Demo Peringatan Nakba di Tebi Barat Ricuh, Puluhan Pemuda Palestina Terluka

Demo Peringatan Nakba di Tebi Barat Ricuh, Puluhan Pemuda Palestina Terluka

INH News, Tepi Barat – Pasukan Israel menyerang demonstran yang memperingati 74 tahun Nakba Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem. Aksi brutal tentara Israel melukai sejumlah pengunjuk rasa, menurut laporan Arab48 pada Minggu (15/5/2022) kemarin.

Menurut situs berita itu, pasukan pendudukan Israel menggerebek Universitas Al-Quds di Abu Dis Yerusalem Timur, menembakkan tabung gas yang membuat para mahasiswa menderita kesulitan bernapas dan mencari pengobatan.

Pasukan Israel juga menyerbu Universitas Teknik Palestina-Kadoorie di Tulkarm dan menembakkan gas air mata. Akibatnya, puluhan mahasiswa terluka.

Pasukan Israel juga menyerbu Al-Bireh, menembakkan peluru tajam ke arah warga Palestina yang memprotes kehadiran mereka.

Sekitar 17 warga Palestina terluka. Demonstrasi di kamp pengungsi Al-Aroub Hebron juga mendapat serangan dari pasukan Israel. Menurut kantor berita Wafa, seorang pemukim Israel dari permukiman ilegal Yitzhar, selatan Nablus, juga menculik seorang anak Palestina di luar sekolahnya di desa Urif di provinsi Nablus, Tepi Barat, menurut sumber-sumber lokal kemarin.

 

Sumber: Berbagai Sumber

 

Populasi Penduduk Palestina Makin Menyusut Sejak Tragedi Kemanusian Nakba 48

Populasi Penduduk Palestina Makin Menyusut Sejak Tragedi Kemanusian Nakba 48

INH News, GAZA – Tragedi Nakba merupakan malapetaka bagi rakyat Palestina. Pembersihan etnis (genosida) oleh penjajah Zionis Israel dengan mengusir lebih dari 800.000 warga Palestina yang menetap di desa dan kota asal tanah kelahiran mereka. 1,4 juta warga tersisa pada 1948, di mana jumlah tersebut menyebar di antara 1.300 desa dan beberapa kota Palestina lainnya.

 

Ribuan warga Palestina terpaksa mengungsi ke sejumlah negara tetangga Arab selain Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dua Wilayah, Jalur Gaza dan Tepi Barat masih bertahan yang hingga saat ini penjajah, Zionist berusaha untuk merampas dan lakukan kekejaman di dalamnya.

Angka populasi catatan Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS), Kepala PCBS, ‘Ala Awad melaporkan hal tersebut berdasarkan data historis tinjauan geografis, demografis dan ekonomi situasi rakyat Palestina sejak peringatan Nakba ke-74 yang kini jatuh pada tanggal 15 Mei.

Selama tragedi Nakba berlangsung, Zionist Israel berhasil kuasai 774 desa dan kota Palestina. 531 di antaranya dihancurkan dan dikuasai secara penuh, sedang warga Palestina yang berada di wilayah tersebut dipaksa tunduk di bawah hukum pemerintahan Israel.

Populasi Palestina pada tahun 1914 berjumlah sekitar 690.000 jiwa, 8% di antaranya Yahudi pribumi. Pada tahun 1948, populasi rakyat Palestina meningkat lebih dari 2 juta jiwa, 31,5% nya mulai disusupi para pemukim ilegal Yahudi yang berpindah dari negara asing. Sebelumnya tahun 1932 dan 1939, pemukim ilegal Yahudi mencapai 225 ribu jiwa. Sedangkan antara tahun 1940 dan 1947, lebih dari 93 ribu pemukim ilegal Yahudi telah menetap di Palestina.

Jadi, antara tahun 1932 dan 1947, ada sekitar 318.000 pemukim ilegal Yahudi. Kalkulasi keseluruhan antara tahun 1948 hingga 1975 yaitu lebih dari 540 ribu pemukim ilegal Yahudi telah menetap di Palestina.

Pada 1948 tragedi Nakba berlangsung, 800.000 lebih rakyat Palestina terusir dan terpaksa mengungsi. Sedangkan 200.000 jiwa mengungsi ke Yordania setelah perang Arab-“Israel” pada Juni 1967. Jumlah keseluruhan warga Palestina yang tersebar di berbagai dunia pada tahun 2021 kemarin adalah mencapai sekitar 14 juta jiwa. Hal ini menunjukkan dua kali lipat dari beberapa tahun sebelumnya  atau sekitar 10 kali lipat sejak peristiwa Nakba 1948.

Sekitar setengah dari warga (7 juta jiwa) berada di Palestina (1,7 juta di wilayah jajahan “Israel” pada tahun 1948), dan perkiraan populasi mencapai akhir 2021 di Tepi Barat termasuk Al-Quds menunjukkan 3,2 juta warga, 2,1 juta di Jalur Gaza. Berdasarkan laporan gubernur Al-Quds sendiri tercatat 477 ribu warga Palestina pada akhir tahun 2021. 65 % (sekitar 308 ribu jiwa) tinggal di wilayah Al-Quds yang secara paksa dicaplok oleh “Israel” setelah menjajah Tepi Barat pada tahun 1967.

Berdasarkan data ini, populasi penduduk Palestina menyisakan 49,9%. Sedangkan pemukim ilegal “Yahudi” mencapai 50,1% dari total populasi, yang secara jelas mengeksploitasi lebih dari 85% luas wilayah Palestina keseluruhan (dengan luas wilayah 27 ribu kilometer persegi).

Catatan United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA) menyebutkan jumlah pengungsi Palestina yang terdaftar pada Desember 2020 adalah sekitar 6,4 juta jiwa, 28,4% di antaranya tinggal di 58 kamp resmi UNRWA yang tersebar di beberapa negara Arab; diantaranya 10 di Yordania, 9 di Suriah, 12 di Lebanon, 19 di Tepi Barat dan 8 kamp di Jalur Gaza.

“Perkiraan ini mewakili jumlah minimum pengungsi Palestina dengan mempertimbangkan keberadaan pengungsi yang tidak terdaftar, karena beberapa tidak termasuk hitungan seperti warga Palestina yang mengungsi setelah tahun 1949 hingga menjelang perang Juni 1967. Juga tidak termasuk jumlah warga Palestina yang dideportasi pada tahun 1967 akibat dampak perang Arab-“Israel” yang pada awalnya disebut bukan sebagai pengungsi”. Menurut data yang dirilis UNRWA.

Sumber : https://gazamedia.net/berikut-statistik-peningkatan-populasi-penduduk-palestina-sejak-74-tahun-tragedi-nakba/

 

Presiden Palestina: Israel Dibalik Penembakan Jurnalis Al-Jazeerah

Presiden Palestina: Israel Dibalik Penembakan Jurnalis Al-Jazeerah

INH News, Ramallah – Buntuk penembakan seorang jurnalis Al-Jazeerah yang dilakukan oleh seorang penembak jitu Israel, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan pihak berwenang Israel “bertanggung jawab penuh” atas pembunuhan reporter veteran Al Jazeera selama bentrokan di Tepi Barat yang diduduki.  Ia pun menyerukan penyelidikan internasional atas peristiwa tersebut.

Shireen Abu Akleh menderita luka tembak di kepala saat melakukan tugas peliputan di Jenin pada hari Rabu kemarin. Stasiun televisi Al Jazeera dan Qatar, tempat jaringan berita itu bermarkas, menuduh pasukan Israel melakukan pembunuhan tersebut. Israel, yang telah menyuarakan penyesalan atas kematian Abu Akleh, mengatakan sedang menyelidiki pembunuhan itu dan tembakan fatal itu mungkin dilakukan oleh seorang pria bersenjata Palestina. Negara Zionis ini telah mengusulkan penyelidikan bersama dengan Palestina, meminta mereka untuk memberikan peluru untuk pemeriksaan.

“Kami menolak penyelidikan bersama dengan otoritas pendudukan Israel karena mereka melakukan kejahatan dan karena kami tidak mempercayai mereka,” kata Abbas dalam upacara peringatan resmi untuk Abu Akleh, yang berkebangsaan Palestina-Amerika seperti dikutip dari Al Arabiya, Kamis (12/5/2022).

Dia menambahkan bahwa Otoritas Palestina akan segera pergi ke Pengadilan Kriminal Internasional untuk melacak para penjahat.

Al Jazeera mengatakan Abu Akleh (51) mengenakan rompi biru bertanda jelas “PERS” saat melaporkan bentrokan di Jenin. Dia meliput operasi penangkapan terbaru yang diluncurkan oleh militer Israel di tengah serangan mematikan Arab di Israel. Wartawan Palestina lainnya di tempat kejadian, Ali Samoodi, juga terluka.

Jenazah Shireen Abu Akleh dibawa dalam iring-iringan mobil dari sebuah rumah sakit di kota pusat Palestina Ramallah menuju kompleks kepresidenan Mahmoud Abbas. Ratusan pelayat berbaris di kedua sisi jalan, beberapa dari mereka melemparkan bunga. Kematian itu mengundang kecaman internasional dan Arab, termasuk dari Gedung Putih, yang menuntut “penyelidikan komprehensif.”

 

Sumber : Al Arabiya

 

Peringati Nakba, Dubes Palestin Ajak Dunia Internasional Adili Israel untuk Bertanggung Jawab

Peringati Nakba, Dubes Palestin Ajak Dunia Internasional Adili Israel untuk Bertanggung Jawab

INH News, Jakarta – Mewakili bangsa Palestina, Duta Besar Palestina di Indonesia, Zuhair Al-Shun memohon kepada pemerintah Indonesia dan para pendukung Palestina merdeka di negara ini untuk ikut terjun secara aktif dalam mekanisme hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional untuk menunjuk Israel bertanggung jawab atas pelanggaran yang terus berlanjut terhadap warga Palestina.

“Warga internasional harus mengambil langkah serius menghentikan pelanggaran kemanusiaan dan kejahatan perang yang dilakukan Israel,” kata Zuhair dalam peringatan Nakba di kantor Kedubes Palestina di Jalan Ki Mangunsarkoro, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2022).

Menurutnya, setiap tahun tepatnya pada tanggal 15 Mei, warga Palestina memperingati peristiwa Nakba yakni bencana kemanusian yang masih berlanjut sejak 1945. Nakba merupakan akar peristiwa yang kita saksikan hingga hari ini di Palestina.

“Disebut akar, karena kita masih merasakannya hingga hari ini, Nakba berarti pengusiran dan pembersihan etnis warga kami, kota kami, kampung-kampung kami oleh kelompok ektremis pemukim Yahudi.” jelas Zuhair.

Akibat peristiwa itu, Zuhair menjelaskan Palestina kehilangan tempat tinggal dan tidak diperbolehkan kembali ke tanah mereka. Nakba bukan peristiwa di masa lalu, namun merupakan peristiwa yang masih terjadi hingga saat ini. Bagi Israel, mengambil 78 persen tanah Palestina secara paksa tidak cukup. Pencurian lahan, pengusiran dan penindasan tidak pernah berhenti satu hari pun.

“Proyek penjajahan pemukim Israel di Palestina selalu dimaksudkan untuk mengusir Palestina dari rumah dan tanah mereka. Dan selalu berusaha menggantinya dengan pemukim Zionis. Peristiwa penindasan yang terjadi akhir-akhir ini di Palestina bisa dilihat dari konteks ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, sambung Zuhair semua organisasi kemanusiaan mainstream sepakat bahwa pihaknya sedang mengalami apartheid di Palestina dan kejahatan yang dilakukan terhadap warga Palestina adalah kejahatan perang. Penyerangan yang belum pernah terjadi terhadap Masjid Al Aqsa sebelumnya pada bulan Ramadhan.

Selain itu, saat warga Palestina orthodox merayakan hari Paskah, ada upaya yang disengaja oleh penjajah untuk menyulut kemarahan warga Palestina lebih jauh. Juga, berita yang mengejutkan seluruh warga Palestina baru-baru ini, saat Zionis melakukan pembunuhan dengan menembak jurnalis senior Shireen Abu Akleh yang tengah bertugas di Jenin, Tepi Barat.

“Sudah saatnya semua untuk mengakui, jika sebuah negara yang seluruh rakyatnya dibuat menjadi pengungsi dan dalam penjajahan asing, dikurung (blokade) sampai wilayahnya mengecil, dalam ancaman permanen dari kelompok pemukim bersenjata, seseorang tidak boleh berkata tidak memihak atau netral. (red)

 

Ancam Serang Gaza, Petinggi Israel Bingung dan Takut Kalah

Ancam Serang Gaza, Petinggi Israel Bingung dan Takut Kalah

INH News, Al-Quds – Saluran Ibrani 12 mengungkapkan bahwa kekacauan internal terjadi antara Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan salah seorang senior petinggi pasukan zionis mengenai rencana operasi militer di jalur Gaza, Palestina.

 

Dilansir dari gazamedia.net, saluran itu mengatakan bahwa Bennett bersikukuh bahwa pimpinan Hamas di Jalur Gaza, Yahya Sinwar harus menerima balasan karena orasi pergerakan dan perjuangannya berhasil bangkitkan semangat pejuang Palestina di segala lini. Sementara senior pasukan Zionist dan Shin Bet percaya bahwa peran Sinwar dalam operasi gerilya baru-baru ini dan Hamas di belakangnya adalah hal wajar dan tak perlu dikaitkan untuk menyerbu Jalur Gaza.

Selama sesi keamanan diperluas yang diadakan internal Israel, tentara Zionist dan Shin Bet menyatakan bahwa kepentingan Israel terletak pada melanjutkan kebijakan isolasi (penangkapan besar-besaran) anggota faksi pejuang Palestina.

Kepala Staf Angkatan Darat, Aviv Kohavi dan pimpinan Shin Bet, Ronen Bar menjelaskan bahwa Sinwar tidak mengarahkan gelombang operasi, dan dia tidak boleh digambarkan seperti itu, karena ia sudah menjalankan peran beri pengaruh besar kepada rakyat Palestina.

Di sisi lain, Naftali Bennett percaya bahwa operasi gerilya baru-baru ini tidak luput dari campur tangan faksi pejuang Gaza. Hal setimpal juga ditekankan oleh faksi bahwa Israel mesti bertanggung jawab atas peristiwa kekacauan di masjid Al-Aqsa beberapa bulan lalu.

Saluran Ibrani 12 turut melaporkan bahwa Bennett meminta pasukan Zionist dan Tim Intelijen Shin Bet untuk menyajikan opsi yang memungkinkan menjelang sesi pertemuan di Capitol Amerika mengenai pertimbangan menyerbu Jalur Gaza dan kemungkinan rencana penjajahan atas bangsa Palestina lainnya.

 

Sumber : https://gazamedia.net/hendak-serang-gaza-petinggi-israel-bingung-dan-takut-jatuh-di-lobang-yang-sama/

Larang Kumandangkan Adzan, Kementrian Wakaf Palestina: Israel Nodai Masjid Al-Aqsha dan Masjid Ibrahimi

Larang Kumandangkan Adzan, Kementrian Wakaf Palestina: Israel Nodai Masjid Al-Aqsha dan Masjid Ibrahimi

News INH, Al-Quds – Kementrian bidang Wakaf Palestina, Syeikh Hatem Al-Bakri mencatat sepanjang bulan April 2022 pihak otoritas Israel telah menodai kesucian Masjid Al-Aqsha sebanyak 21 kali dan mencegah adzan di Masjid Ibrahimi sebanyak 52 kali. Tindakan mereka sengaja dilakukan sebagai bentuk provokatif dan melecehkan 2 tempat suci umat Islam tersebut.

“Selama perayaan “Paskah Ibrani”, pemerintah Israel mengerahkan semua upaya intimidasi terhadap jamaah muslim yang tengah beribadah, tindakan brutal dan penangkapan kerap dilakukan untuk memudahkan praktik ritual pemukim ilegal Yahudi yang menyerbu masuk masjid.”  kata Al-Bakri seperti dilansir dari gazamedia.net

Sejak Al-Quds dijajah pada 1967, secara aktif dan sistematis gerakan zionist kendalikan tempat ibadah bagi umat Islam dan Kristen, terutama Masjid Al-Aqsha dan Gereja Makam Suci (Al-Qiyamah) serta beberapa masjid lainnya, dengan dalih keamanan, kebijakan politik dan mengambil kesempatan dengan mengosongkannya dari warga Palestina diganti dengan pemukim ilegal Yahudi yang secara jelas melanggar wujud toleransi antar umat beragama.

Al-Bakri menekankan perlunya perhatian serius atas pelanggaran di Masjid Al-Aqsha yang dilakukan Israel. Tujuan mereka tampak jelas untuk bisa mengendalikan sepenuhnya kepemilikan kiblat suci pertama Umat Islam dunia di bawah kendali mereka.

Pihaknya menambahkan, dengan semangat pengorbanan di bulan Ramadhan penuh berkah, warga Al-Quds berhasil pukul mundur pasukan penjajah dan para pemukim ilegalnya dengan pergerakan yang semakin kuat belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kerusakan di Masjid Al-Aqsha cukup parah. Terutama Musolah Al-Qibli yang menjadi target serangan bertubi-tubi oleh pasukan Zionist dengan menembakkan tabung gas air mata, dan merusak jendela serta kabel speaker yang putus selama konfrontasi” jelasnya.

Selain itu, pasukan penjajah juga persekusi para wanita, lansia dan anak-anak Palestina yang tengah berjaga di sekitar Kubah Sakhrah dan Al-Udayy dengan memukul brutal dan menangkap mereka. Juga menembakkan peluru karet dari atap ruang sholat teror jamaah masjid yang terperangkap di dalamnya.

Pasukan Zionist Israel juga halangi pekerjaan petugas medis dan pers di halaman masjid dengan menembakkan gas beracun atau semprotan merica ke arah mereka.

Laporan kementrian juga menunjukkan, bulan lalu kelompok ekstremis Yahudi semakin gencar serukan tindakan provokatif di Masjid Al-Aqsa dengan lakukan ritual kurban di hari paskah.

Berkenaan dengan pelanggaran Masjid Ibrahimi selama sebulan terakhir pelarangan adzan terjadi sebanyak 52 kali, dan ratusan pemukim ilegal Yahudi menyerbu Masjid Ibrahimi menodainya dengan ritual Talmud sambut  perayaan Paskah umat nasrani. Pasukan zionis juga memperketat pos pemeriksaan di sekitar Masjid Ibrahimi dan menutupnya selama dua hari.

Laporan tersebut mendokumentasikan pelanggaran juga terjadi selama perayaan denominasi Kristen pada “Sabtu Terang” di Kota Tua Al-Quds, ibu kota abadi Negara Palestina yang pendudukannya berubah menjadi pejuang sejati.

Pasukan penjajah memberlakukan pembatasan jumlah orang yang memasuki Gereja Makam Suci di Al-Quds untuk berpartisipasi dalam perayaan hingga warga Nasrani-pun turut diserang dengan senjata mereka.

Sementara itu hal yang semakin mengkhawatirkan adalah lanjutan pembongkaran halaman Masjid Ibrahimi menggunakan buldoser diganti rumah peristirahatan Kotamadya Hebron pemukim ilegal Yahudi. Para pemukim ilegal juga memasang tirai di atas taman Masjid Ibrahimi di sebelah rumah peristirahatan untuk menutupi serangan warga Palestina yang terjadi di daerah tersebut.

 

Sumber : https://gazamedia.net/kementrian-wakaf-palestina-israel-nodai-masjid-al-aqsha-sebanyak-21-kali-larang-adzan-di-masjid-ibrahimi-52-kali/

Jurnalis Al-Jazeerah Tewas Ditembak Sniper Zionis Israel di Jenin

Jurnalis Al-Jazeerah Tewas Ditembak Sniper Zionis Israel di Jenin

INH News, Tepi Barat – Seorang jurnalis perempuan Palestina, Shireen Abu Aqleh sekaligus wartawan Al-Jazeera ditembak mati oleh tentara zionis Israel saat melakukan tugas peliputan penyerbuan kamp pengungsi di distrik Jenin di Tepi Barat, Rabu (11/5/2022) pagi waktu setempat.

Dilansir dari gazamedia.net, Kemenkes Palestina mengumumkan Aqleh telah tiba di rumah sakit dengan luka tembakan di kepala yang serius. Sementara jurnalis lainnya, Ali Al-Samoudi juga mengalami luka dengan kondisi sedang.

Pihak, Al-Jazeera mengkonfirmasi bahwa reporternya saat melakukan pekerjaanya sudah sesuai Standar Oprasional atau SOP yakni dengan mengenakan rompi bertulisakan “PERS” kemudian alat pelindung saat meliput, namun pasukan Zionist Israel sengaja mengeksekusinya.

Sementara itu, direktur kantor Al-Jazeera Palestina, Walid Al-Omari mengatakan Shireen menjadi syahidah setelah ditembak oleh seorang sniper pasukan Israel saat meliput peristiwa di Jenin.

Atas pembunuhan tersebut, sejumlah media berita Palestina serukan masyarakat internasional mengambil tindakan tegas dalam menghentikan kejahatan zionis Israel yang jelas melanggar jaminan perlindungan pers berdasarkan pasal 79 protokol tambahan I Konvensi Jenewa 1949, di mana seorang wartawan yang sedang menjalankan profesinya di medan pertempuran harus dianggap sebagai orang sipil (civilian) dan wajib dilindungi.

 

Sember : https://gazamedia.net/pasukan-zionist-bunuh-seorang-jurnalis-perempuan-al-jazeera-di-jenin/