Palestina: Israel Dibalik Penembakan Jurnalis Al-Jazeerah

INH News, Ramallah – Buntuk penembakan seorang jurnalis Al-Jazeerah yang dilakukan oleh seorang penembak jitu Israel, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan pihak berwenang Israel “bertanggung jawab penuh” atas pembunuhan reporter veteran Al Jazeera selama bentrokan di Tepi Barat yang diduduki.  Ia pun menyerukan penyelidikan internasional atas peristiwa tersebut.

Shireen Abu Akleh menderita luka tembak di kepala saat melakukan tugas peliputan di Jenin pada hari Rabu kemarin. Stasiun televisi Al Jazeera dan Qatar, tempat jaringan berita itu bermarkas, menuduh pasukan Israel melakukan pembunuhan tersebut. Israel, yang telah menyuarakan penyesalan atas kematian Abu Akleh, mengatakan sedang menyelidiki pembunuhan itu dan tembakan fatal itu mungkin dilakukan oleh seorang pria bersenjata Palestina. Negara Zionis ini telah mengusulkan penyelidikan bersama dengan Palestina, meminta mereka untuk memberikan peluru untuk pemeriksaan.

“Kami menolak penyelidikan bersama dengan otoritas pendudukan Israel karena mereka melakukan kejahatan dan karena kami tidak mempercayai mereka,” kata Abbas dalam upacara peringatan resmi untuk Abu Akleh, yang berkebangsaan Palestina-Amerika seperti dikutip dari Al Arabiya, Kamis (12/5/2022).

Dia menambahkan bahwa Otoritas Palestina akan segera pergi ke Pengadilan Kriminal Internasional untuk melacak para penjahat.

Al Jazeera mengatakan Abu Akleh (51) mengenakan rompi biru bertanda jelas “PERS” saat melaporkan bentrokan di Jenin. Dia meliput operasi penangkapan terbaru yang diluncurkan oleh militer Israel di tengah serangan mematikan Arab di Israel. Wartawan Palestina lainnya di tempat kejadian, Ali Samoodi, juga terluka.

Jenazah Shireen Abu Akleh dibawa dalam iring-iringan mobil dari sebuah rumah sakit di kota pusat Palestina Ramallah menuju kompleks kepresidenan Mahmoud Abbas. Ratusan pelayat berbaris di kedua sisi jalan, beberapa dari mereka melemparkan bunga. Kematian itu mengundang kecaman internasional dan Arab, termasuk dari Gedung Putih, yang menuntut “penyelidikan komprehensif.”

 

Sumber : Al Arabiya

 

Peringati Nakba, Dubes Palestin Ajak Dunia Internasional Adili Israel untuk Bertanggung Jawab

Peringati Nakba, Dubes Palestin Ajak Dunia Internasional Adili Israel untuk Bertanggung Jawab

INH News, Jakarta – Mewakili bangsa Palestina, Duta Besar Palestina di Indonesia, Zuhair Al-Shun memohon kepada pemerintah Indonesia dan para pendukung Palestina merdeka di negara ini untuk ikut terjun secara aktif dalam mekanisme hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional untuk menunjuk Israel bertanggung jawab atas pelanggaran yang terus berlanjut terhadap warga Palestina.

“Warga internasional harus mengambil langkah serius menghentikan pelanggaran kemanusiaan dan kejahatan perang yang dilakukan Israel,” kata Zuhair dalam peringatan Nakba di kantor Kedubes Palestina di Jalan Ki Mangunsarkoro, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2022).

Menurutnya, setiap tahun tepatnya pada tanggal 15 Mei, warga Palestina memperingati peristiwa Nakba yakni bencana kemanusian yang masih berlanjut sejak 1945. Nakba merupakan akar peristiwa yang kita saksikan hingga hari ini di Palestina.

“Disebut akar, karena kita masih merasakannya hingga hari ini, Nakba berarti pengusiran dan pembersihan etnis warga kami, kota kami, kampung-kampung kami oleh kelompok ektremis pemukim Yahudi.” jelas Zuhair.

Akibat peristiwa itu, Zuhair menjelaskan Palestina kehilangan tempat tinggal dan tidak diperbolehkan kembali ke tanah mereka. Nakba bukan peristiwa di masa lalu, namun merupakan peristiwa yang masih terjadi hingga saat ini. Bagi Israel, mengambil 78 persen tanah Palestina secara paksa tidak cukup. Pencurian lahan, pengusiran dan penindasan tidak pernah berhenti satu hari pun.

“Proyek penjajahan pemukim Israel di Palestina selalu dimaksudkan untuk mengusir Palestina dari rumah dan tanah mereka. Dan selalu berusaha menggantinya dengan pemukim Zionis. Peristiwa penindasan yang terjadi akhir-akhir ini di Palestina bisa dilihat dari konteks ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, sambung Zuhair semua organisasi kemanusiaan mainstream sepakat bahwa pihaknya sedang mengalami apartheid di Palestina dan kejahatan yang dilakukan terhadap warga Palestina adalah kejahatan perang. Penyerangan yang belum pernah terjadi terhadap Masjid Al Aqsa sebelumnya pada bulan Ramadhan.

Selain itu, saat warga Palestina orthodox merayakan hari Paskah, ada upaya yang disengaja oleh penjajah untuk menyulut kemarahan warga Palestina lebih jauh. Juga, berita yang mengejutkan seluruh warga Palestina baru-baru ini, saat Zionis melakukan pembunuhan dengan menembak jurnalis senior Shireen Abu Akleh yang tengah bertugas di Jenin, Tepi Barat.

“Sudah saatnya semua untuk mengakui, jika sebuah negara yang seluruh rakyatnya dibuat menjadi pengungsi dan dalam penjajahan asing, dikurung (blokade) sampai wilayahnya mengecil, dalam ancaman permanen dari kelompok pemukim bersenjata, seseorang tidak boleh berkata tidak memihak atau netral. (red)

 

Ancam Serang Gaza, Petinggi Israel Bingung dan Takut Kalah

Ancam Serang Gaza, Petinggi Israel Bingung dan Takut Kalah

INH News, Al-Quds – Saluran Ibrani 12 mengungkapkan bahwa kekacauan internal terjadi antara Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan salah seorang senior petinggi pasukan zionis mengenai rencana operasi militer di jalur Gaza, Palestina.

 

Dilansir dari gazamedia.net, saluran itu mengatakan bahwa Bennett bersikukuh bahwa pimpinan Hamas di Jalur Gaza, Yahya Sinwar harus menerima balasan karena orasi pergerakan dan perjuangannya berhasil bangkitkan semangat pejuang Palestina di segala lini. Sementara senior pasukan Zionist dan Shin Bet percaya bahwa peran Sinwar dalam operasi gerilya baru-baru ini dan Hamas di belakangnya adalah hal wajar dan tak perlu dikaitkan untuk menyerbu Jalur Gaza.

Selama sesi keamanan diperluas yang diadakan internal Israel, tentara Zionist dan Shin Bet menyatakan bahwa kepentingan Israel terletak pada melanjutkan kebijakan isolasi (penangkapan besar-besaran) anggota faksi pejuang Palestina.

Kepala Staf Angkatan Darat, Aviv Kohavi dan pimpinan Shin Bet, Ronen Bar menjelaskan bahwa Sinwar tidak mengarahkan gelombang operasi, dan dia tidak boleh digambarkan seperti itu, karena ia sudah menjalankan peran beri pengaruh besar kepada rakyat Palestina.

Di sisi lain, Naftali Bennett percaya bahwa operasi gerilya baru-baru ini tidak luput dari campur tangan faksi pejuang Gaza. Hal setimpal juga ditekankan oleh faksi bahwa Israel mesti bertanggung jawab atas peristiwa kekacauan di masjid Al-Aqsa beberapa bulan lalu.

Saluran Ibrani 12 turut melaporkan bahwa Bennett meminta pasukan Zionist dan Tim Intelijen Shin Bet untuk menyajikan opsi yang memungkinkan menjelang sesi pertemuan di Capitol Amerika mengenai pertimbangan menyerbu Jalur Gaza dan kemungkinan rencana penjajahan atas bangsa Palestina lainnya.

 

Sumber : https://gazamedia.net/hendak-serang-gaza-petinggi-israel-bingung-dan-takut-jatuh-di-lobang-yang-sama/